“Kurasa kau bukan tipikal orang yang percaya bahwa cinta itu membutuhkan korban. Bukan begitu Mike?” Angin menyapu helaian rambut Zofia, helaian miliknya yang lumayan panjang tersapu oleh angin seiring matanya bergulir kearah samping dimana eksistensi pria yang berdiri disisinya berada. Tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap langit. Tanpa adanya gerak lebih. “Mungkin saja,” dia menjawab setengah berbisik. Jika saja bukan Mike, tentu Zofia tidak akan sadar akan jawaban yang dia terima dari pria itu. “Kalau kau percaya hal itu, apa yang akan kau korbankan kalau begitu,” “Diriku sendiri, kau?” Iris kelam pria itu menatap langit. Mungkin proses dari sebuah penyebuhan tidak pernah berakhir dalam sekejap. Malah mungkin panjang sekali. Zofia memahami itu, bahkan sejak kali pertama dia me

