"Beneran Om Satia cuma salah paham sama Ayah?" Salwa bertanya, masih dengan mata dan tangan yang sibuk menulis di atas buku. "Iya, cuma salah paham aja. Om Satria bilang menyesal udah pukul Ayah. Jadi, kamu jangan marah lagi sama Om Satria, ya? Mau maafin enggak?" "Iya, deh, iya. Sawa maafin Om Satia demi Ayah." Karuan saja aku tertawa mendengarnya. "Kalau gitu terima hadiahnya, ya?" Aku ambil paper bag di samping sofa, lalu menyimpannya di atas meja. "Iya, Sawa terima. Tapi kalau Om Satia ajak Sawa ke rumah Opa lagi, Sawa tetep enggak mau," ucapnya, dengan kepala yang menoleh ke arahku. Aku tersenyum kecil. "Belum mau ketemu Bunda, ya?" "Iya." Dia memalingkan lagi wajah. Aku pun menyandarkan punggung pada sandaran sofa. "Salwa, Ayah mau tanya sama kamu. Mau jawab enggak?" tanyak

