"Kenapa Salwa tidak ikut?" tanya Ami.
Aku menggeser pandangan. "Salwa diajak Ibu ke acara pernikahan temannya, Ami."
"Oh. Besok hari Minggu, ajak ke sini. Abi selalu menanyakan kabar Salwa," pinta Ami.
"Baik, Ami." Kuberikan anggukkan kepala disertai senyum tipis.
"Ah, ya. Suci, kenapa tidak buatkan minum untuk Adam? Ajak suamimu ke teras belakang," perintah Ami.
"Tapi Ami ...."
Ami menoleh ke arah Suci. Entah kode apa yang ibu mertuaku berikan padanya.
"Tidak usah, Ami. Adam juga enggak lama-lama ke sini, cuma mau menengok Suci." Kini aku menatap perempuan yang memakai gamis berwarna coklat muda itu. "Adam selalu mencemaskan keadaannya, Salwa juga. Dia selalu memikirkan Bunda-nya yang sedang sakit."
Suci membuang muka dari tatapanku.
"Tapi sepertinya Suci terlihat baik-baik saja. Adam lega melihatnya. Kalau begitu Adam permisi." Aku memutar tubuh ke arah belakang. "Mari, Pak, Bu." Lalu menoleh ke arah Malik dan istrinya. "Aku permisi, Malik."
"Ya, silakan." Lelaki itu menganggukkan kepala.
"Antarkan Adam ke depan, Suci," perintah Ami.
"Baik, Ami," sahut Suci. Dia memang tidak menolak, tapi aku yakin dia terpaksa mengatakan itu.
Setelah mencium punggung tangan Ami, aku berjalan keluar dari rumah. Dengan Suci yang juga melangkah di belakangku.
"Aku punya sesuatu buat kamu," ucapku, ketika sampai di teras. Lalu berhenti karena menyadari Suci juga berhenti.
"Apa?" cetus perempuan itu.
"Sebentar," ujarku. Kemudian aku berjalan ke arah mobil, mengambil amplop berwarna putih. "Ini." Kuberikan amplop itu pada Suci.
"Apa ini?" Dia menatap benda itu, tanpa sedikit pun gerak tubuh yang menyiratkan jika dia akan mengambilnya.
"Undangan pertemuan untuk orang tua di sekolah Salwa. Dulu, kamu selalu memintaku untuk menemanimu. Tapi, aku menolak karena sibuk bekerja. Sekarang, kupikir aku bisa meluangkan waktu." Aku mengambil sedikit jeda dalam ucapanku, Suci hanya diam menatapku dengan sorot datar. "Mari pergi bersama, demi anak kita."
"Tidak," sahutnya cepat. "Tidak mungkin aku bersikap seperti itu. Kamu pasti bohong," tukasnya.
"Kenapa harus bohong?" Aku menarik tangan yang memegang amplop. "Aku suami kamu, dan kamu istriku. Kenyataannya, kamu seperti itu dulu."
"Aku tidak percaya," sanggah Suci.
Aku tertawa sumbang. "Jadi, kamu lebih percaya pada lelaki itu?"
"Siapa maksud kamu?" Suci terlihat tidak suka dengan pertanyaanku.
"Tentu saja Malik." Aku tersenyum miring. "Aku pikir, dia masih lajang. Sehingga kamu bersikeras menyangkal pernikahan kita. Bahkan kamu dengan sengaja datang ke rumah hanya demi mengambil tasbih pemberian darinya."
"Itu berharga buat aku," tegasnya.
"Berharga? Bahkan setelah melihat dia datang bersama istrinya, kamu tetap menganggap benda itu ... berharga?" ejekku.
"Malik memberikan tasbih itu sebagai hadiah ulang tahunku," ujarnya. "Kamu tau kapan hari ulang tahun aku?"
Aku menautkan kedua alis. Sial, aku lupa kapan tanggal ulang tahunnya.
Suci tersenyum kecil. "Malik sengaja datang dari jauh untuk menemuiku, tepat di hari ulang tahunku yang ke tiga puluh satu."
Tepat di hari ulang tahun?
