Bab 6. Kedatangan Kerabat Jauh

1655 Kata
"Apa Ibu Suci pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?" tanya Dokter Winda setelah memeriksa hasil CT Scan di tangannya. "Kecelakaan?" Aku terdiam sejenak. "Suci memang sering mengendarai mobil, tapi tidak pernah bepergian jauh. Hanya untuk mengantar sekolah dan menjemput anak kami, lalu berbelanja kebutuhan bulanan. Tapi saya yakin, selama pernikahan kami, dia tidak pernah mengalami kecelakaan. Saya bisa menjamin itu." "Kalau begitu, apa mungkin Ibu Suci mengalami kecelakaan sebelum menikah dengan Anda, Pak Adam?" Aku mengusap dagu dengan jari telunjuk. Bagaimana aku harus mengatakannya? Selama ini, aku tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Suci sebelum menikah denganku. Bahkan, sampai sekarang pun tidak banyak yang aku ketahui tentangnya. Makanan kesukaan dan warna favoritnya pun aku tidak pernah tahu, atau mungkin memang tidak berniat ingin tahu. "Sepertinya saya harus menanyakan itu pada ibu atau ayah mertua saya," pungkasku akhirnya. "Kalau boleh saya tau, kenapa Dokter menduga Suci pernah mengalami kecelakaan sebelum kecelakaannya yang kemarin?" Dokter Winda menyimpan hasil CT Scan di atas meja. "Saya menduga, ada cedera kecil di sini. Memang cedera itu tidak menyebabkan dia kehilangan ingatan seperti sekarang. Tapi mungkin karena kecelakaan kedua kemarin, cederanya semakin parah dan mengakibatkan amnesia ini," terangnya seraya menunjuk salah satu titik pada gambar. Aku ikut menatap gambar kepala itu. "Cedera?" gumamku. "Apa selama menikah dengan Anda, Ibu Suci sering mengeluhkan sakit kepala atau semacamnya?" Jleb. Aku tertohok dengan pertanyaan itu. "Kadang dia mengeluh sakit kepala. Tapi saya pikir, itu karena penyakit anemia-nya, atau mungkin memang tubuhnya yang terlalu lelah," sahutku seadanya. Dokter Winda menganggukkan kepala beberapa kali. "Apa mungkin Ibu Suci itu tipe perempuan yang tertutup?" "Ya, dia jarang berbicara," sahutku. "Ya, saya mengerti. Karena memang Ibu Suci menolak datang ke sini, kalau begitu saya serahkan CT Scan ini pada Pak Adam." Dokter Winda memasukkan lembaran berwarna dominan hitam itu ke dalam amplop coklat besar. "Tapi saya sarankan untuk kembali ke sini, bersama Ibu Suci tentunya." "Akan saya usahakan." Kuberi seulas senyum tipis. "Oh, ya. Satu lagi, Pak Adam." "Ada yang lain?" "Melihat sikap Ibu Suci pada Anda, saya sarankan untuk tidak terlalu memaksanya." "Maksud Dokter?" "Jangan terlalu menekan Ibu Suci agar bisa mengingat Anda. Buat dia rileks, dan nyaman dengan kondisinya saat ini. Yang Ibu Suci butuhkan adalah perhatian dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya." Aku menganggukkan kepala, karena rasanya tidak bisa menjawab saran dari dokter itu. Akhirnya aku memilih berpamitan alih-alih bertanya lebih lanjut tentang kondisi Suci. . Beberapa detik lagi menuju pukul empat sore, dan sudah hampir setengah jam aku duduk menatap dua amplop di depanku ; hasil CT Scan dan amplop undangan pertemuan orang tua. Ada dua alasan untukku agar bisa bertemu Suci. Namun, entah kenapa aku masih belum yakin untuk menemuinya. Terakhir kali aku menginjakkan kaki di rumah keluarga Lesmana, hari di saat Suci pulang dari rumah sakit. Entah bagaimana sambutan keluarga itu, jika aku bertandang ke sana? Ketukan pintu mengalihkan perhatianku. "Masuk," titahku seraya memasukkan kedua amplop itu ke dalam tas. "Selamat sore, Pak Direktur," sapa Bayu. "Sore. Masih ada pekerjaan?" tanyaku. "Pekerjaan apa? Semua kerjaan gue udah beres dari tadi. Gue nungguin lo keluar dari ruangan ini, tapi enggak keluar juga," ketusnya setelah duduk di kursi. "Mau ngapain?" Aku tersenyum miring. "Lo lupa. Ini hari Jum'at. Waktunya kita ...." Bayu menggerakkan badannya. Aku berdecak. "Enggak ada waktu. Gue mesti jemput Salwa. Kalau enggak bisa bawel itu anak neleponin gue." "Yah, masa enggak bisa, sih? Udah berapa minggu ini, lo libur dari we time? Ya, selama istri lo masih di rumah sakit sih, gue paham. Tapi 'kan dia udah pulang. Udah sembuh, dong!" Aku menyadarkan punggung, menatapnya disertai seulas senyum miring. "Dodi belum cerita apa-apa?" "Dodi?" Bayu terheran. "Dia enggak cerita apa-apa tentang lo," sahut Bayu. Akhirnya aku mengembuskan napas. "Sorry, deh. Gue lagi enggak mood buat ngapa-ngapain," tolakku seraya berdiri dan meraih tas hitam di meja. "Gue pulang duluan. Lain kali gue usahain buat ikut," tandasku. . "Ini, simpan di kulkas nasi sama sayurnya. Biar besok tinggal dihangatkan saja." Ibu memasukkan tiga kotak makanan ke dalam tas. "Maaf, Adam jadi repotin Ibu," ujarku. "Tidak apa. Selama Suci sakit, kamu makan di sini saja. Kasihan Salwa kalau harus makan mie rebus dan roti terus," ujar Ibu. "Kalau misalkan Suci enggak sembuh, gimana, Bu?" "Pasti sembuh. Kamu harus doakan, kamu harus yakin dan kamu harus berusaha membuat Suci ingat kembali siapa kamu dan Salwa." Aku tersenyum kecil. "Bu, boleh Adam tanya sesuatu?" "Tanya apa?" Ibu menatapku seksama. "Ibu ... sudah lama kenal keluarga Suci, 'kan?" "Ya, sejak usia kamu delapan tahun. Ayah bekerja di salah satu proyek Tuan Wira, beberapa kali Ibu bertemu beliau ketika mengantarkan makan siang untuk Ayah." "Ibu pernah dengar, kalau Suci mengalami kecelakaan sebelum menikah dengan Adam?" "Kecelakaan?" Ibu tampak terkejut dengan pertanyaanku. "Ibu tidak pernah dengar. Terlebih, semenjak Ayah meninggal kami kehilangan komunikasi. Ibu bertemu Tuan Wira kembali, tidak lama sebelum kalian menikah." Aku hanya bisa mengembuskan napas. Sepertinya aku memang harus memastikan hal ini pada orang yang lebih tahu. Abi atau Ami. Akhirnya aku memilih berpamitan pulang, memanggil Salwa yang asyik bermain bersama kucing peliharaan Ibu. *** "Ayah, Ayah." Aku memincingkan mata. "Apa lagi? PR udah, makan siang udah. Ayah bilang jangan ganggu lagi, 'kan? Ayah mau tidur sampai sore," sahutku. "Sawa enggak mau ganggu, tapi ada Nenek di bawah," ucap Salwa. "Nenek?" "Iya, katanya mau ajak Sawa pergi. Sawa mau ikut, Yah!" Akhirnya aku bangkit segera untuk membuka pintu. Tampak perempuan yang telah melahirkanku itu berpakaian tidak seperti biasanya. Ternyata Ibu hendak pergi ke undangan pesta pernikahan salah satu teman dekatnya. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin mengajak Salwa. Tentu saja anak itu setuju saja. "Kamu istirahat saja. Nanti sore biar Ibu yang antar Salwa ke sini," tutur Ibu. "Jangan. Adam aja yang jemput ke rumah Ibu," timpalku. "Ya sudah kalau begitu. Ibu berangkat, ya." Aku mengantarkan mereka hingga ke depan pintu gerbang. Kebetulan memang sudah ada taksi yang menunggu. Selepas Ibu dan Salwa pergi, aku pun masuk kembali ke dalam rumah. "Ah, akhirnya. Bisa tidur tanpa digangguin Salwa," gumamku seraya membaringkan tubuh. Sayangnya, hasrat untuk tidur kembali pun malah lenyap. Selama bermenit-menit di atas kasur, kedua mata ini tak kunjung terpejam. Akhirnya aku bangkit kembali. Memilih masuk ke ruang kerja setelah membuat segelas cappucinno di dapur. Lagi-lagi, selama bermenit-menit aku menatap dua amplop itu. Hasil CT Scan dan undangan pertemuan orang tua. Sampai kapan aku menyimpan tanda tanya ini? Argh, merepotkan saja! Kenapa Suci selalu membuatku kesulitan? Aku meneguk sampai habis kopi di cangkir, kemudian bangkit dari kursi, berjalan untuk keluar dari ruang kerja. Hampir aku menutup pintu, tapi rasa penasaran itu malah semakin menggebu. Ah, sial! Akhirnya aku menyambar dua amplop itu dan membawanya pergi. Menuju rumah Tuan Wira. . Kuhentikan mobil di depan rumah keluarga Lesmana. Menyipitkan mata, ketika melihat ada mobil asing yang juga terparkir di halaman. Melihat plat nomornya, sudah jelas jika itu mobil dari luar kota. "Tuan Adam," sapa Bi Marni yang baru turun dari tangga teras. "Mobil siapa?" tunjukku dengan lirikan mata. "Itu mobil Pak Maulana." "Siapa?" tanyaku lagi. "Kerabat Nyonya dari Sukabumi." "Oh." Kuanggukkan kepala. Aku pernah mendengar jika Ami memang lahir dan besar di Sukabumi. "Saya permisi mau ke minimarket di depan, Tuan." Bi Marni berlalu dari hadapanku. Akhirnya aku melangkahkan menuju teras, memasuki rumah. Menginjakan kaki di ambang pintu, tampak beberapa orang duduk di sofa ; empat perempuan dan dua laki-laki. Aku hanya bisa mengenali dua orang perempuan saja, Ami dan Suci. Sisanya aku tidak tahu, mungkin mereka yang disebutkan Bi Marni kerabat Ami dari Sukabumi. "Assalamualaikum." Aku mengucap salam. "Waalaikumsalam." Semua orang itu menyahut juga menoleh bersamaan. "Adam," sapa Ami seraya berdiri. "Mari, ikut duduk di sini." "Suaminya Suci?" tanya lelaki berpakaian koko warna putih. Sepertinya sudah berusia di atas enam puluh tahun. "Iya, menantu saya, Kang," sahut Ami. "Suci, ajak Adam ke sini," perintahnya kemudian. "Tapi Ami--" "Dia suami kamu," sela Ami. Suci terlihat tidak suka. Namun akhirnya tak urung dia berdiri dan berjalan menghampiriku. Biasanya, jika bertemu setelah beberapa waktu berpisah--meski itu hanya dalam hitungan jam, Suci akan mencium punggung tanganku. Kali ini tidak. Dia berdiri di depanku dengan kedua tangan terlipat di d**a. "Ayo, ikut duduk," ajaknya, dengan raut wajah yang sepertinya terpaksa menuruti perintah Ami. Aku tersenyum miring melihat tingkahnya. Kutepis semua rasa itu, antara kesal dan juga marah. Padahal awalnya aku berpikir akan merasa gugup jika bertemu Suci setelah satu minggu tidak bertemu. Terlebih di pertemuan terakhir kami di rumah, aku memberi kesan buruk padanya. Kulangkahkan kaki menuju ruang tamu. "Selamat sore, semuanya," sapaku. "Selamat sore," sahut lelaki berkoko putih. Sedang lelaki satunya, yang terlihat lebih muda, hanya diam menatapku. "Adam, ini Pak Maulana. Masih saudara jauh sebenarnya. Mereka sengaja datang dari Sukabumi untuk menengok Suci," tutur Ami. Kuulurkan tangan ke arah lelaki berkoko putih yang ternyata bernama Pak Maulana, dan dengan ramah dia membalas jabatan tanganku. "Itu istrinya," ujar Ami lagi. Aku menoleh ke arah samping Pak Maulana. Perempuan itu hanya menangkupkan kedua tangan di d**a. Aku pun membalas dengan sebuah anggukkan kepala. Kupalingkan wajah ke arah sofa di sebelahnya. Seorang perempuan dan laki-laki duduk berdampingan, sepertinya mereka pun pasangan suami istri. "Ini Hilya," tunjuk Ami. Sama seperti istri Pak Maulana, perempuan itu hanya menangkupkan kedua tangan di d**a. "Dan ini suaminya, Malik." Aku menoleh ke arah Ami. "Malik ini putra semata wayang Pak Maulana. Dulu dia sempat tinggal di sini bersama kami cukup lama, dan sangat dekat dengan Suci. Seperti adik dan kakak." Ami tersenyum lebar. Kuputar kembali kepala ke arah lelaki itu. Malik? Dia mengulurkan tangan kanannya. Jadi dia lelaki itu. Lelaki yang Suci panggil namanya di waktu koma. Aku membalas jabatan tangan lelaki berkoko biru di depanku. "Adam, suaminya Suci." "Malik. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa bertemu dengan Mas Adam," ujarnya diakhiri seulas senyum. Aku menganggukkan kepala selepas menarik tanganku kembali. Kemudian aku memutar tubuh. Tampak Suci berdiri di samping sofa. Dia tersenyum. Senyum yang menyiratkan kebahagiaan. Aku pernah melihat senyum itu. Senyum yang selalu Suci berikan untukku sebelum dia mengalami amnesia. Sayangnya, aku yakin kini senyum itu dia berikan bukan untukku. Tetapi untuk lelaki yang berada di belakangku. Malik. ***** --bersambung--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN