“Seandainya aku bisa hidup lima kali,” Arlert mendongak, ponsel yang menjadi pusat atensinya terabaikan barang sejenak. Duduk dihadapannya, Gabi menatap tanpa fokus kearah langit diluar jendela. Warna lembayung kala sore perlahan turun menutup langit. Siang ini, perempuan itu tanpa sebuah undangan maupun ajakan datang mengetuk pintu rumahnya. Masih lengkap dengan pakaian rapi khas seseorang yang berkabung. Arlert tidak bertanya ada apa, sebab tanpa bertanya pun dia memiliki intuisi yang dapat menebak kenapa yang ingin dia tanyakan. Pasti perempuan ini menemukan sesuatu setelah bertamu kekediaman keluarga besar Erwin untuk menghadiri acara duka. Arlert menyadari bahwa walaupun Gabi ada disini. dihadapannya sekarang, bersamanya sekarang. Namun pikiran perempuan itu sama sekali tidak berada

