Pria itu untuk sementara berhenti merengek, dia sepertinya sedang mencoba untuk menyadari sifat egois yang telah menjadi pembunuh bagi kelangsungan hubungan kami dahulu. Dia jelas masih pria yang penuh dengan seluruh ambisi yang tidak pernah aku mengerti. Justru dengan sikapnya yang sekarang aku semakin jengah. Kenapa pula dia tidak berhenti untuk mengejarku? “Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kalinya? Kurasa setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi,” pinta pria itu. caranya memohon memang tulus, aku bisa merasakan dan melihat bahwa ini kali pertama bagiku untuk melihat sosok Rein yang mengiba padaku seperti ini. “Mari kita bicara lagi bila kau sudah tidak dalam kondisi mabuk,” kataku mendorong tubuhnya menjauh. Kurasa aku sudah sangat baik memperlakukannya. Kenapa pula dia ti

