"Selama bertahun-tahun kamu tidak bertemu Suci, tapi kenapa orang yang saat ini sangat dirindukannya, itu kamu?" Malik terdiam selama beberapa saat. "Kamu lihat gunung itu?" tunjuknya. "Kenapa?" tanyaku tak acuh. "Kenapa bisa pohon-pohon itu tumbuh dengan subur di sana?" "Tentu saja karena tanahnya subur." "Ya, kamu benar. Karena tanahnya yang subur. Tidak pohon yang bisa tumbuh dengan daun-daun dan buah lebat di atas tanah tandus. Begitu juga dengan seorang perempuan, Adam." Aku menoleh ke arahnya. Sudah dua kali dia menyebut namaku, tanpa embel-embel apa pun. Ck. "Tidak ada bidadari yang hidup di neraka," sambungnya. "Maksudmu?" Malik menoleh. "Ciptakan surga, untuk Suci. Jika kamu benar-benar ingin dia kembali." Aku mengerjapkan kedua mata. Surga? "Ingat perkataanku, jodoh ad

