Bab 41. Dia istriku?

1809 Kata

Aku melonggarkan dasi yang terbelit di kerah kemeja, lalu menjatuhkan diri di atas peraduan. Mengembuskan napas, melepaskan semua rasa penat di raga ini. "Ayah." "Ya." Pintu kamar terbuka, Salwa masuk membawa segelas air. "Ini, minum dulu Ayah. Ayah pasti haus. Maaf, cuma air putih. Sawa enggak bisa buatin kopi atau teh." Aku tersenyum, menerima gelas dari tangan kecil itu. "Enggak apa. Terima kasih minumnya," ujarku, lalu meneguk sampai habis isi di dalamnya. "Ayah pasti cape. Sini, Sawa pijatin." Kali ini Salwa naik ke atas kasur, lalu berdiri di belakangku. Kedua tangan mungilnya bergerak di atas pundakku. Bukannya merasa lebih baik, aku malah merasakan geli di sana. "Aduh, udah. Udah, cukup," ujarku menahan tawa. "Ih, Ayah. Tiara juga suka pijit Papanya. Papanya mau aja," prote

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN