Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dan aku masih berada di depan teras rumah. Sendirian, hanya ditemani segelas cappucinno yang sudah terasa dingin. Bukan tanpa alasan aku masih duduk di sini selama hampir tiga jam. Ini aku lakukan demi menunggu Malik yang tak kunjung pulang dari pondok. Tadi dia bilang akan menemuiku selepas salat Isya berjamaah di masjid, tapi sampai sekarang sosoknya tak jua muncul. Ckckck. Jadi, bisa kusimpulkan sekarang, lelaki macam apa Malik itu. Ternyata tidak lebih dari seorang pengecut. "Mas Adam, masih di luar?" Aku mengalihkan pandangan dari ponsel. "Iya, Pak," sahutku. Ternyata malah Pak Maulana yang datang. "Ini sudah hampir tengah malam. Mas Adam belum mengantuk?" Pak Maulana masih berdiri di tepian jalan. "Belum," sahutku pendek. Lalu kuraih

