Bab 5. Karena Tasbih

1441 Kata
Tasbih? Kenapa harus tasbih? Dari sekian banyak barangnya di rumah ini. Kenapa ... hanya sebuah tasbih? Bahkan ketika Salwa memperlihatkan pigura berisi foto pernikahanku dengannya, atau foto Suci bersama Salwa ketika masih bayi. Perempuan itu tetap menampakkan raut tak percaya. Seolah dia meragukannya kebenaran dari potret masa lalunya itu. Akan tetapi, ketika dia mengambil tasbih yang dicarinya, detik itu juga dia langsung percaya. Ada apa dengan tasbih batu itu? "Ayah, Ayah.". Aku menoleh malas. "Apa?" "PR-nya susah," rajuknya, memberikan buku di tangannya padaku. "Kamu enggak lihat Ayah juga lagi sibuk," tukasku seraya memperlihatkan beberapa kertas di tangan. "Bunda kalau lagi sibuk cuci baju atau piring, atau lagi masak. Pasti berhenti dulu buat bantuin Sawa," dalihnya panjang lebar. "Bunda lagi, Bunda lagi." Akhirnya mau tak mau aku mengambil buku itu. Aku menerangkan pada Salwa cara mengerjakan PR pengurangannya itu. Hingga akhirnya anak itu tersenyum dan mengerti. "Wah, bener kata Bunda. Ayah emang pintar." Salwa mengambil lagi bukunya, lalu mulai mengerjakan soal. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Kemudian kembali memeriksa berkas di tangan. Inginnya lebih fokus pada lembaran kertas berisi proposal kerja sama itu. Nyatanya, pikiran ini tetap saja melayang-layang entah ke mana. Tasbih? Tasbih? Tasbih? Tunggu. Kenapa dia bisa ingat tasbih itu? Dia melupakan aku dan Salwa, tapi bisa mengingat tasbih kesayangannya. Dia ingat Abi, Ami, Satria bahkan Bi Marni dengan baik. Karena mereka orang-orang yang dikenalnya sebelum menikah denganku. Lalu, tasbih itu. Apa mungkin dia memiliki tasbih itu sebelum menikah denganku? Aku mencoba mengingat, sejak kapan dia memiliki tasbih itu. Kalau tidak salah, di pagi pertama setelah pernikahan kami, dia sudah memiliki tasbih itu. Ah, aku lupa. Aku bahkan tidak pernah bertanya tentang benda itu. "Hore, selesai!" Salwa berteriak kegirangan. "Enggak usah teriak-teriak," tegurku kesal "Maaf, Ayah." Salwa merundukkan kepala. Lalu dia memasukkan buku dan tempat pensilnya ke dalam tas. "Salwa," panggilku ragu. "Iya, Ayah." Dia menoleh dengan sorot polos dan lugunya seperti biasa. "Tadi ... Bunda enggak bilang apa-apa soal ... tasbih itu?" tanyaku, meski sebenarnya ragu dengan jawaban anak itu nantinya. "Enggak. Bunda cuma bilang mau bawa itu, soalnya dia suka pakai kalau habis solat," terang Salwa. "Kamu enggak pernah dengar Bunda bilang apa gitu, tentang tasbih itu?" Salwa yang hendak melangkah, terdiam seketika. "Salwa cuma pernah lihat, Bunda cari-cari tasbih itu. Eh, ternyata ada di kolong meja, di kamar Ayah sama Bunda," tuturnya kemudian. "Duduk lagi," pintaku sambil menepuk ruang kosong di sampingku, yang sempat dia duduki tadi. Alhasil, Salwa yang hendak meninggalkan ruang keluarga pun duduk kembali. Dia menatapku dengan sorot datar, tanpa ekspresi sedikit pun. "Kapan, Bunda cari-cari tasbih itu?" tanyaku lagi. "Mm, sebelum Bunda masuk rumah sakit." "Sebelum masuk rumah sakit?" "Iya." Salwa menganggukkan kepala. "Dia ngomong sesuatu. Apa aja gitu? Masa dia enggak bilang apa-apa pas dia cari-cari itu." Entah kenapa aku mulai merasa kesal. Sepertinya aku memang tidak cocok berbicara dengan anak kecil. Salwa