Aku mengingat kembali mas kawin yang aku berikan pada Suci. Kalau tidak salah, aku memberikan mahar sejumlah itu atas permintaan Suci. Kalung mas dengan berat yang didasarkan pada tanggal lahirnya.
20,290 gram.
20-2-90?
Apa itu artinya 20 Februari 1990?
Hari ini?
Tak mau terlihat bodoh, aku memberikan senyum kecil. "Jadi kamu lebih bahagia atas kedatangan Malik di hari ulang tahun kamu, dibanding kedatangan suami kamu ini, yang setiap malam mencemaskan kamu?"
Suci menaikkan sedikit dagunya.
Lihatlah, berani sekali dia. Padahal dulu, dia selalu menundukkan kepala setiap berbicara denganku.
"Baiklah, besok aku ke sini untuk membawakan hadiah yang paling berharga di hidup kamu," tukasku.
"Apa?" ketusnya.
"Tentu saja Salwa. Anak kita. Dia yang selama ini selalu kamu banggakan, sebagai hadiah terindah dalam pernikahan kita." Aku tersenyum, lalu mengangkat satu tanganku untuk mengusap pipinya. "Aku pulang, istriku."
Suci menggeser kepalanya.
Aku hanya bisa menahan senyum melihat penolakannya itu. "Assalamualaikum." Kudekatkan wajahku, membuat dia lagi-lagi harus memundurkan wajahnya.
Akhirnya aku masuk ke dalam mobil, menghentak amplop di tangan ke atas jok di samping. "Suci," desisku, menatap amplop coklat besar yang juga berada di sana. Akhirnya aku meninggalkan kediaman Lesmana dengan membawa kekesalan dalam hatiku.
Lihat saja nanti pembalasanku, Suci!
.
"Besok ke rumah Opa?" tanya Salwa yang sudah berbaring di atas kasurnya.
"Iya. Opa nanyain kamu, kangen katanya," sahutku. Duduk dengan membawa satu buku cerita. "Kenapa? Enggak mau? Enggak kangen sama Bunda?" tanyaku.
"Kangen, sih. Tapi ... Bunda kayaknya udah enggak sayang sama Sawa." Anak itu menatap langit-langit kamar. "Emang ... Bunda sakit apa, sih? Kok, jadi berubah gitu, ya?"
"Mau cerita apa sekarang?" tanyaku, sembari membuka buku di tangan. Alih-alih tak ingin menjawab pertanyaan Salwa.
"Apa aja, terserah Ayah," sahut Salwa.
Beruntung pertanyaannya itu tidak berkelanjutan. Akhirnya aku memilih satu cerita secara asal. Kubacakan dongeng tentang Kancil dan Buaya. Hingga kurang dari lima belas menit, anak di sampingku itu terlelap dalam mimpinya.
Kusimpan buku di atas meja, membenahi selimut di tubuh Salwa. Setelah yakin dia tertidur nyenyak, aku mematikan lampu dan keluar dari kamarnya. Biasanya, selepas membacakan dongeng untuk Salwa, maka aku akan segera tidur. Karena tubuh yang lelah dan penat setelah beraktivitas seharian. Namun, malam ini rasanya kedua mataku tak merasakan kantuk sedikit pun.
Kuputuskan turun ke lantai bawah, melangkah menuju dapur untuk membuat secangkir cappucinno, lalu membawanya ke ruang tengah. Ketika duduk di sofa dan mengangkat kepala, tatapanku langsung terpaku pada satu titik.
Foto pernikahanku dalam ukuran besar. Tampak aku dan Suci tersenyum lebar dengan lengkung bibir yang sempurna.
"Itu berharga buat aku."
"Malik memberikan tasbih itu sebagai hadiah ulang tahunku."
"Kamu tau kapan hari ulang tahun aku?"
"Malik sengaja datang dari jauh untuk menemuiku, tepat di hari ulang tahunku yang ke tiga puluh satu."
Argh, sial! Kalau saja bukan berada di rumah mertuaku, pasti aku sudah melakukan sesuatu untuk meluapkan amarahku ini pada Malik.
"Malik, Suci. Sejauh apa hubungan mereka berdua, sampai ketika mengalami amnesia, yang Suci ingat hanya Malik," geramku.
Prang!
Cappucino yang belum sempat aku teguk, akhirnya tergenang di atas lantai bersama pecahan cangkir porselen berwarna putih itu.
***
"Kenapa jarinya, Yah?" Salwa menatap telunjukku yang berbalut plester luka.
"Berdarah," sahutku tanpa menoleh ke arahnya.
"Berdarah? Biasanya kalau tangan Bunda berdarah itu ... karena kena pisau. Tapi ... Ayah 'kan enggak motong apa-apa. Cuma masak mie rebus sama olesin selai ke roti. Kok, bisa kena pisau, sih?"
Aku mendelik ke arahnya. "Mana baju kotor kamu?"
"Ini. Udah semua. Baju sekolah, baju tidur juga. Baju bekas ke undangan kemarin udah ada di rumah Nenek." Salwa memberikan keranjang cucian penuh berisi semua bajunya selama seminggu ini.
Beruntung Ibu memiliki usaha laundry rumahan. Sehingga aku tidak harus kerepotan memikirkan baju-baju kotor ini.
"Ayo, kita ke rumah Nenek, habis itu ke rumah Opa," ajakku pada Salwa.
"Iya, Ayah," sahut anak itu. Berjalan mendahuluiku, lalu membuka pintu kamar dan menahannya, menutupnya lagi setelah aku keluar.
.
"Assalamualaikum," sapaku. Melangkah bersama Salwa memasuki rumah Tuan Prawira.
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari beberapa orang hampir bersamaan.
"Hai, cantiknya, Om. Sini!" Satria berjalan menghampiri kami. "Muah, Om kangen banget sama kamu," ucapnya setelah menggendong dan mencium pipi Salwa.
Salwa tertawa dengan riang. "Sawa juga," ujarnya.
"Sini, Salwa. Opa juga mau cium kamu," ujar Abi.
Satria menurunkan tubuh Salwa. Anak itu pun berjalan menghampiri Oma dan Opa-nya. Adegan selanjutnya bisa ditebak. Salwa mencium punggung tangan semua orang di rumah ; Abi dan Ami, Pak Maulana dan istrinya, juga Malik dan istrinya.
Jadi ... mereka menginap.
Ckckck. Melihat kebahagiaannya kemarin sore, pasti Suci bermimpi indah semalam tadi. Ini benar-benar aneh. Baru kali ini aku melihat secara langsung, perempuan yang tidak merasakan sedikit pun cemburu, ketika melihat laki-laki yang dicintainya datang bersama istrinya.
Sialnya, perempuan itu adalah Suci. Istriku sendiri.
"Bi, panggilkan Suci," titah Abi.
"Baik, Tuan," sahut Bi Marni yang sedang meletakkan gelas dan toples berisi camilan di atas meja.
"Biar Adam saja yang panggil, Abi," pintaku.
"Silahkan kalau begitu." Abi pun menganggukkan kepalanya.
Akhirnya aku melangkah menuju lantai dua, di mana kamar Suci berada.
Untuk beberapa detik, aku menatap pintu itu. Di mana di dalamnya adalah ruangan pribadi Suci sebelum menikah denganku. Perlu diketahui, meskipun sudah menikah selama hampir sembilan tahun, tapi aku tidak pernah bermalam di kamar ini. Bukan karena aku merasa tidak nyaman untuk tinggal bersama mertua meski sehari atau semalam sekali pun. Aku hanya menjaga harkat dan martabatku sebagai seorang lelaki mapan.
Ya, walau aku menikah dari hasil perjodohan, tapi aku tidak mau disebut sebagai lelaki aji mumpung. Sebulan sebelum menikah dengan Suci, aku membeli sebuah rumah sederhana untuk tempat tinggal kami setelah menikah. Karena itu, aku tidak pernah merasakan tidur di kamar pribadi Suci. Di malam pengantin kami, tanpa menunda waktu aku membawanya ke rumahku.
Setega itu aku? Tidak. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai menantu yang bertanggung jawab. Bukankah, itu alasan pasangan Tuan dan Nyonya Lesmana memilihku untuk menjadikan putri sulung mereka istri?
"Bi!" Terdengar suara Suci dari dalam kamar.
Aku yang terhanyut dalam lamunan jelas tertegun.
"Bi Marni!" panggil Suci lagi.
Merasa penasaran dengan apa yang terjadi, aku beranikan membuka pintu.
Klek.
"Bi, lihat baju gamis Suci yang warna putih enggak? Yang ada rendanya itu, lho!" ujarnya lagi.
Aku terdiam, melihat Suci yang sedang mencari-cari bajunya di dalam lemari.
"Baju yang dulu Ami beli dari Tasik, baju kesayangan Suci itu."
Aku masih bergeming, berdiri di depan pintu.
Kudorong pelan daun pintu, menutupnya rapat.
"Bibi, ih!" Suci berdiri tegak lalu berbalik. "Kamu?!" serunya, menutupi bagian atas tubuhnya dengan telapak tangan.
Ya, Suci masih memakai handuk. Sepertinya dia baru selesai mandi.
"Baju gamis putih, berenda, dibeli Ami dari Tasikmalaya. Itu yang kamu cari?" tanyaku.
"Mau apa kamu ke sini?" Kedua mata Suci terlihat menahan amarah.
"Gamis itu ... ada di rumah. Kamu membawanya ketika kamu pindah ke rumahku. Oh, maaf. Maksudku rumah kita." Aku berjalan mendekatinya. Karuan saja membuat Suci melangkah mundur.
"Jangan macam-macam, atau aku teriak," ancamnya.
"Apa ada larangan, seorang suami menemui istrinya dalam keadaan seperti ini?" tukasku.
"Kamu ...." Suci menggeram kesal.
Aku menaikkan satu sudut bibir. "Aku pernah melihat kamu memakai gamis itu, hanya satu kali. Ketika datang ke pernikahan teman SMA kamu, Davira. Tentu kamu ingat siapa Davira. Dia adik perempuannya Dodi, sahabat aku."
Sorot mata itu berubah seketika. Sedikit meredup. Entah karena apa. Mungkin dia terheran, karena aku mengetahui sedikit informasi tentangnya di masa lalu.
"Kamu bilang, itu gamis kesayangan kamu. Kamu enggak berani memakainya di sembarang waktu. Kamu memakainya hanya untuk acara tertentu, agar terlihat istimewa. Iya, 'kan?"
Terlihat pergerakan di tenggorokan Suci. Sepertinya dia mulai gugup.
"Apa ... hari ini pun ... hari istimewa untukmu?" Aku melangkah semakin dekat padanya.
Kali ini Suci tidak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menempel pada pintu lemari. Dia hanya bisa bergeming menatapku.
"Apa karena ada Malik di sini, dan kamu ingin terlihat istimewa di depannya?" desisku semakin menekan.
Suci menaikkan dagunya. Mendongkak, menatapku tajam. "Ya, tentu saja. Aku ingin terlihat istimewa di depannya. Karena aku ... mencintainya."
Kedua tanganku mengepal menahan amarah. Sebisa mungkin aku menguasai diri.
Tiba-tiba, aku teringat ucapan Satria beberapa waktu lalu ketika aku harus pergi membawa Salwa dari kediaman ini selepas kepulangan Suci dari rumah sakit.
"Karena gue bisa melihat perubahan yang terjadi sama dia. Kak Suci berubah. Dulu, dia enggak gitu. Masa lalu Kak Suci itu menyenangkan, penuh tawa. Hanya saja dia berubah jadi pendiam sejak tau harus menikah karena dijodohkan," tukas Satria malam itu.
Jadi, apa ini maksudnya perubahan itu?
Bukankah saat ini, Suci berubah?
Semua kenangan, sikap dan perilakunya, adalah gambaran Suci sepuluh tahun yang lalu.
Ya, mungkin seperti inilah Suci dulu, sebelum menikah denganku. Dia ... bisa melawan siapa saja. Termasuk aku.
*****
--bersambung--