Rein berdiri didepannya. Pakaian serba hitam yang dia kenakan sepertinya cukup mendeskripsikan atas dasar apa pria itu mengetuk pintunya dipagi hari. Matanya sempat melirik kearah Zeke sebelum bibirnya berucap secara lisan untuk mengutarakan dan memberikan sebuah kejelasan pasti. “Aku kemari sebagai perwakilan dari keluarga kita untuk memberi kabar duka. Kakek telah meninggal tadi sebelum fajar. Ayah memintaku untuk memberitahumu soal ini,” meskipun itu adalah sebuah kabar duka, tapi Erwin tidak dapat sekalipun mendengar adanya kesuraman, atau barangkali sedikit saja rasa sedih yang kentara. Tidak ada sama sekali. Mungkin saja adiknya itu memang menantikan kematian sang Kakek sejak dahulu. Sehingga ini mungkin menjadi momentum yang harus dia buat sebagai perayaan. Ya, barangkali. “Buka