terdiam lagi, seperti memikirkan sesuatu. "Sore itu ... Sawa denger ... Bunda nangis. Sambil pegang tasbihnya," tuturnya. Aku menautkan kedua alis. "Nangis?" "Iya. Sawa ikut sedih, lihat Bunda nangis. Sawa tanya kenapa, Bunda bilang enggak apa-apa. Tapi dia nangis lagi sambil pegang tasbih itu. Aneh." "Bunda enggak pernah bilang, tasbih itu dia dapat dari mana?" Salwa menggelengkan kepala. "Salwa mau ke kamar, simpan tas dulu." "Mm," sahutku dengan gerakan kepala. Anak itu beranjak kembali, melangkah meninggalkan sofa ruang tamu. Aku berdecak kesal. Hanya karena tasbih itu, aku bisa sepusing ini. "Ayah!" Aku yang sudah mulai membaca berkas kembali, menoleh segera. "Bisa enggak kalau manggil itu biasa aja, enggak usah teriak-teriak?" "Sawa inget, Yah." Dia malah mengatakan itu padaku. "Ingat apa?" "Sawa pernah tanya, itu tasbih dari apa. Soalnya batunya itu bagus banget, walau pun hitam tapi licin dan berkilau," terangnya. "Ya, terus kenapa?" "Sawa tanya bulatannya itu dari apa? Bunda bilang ini dari batu. Sawa tanya lagi dari batu apa, biar nanti Sawa buatin juga tasbih seperti itu dari batu, tapi Bunda bilang enggak tau." "Enggak usah panjang lebar, Sawa," selaku. "Ayah harus dengerin cerita Sawa dulu biar semua jelas," kilahnya. "Nah, Sawa pegang batu itu, emang bagus, Yah." Aku mendengkus sebal. "Sawa tanya, Bunda beli di mana tasbih ini? Terus Bunda bilang enggak tau juga, soalnya itu tasbih pemberian seseorang." "Siapa?" "Sawa pikir itu dari Ayah. Bunda bilangnya itu dikasih sama orang yang sayang sama Bunda." Lalu anak itu terdiam. "Emang, Ayah beli tasbih itu dari mana, Yah? Sawa juga mau, Yah." "Iya, nanti kalau kamu udah besar. Udah, sana. Simpen tas di kamar, habis itu mandi." "Iya, Ayah." Kali ini anak itu berjalan sembari melompat-lompat kecil menuju arah anak tangga. Pemberian seseorang? Orang yang sayang padanya? Apa jangan-jangan ... Malik? . "Kok, nasinya gini?" Salwa terlihat tidak suka pada makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya. "Makan aja," perintahku. "Tapi enggak enak, Ayah. Ini kayak belum matang." "Ayah enggak bisa masak nasi," dalihku. "Telur ceploknya juga gosong," lanjutnya. "Cari aja bagian yang bisa dimakan," ujarku kesal. "Kalau gitu, kita makan di rumah Oma sama Opa aja," sarannya. "Enggak. Ayah belum mau ketemu Bunda kamu," tolakku. Salwa merundukkan kepala, memainkan nasi-nasi yang memang belum masak secara sempurna itu dengan sendoknya. "Ke rumah Nenek aja, ya?" ajakku. Salwa pun mengangguk disertasi senyum. Akhirnya aku membawa Salwa ke rumah Ibu, demi mendapat makan malam. "Masakan Ayah enggak enak, Nek. Nasinya masih mentah, telur ceploknya gosong. Beda sama masakan Bunda," keluh Salwa setelah berhasil menghabiskan sepiring nasi beserta sayur sop dan sepotong ayam goreng. "Kalau gitu, kamu tinggal di sini aja sama Nenek, ya. Nanti Nenek yang anterin kamu ke sekolah. Gimana?" tawar Ibu. Salwa menggelengkan kepala. "Sawa mau sama Ayah aja. Sawa enggak mau Ayah sendirian di rumah." "Katanya masakannya enggak enak?" seloroh Ibu. "Mm, enggak apa. Makan roti atau mie rebus aja seperti kemarin-kemarin, Sawa enggak bakal minta nasi sama telur ceplok lagi sama Ayah." Ibu tertawa sambil mengusap puncak kepala Salwa. "Kamu pasti sayang banget sama Ayah." "Sayang, walau pun suka ...." "Kenapa?" Salwa meringis. "Ayah di mana?" "Udah beres makannya, Salwa?" Aku berjalan memasuki dapur. "Nah, tuh Ayah." Ibu menoleh ke arahku. "Ayo, pulang, Yah. Besok pagi Sawa makan roti lagi enggak apa. Kita beli rotinya sekarang." Salwa yang turun dari kursi dengan cepat menghampiriku. "Iya, kita pulang," tandasku. Di perjalanan menuju rumah, Salwa duduk dengan manis. Sesekali melihat ke arah luar jendela, lalu bernyanyi-nyanyi atau bersenandung lirih. "Salwa," panggilku. "Iya, Ayah." "Kamu ... sayang sama Bunda?" "Sayang." "Kalau sama Ayah?" "Sayang juga." "Walau pun suka marah-marah dan galak sama kamu?" "Bunda bilang itu karena Ayah lagi kecapean, jadi Ayah suka kesel." Aku tersenyum sembari menggelengkan kepala. Merasa lucu dengan asumsi yang diberikan Suci pada Salwa. *** Hari-hari aku lalui kembali, berdua bersama Salwa tentunya. Membantunya bersiap ke sekolah, sarapan bersama walau hanya dengan roti lapis selai dan segelas s**u, lalu mengantarkannya ke sekolah. Terkadang jemu, dengan semua rutinitas ini. Bukan apa-apa. Entah kenapa aku merasakan, aku kini sedang menjadi orang tua tunggal untuk Salwa. "Ayah!" Anak itu berlari, ketika aku turun dari mobil. Ya, aku juga harus menjemputnya ke sekolah, lalu mengantarkannya ke rumah Ibu. Sore nanti baru aku membawa dia pulang ke rumah. Aku melambaikan tangan sebagai pertanda aku melihatnya. "Ayah, assalamualaikum." Salwa mencium punggung tanganku. "Waalaikumsalam. Main di rumah Nenek lagi, ya." "Iya, Ayah." "Pak Adam, tunggu sebentar!" Aku yang baru menutup pintu untuk Salwa, menoleh ke arah sumber suara. Seorang perempuan berjalan menghampiriku. "Maaf, mengganggu waktunya sebentar Pak Adam." Perempuan berjilbab hijau itu mengangguk ramah. "Ibu guru-nya Salwa?" tukasku. "Iya. Saya Rima, wali kelasnya Salwa." Seulas senyum tipis dia berikan. "Ini, ada undangan rapat orang tua." Aku menerima kertas undangan dari tangannya. "Dalam rangka menjelang kelulusan, kami pihak sekolah ingin mengadakan pertemuan dengan para orang tua. Sebenarnya tadi saya sudah titipkan undangan ini pada Salwa, tapi dia menolak." "Menolak?" tanyaku heran. "Iya. Dia bilang, dia tidak mau memberikan undangan ini pada Bunda-nya, karena biasanya Ibu Suci yang hadir dalam acara rapat atau pengambilan raport." "Ah, iya. Istri saya ... sedang sakit," terangku. "Tidak apa, biar saya yang hadir di acara rapat nanti." "Baik lah kalau begitu. Terima kasih atas respon positifnya." "Ya, sama-sama." Aku pun masuk ke dalam mobil. "Maafin Salwa," ujar anak itu ketika aku baru saja duduk. "Kenapa memang?" tanyaku heran. "Salwa ... enggak mau ketemu Bunda, jadi Salwa enggak mau undangan itu." Aku menghela napas, lalu mengembuskannya. "Enggak apa. Nanti Ayah coba ketemu Bunda." Aku pun melajukan mobil menuju rumah Ibu. Sepanjang perjalanan aku berpikir, apa mungkin undangan ini bisa menjadi alasan untuk aku bertemu Suci. Sudah seminggu berlalu, sejak dia datang ke rumah untuk mengambil tasbih kesayangannya itu. Hingga hari ini, kami belum bertemu lagi. Ah, kenapa mendadak menjadi gugup begini, hanya karena memikirkan untuk bertemu Suci? Aku merasa tidak siap, dengan sikap egoisnya itu. ***** --bersambung--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN