Bab 8. Suci Yang Dahulu?

1928 Kata
"Lho, Suci-nya mana?" tanya Ami yang melihatku turun sendirian. "Masih berpakaian, Ami," sahutku, berjalan menuju ruang keluarga kembali. "Oh. Ya sudah, kamu duduk di sini saja dulu," perintah Ami. "Ya, Ami." Aku pun mengempaskan tubuh. Beruntung masih ada satu sofa yang kosong. Jika tidak ada, sepertinya aku harus duduk di samping Malik. Cih, lelaki itu. Dan entah kenapa rasa penasaran menggelitik naluri ini. Selepas duduk aku menoleh ke arahnya. Dia tersenyum seraya menganggukkan kepala. Aku hanya menaikkan sedikit satu sudut bibir, lalu memalingkan wajah ke arah Salwa yang sedang asyik bercengkrama bersama Satria dan Abi. "Trus, Ibu Aisyah bilang suara Sawa bagus. Katanya, nanti di hari kelulusan, Sawa harus nyanyi di atas panggung," tutur anak itu penuh semangat. "Oya? Hebat, dong. Nanti kasih tau Om hari kelulusannya kapan. Om mau datang. Mau lihat Cantiknya Om nyanyi di atas panggung." "Iya, nanti Sawa pasti ... Bunda?" Tatapan Salwa beralih ke arah lain. Aku pun ikut menoleh. Suci menuruni anak tangga, dengan langkah pelan dan gemulai. Terlihat anggun karena memakai gamis berwarna merah muda di tubuhnya juga kerudung yang senada. Hah, dia ternyata masih ingin mencari perhatian pada Malik. Benar-benar ... membuatku emosi. "Neng Suci dari dulu selalu cantik, ya," ujar istri Pak Maulana. "Iya. Wajahnya selalu berseri," timpal Pak Maulana. "Mas Adam pasti sangat bahagia memiliki istri secantik Neng Suci," lanjutnya seraya menatapku. "Ya, saya sangat bersyukur karena bisa menjadi suaminya," sahutku diakhiri senyum. Lalu menoleh ke arah samping. Malik pun ternyata sedang menatapku, tapi dengan cepat berpaling ketika menyadari aku juga melihat ke arahnya. "Selamat pagi, semuanya," sapa Suci, lalu duduk di samping Ami. Padahal, Abi duduk bersama Ami, Satria bersama Salwa, Pak Maulana bersama istrinya, dan Malik bersama istrinya juga. Hanya aku yang duduk sendirian. "Suci," panggil Abi. "Ya, Abi." Suci memiringkan tubuhnya demi melihat ke arah ayahnya itu. "Duduk di samping Adam," perintah lelaki itu. Perkataannya memang terkesan datar, tapi jelas ada penekanan di dalamnya. Suci tersenyum samar. "Ya," sahutnya. Kemudian berdiri, berpindah duduk di sampingku. Sempat dia melirikku, lalu kubalas dengan seulas senyum. Sayangnya, Suci dengan cepat berpaling lagi. "Bunda, Bunda. Sawa bawa sesuatu buat Bunda." Salwa melangkah ke arahku dan Suci. "Bawa ... apa, Salwa?" Suci terlihat kaku ketika Salwa bergelayut manja di depannya. Biasanya jika sudah bersikap begitu, Suci akan memeluk Salwa dan menaikkan tubuh anak itu ke atas pangkuannya. "Mana, Ayah?" Salwa menadahkan tangan, menatapku disertai senyum. Aku berdehem. "Sebentar," ujarku. Lalu merogoh sesuatu dari saku cardigan. "Ini." Kuberikan selembar kertas terlipat itu. Salwa meraih, lalu membukanya. "Semalam ... Ayah bilang kalau Bunda kemarin ulang tahun. Karena ... Sawa enggak tau, jadi Sawa beri ucapan selamatnya sekarang." Dia memegang kedua sisi kertas itu. "Selamat ulang tahun, Bunda. Semoga sehat selalu, panjang umur, dan semua harapan Bunda dikabulkan oleh Allah." Suci menatap kertas itu. "Buat ... Bunda?" "Iya. Bunda juga kalau Sawa ulang tahun suka kasih ucapan seperti ini," tukas Salwa. Aku tidak terlalu kaget melihatnya, karena memang sejak semalam sudah melihat isi kertas itu. Ada gambar perempuan berhijab dengan gamis berwarna biru, lalu nama 'Bunda' di atas kepalanya. Salwa juga menuliskan sebaris kalimat di bawah gambar itu, 'Sawa Sayang Bunda', dihiasi bunga-bunga dan tanda berbentuk hati. Lalu memberi warna merah di seluruh lukisan tangannya itu. "Kenapa? Apa gambarnya kurang bagus?" tanya Salwa dengan raut sendu. Mungkin karena menyadari Suci hanya terdiam menatapnya. "Bunda terlalu seneng lihatnya, Sawa, jadi masih kaget," selaku. Karuan saja Suci menoleh ke arahku. "Ambil, Suci. Salwa sudah sengaja menggambar itu untuk kamu," ujar Ami Akhirnya Suci menganggukkan kepala kaku, lalu menerima gambar itu. "Terima kasih," ucapnya. "Sama-sama," sahut Salwa diakhiri senyum yang memperlihatkan gigi depannya. "Salwa pasti menulisnya dengan sepenuh hati, sebagai ungkapan sayang sama Bunda. Gambarnya bagus sekali, ya?" Suci menoleh ke arah itu. "Aku udah punya anak tiga, belum pernah lho, dapat ucapan romantis seperti itu dari mereka," sambung Hilya. "Mungkin karena kita enggak ajarin," tutur Malik. "Nanti coba ajarin. Siapa tau aku juga dapat ucapan romantis seperti itu," ucapnya lagi seraya mengusap punggung tangan istrinya. Aku melirik Suci, yang sedang tersenyum pada Hilya. "Jadi kalian sudah punya tiga anak?" tanyaku. "Ya, sudah tiga, Mas Adam. Yang paling besar laki-laki usia sepuluh tahun, yang kedua perempuan tujuh tahun dan ketiga laki-laki usia empat tahun." "Mbak Suci dan Mas Adam belum ada niat memberi adik untuk--" "Hilya," tegur Malik. Membuat istrinya berhenti berbicara. "Kenapa?" Hilya tampak tidak mengerti dengan kode yang diberikan Malik. Suasana terasa hening seketika. "Malik, Hilya. Lebih baik kita bersiap sekarang. Kita pulang lebih awal. Kasihan Mang Arif dan Bi Nunung kita tinggal lama-lama. Mereka pasti kerepotan menjaga anak-anak kalian," ujar Pak Maulana. "Baik, Abah," sahut Malik. Lalu dia melirik ke arahku dan Suci. Dari ekor mata, bisa kulihat perempuan di sampingku itu menunduk seketika. . Kami melepas kepergian keluarga Pak Maulana hingga depan teras. Puas rasanya melihat wajah sendu Suci ketika mobil yang Malik kendarai menghilang di balik pagar. "Salwa, jalan-jalan sama Om, yuk! Kita beli es krim sama boneka," ajak Satria ketika aku hendak berbalik ke arah rumah. "Asyik. Mau!" teriak Salwa. "Mbak Suci mau ikut?" ajak Satria. Suci menggelengkan kepala. "Ya sudah, kita pergi berdua aja, ya. Enggak apa, 'kan?" "Iya, enggak apa." Salwa menyahut semringah. "Satria pergi dulu ya, Abi, Ami." Dia mencium tangan kedua orang tuanya." Lalu menoleh ke arahku. "Biar nanti Salwa gue anterin ke rumah lo." Kuberi sebuah anggukkan kepala. Satria dan Salwa pun berjalan menuju mobil putih yang terparkir di halaman, sedangkan Abi, Ami dan Suci melangkah memasuki rumah. "Abi, Ami. Suci pamit ke kamar." "Suci, sebentar," cegah Abi. "Ada apa, Abi?" Suci akhirnya memutar tubuh. "Abi mau bicara sama kamu dan Adam," jawab Abi. "Adam, sedang tidak sibuk, 'kan?" "Tidak , Abi," sahutku segera. Abi memberi isyarat tangan padaku untuk duduk di ruang keluarga. Bisa kulihat Suci yang tampaknya merasa terpaksa menuruti keinginan ayahnya. Abi dan aku duduk sendirian, sedangkan Suci duduk bersama Ami. "Sebenarnya, Abi ingin berbicara dengan kalian dari kemarin. Tapi karena kedatangan keluarga Pak Maulana, Abi jadi merasa tidak enak. Dan sekarang berhubung mereka sudah pulang, juga kebetulan Salwa pun sedang diajak keluar oleh Satria, Abi tidak akan menundanya lagi," tutur Abi panjang lebar. Jika sudah melihat Tuan Prawira berbicara seperti ini, jelas sekali terlihat dia adalah sosok lelaki yang bijaksana dan berwibawa. Menurutku. Mungkin itu yang membuatnya berhasil menjadi pemimpin dan membangun perusahaan. "Suci, apa benar kamu tidak ingat sama sekali pada Adam dan Salwa?" tanya Abi. Suci menggigit tepian bibirnya, lalu menggelengkan kepala. "Sedikit pun tidak?" tanya Abi lagi. "Tidak Abi. Suci ... benar-benar tidak bisa ingat kapan Suci menikah dan kapan Suci melahirkan," jawab Suci, lalu dia merundukkan kepala. Dengan sigap Ami merangkul bahunya, mungkin memberi kekuatan. "Sejujurnya Abi kecewa dengan keadaan ini. Melihat kamu dan Adam yang tampak seperti orang asing, dan perlakuan dinginmu pada Salwa, membuat Abi sedih sekali," tutur lelaki itu lagi. "Abi, kita harus ingat apa kata dokter. Saat ini kita tidak boleh memaksa Suci untuk mengingat masa lalunya. Kita harus membuat Suci nyaman dan merasa aman, meski kondisinya belum pulih sepenuhnya," sela Ami. "Abi tidak memaksa Suci untuk mengingat Adam dan Salwa, tapi Abi hanya berharap jika Suci tetap bisa mengingat marwahnya sebagai seorang istri dan ibu. Itu saja, Ami," ujar Abi. "Bahkan melihat Suci yang masih tetap bersikeras tinggal di sini, dan meninggalkan kewajibannya sebagai istri juga ibu, Abi benar-benar merasa kecewa. Abi merasa gagal menjadi seorang ayah yang mendidik putrinya." Terdengar isak tangis. Ah, rupanya Suci menangis. Ckckck, apa yang sedang dia tangisi? Baiklah, ini saatnya untuk memperlihatkan jati diriku sebagai seorang suami yang baik dan pengertian. "Abi tidak gagal sebagai seorang ayah. Adam yakin itu. Namun, mungkin memang sekarang keadaannya sedang berbeda. Suci ... masih sakit. Lagi pula, Adam memaklumi ini semua. Adam bisa memahami kondisi hati yang sedang dialami Suci. Pasti Suci masih merasa terkejut dengan semua yang dia hadapi selepas bangun dari koma. Adam tidak akan menuntut Suci untuk bersikap seperti dulu, ketika sebelum koma. Biarlah Adam yang akan meyakinkan Suci secara perlahan, jika Adam adalah suaminya, kami pernah hidup bahagia, bersama, dan saling mencintai," ujarku panjang lebar. "Terima kasih atas pengertiannya, Adam. Abi tau, kamu adalah sosok lelaki bijak dan tegar dalam menghadapi segala situasi. Abi harap kamu bisa bersabar, dan bisa meyakinkan Suci, jika kamu adalah lelaki terbaik yang pantas menjadi imamnya." Abi menatapku dengan binar penuh harapan. "Ya, Adam akan berusaha, Abi," tegasku. Kemudian aku menoleh ke arah Suci, tangisnya terasa semakin menyayat hati. Dan aku suka itu. . "Halo." Aku menjawab panggilan dari Satria. "Gue udah di depan rumah sama Salwa." "Ya, bentar." Aku pun meninggalkan kesibukanku bersama setumpuk baju yang harus aku masukkan ke dalam lemari Salwa. "Ayah!" panggil anak itu ketika aku sudah membuka pintu, lalu memeluk bagian bawah tubuhku. "Jalan-jalan ke mana?" tanyaku sambil mengusap kepalanya. "Ke mal, terus ke toko boneka, terus Om Satia beliin Salwa banyak es krim dan kue," ujar anak itu penuh semangat. "Kalau begitu sekarang masuk ke kamar, simpan bonekanya lalu mandi. Ya?" "Iya, Ayah." Salwa yang sedang mendongkak menatapku, menganggukkan kepala. Dia pun melepas pelukannya dan berbalik ke arah Satria. "Om Satia, terima kasih banyak untuk semuanya. Sawa naik dulu ke kamar, ya?" "Iya, Cantik. Jangan sedih lagi, ya. Om janji nanti ajak kamu jalan-jalan lagi. Oke?" "Oke," sahut Salwa. "Cium dulu, dong!" Satria merundukkan setengah tubuhnya. Salwa pun mencium pipi Satria. "Dadah!" Lalu melambaikan tangan, berjalan ke arah anak tangga untuk menuju kamarnya. "Gue pulang," ujar Satria dengan ekspresi dingin. Raut wajahnya berubah seketika jika berbicara denganku. "Bentar. Ada yang mau gue tanyain sama lo," cegahku. Satria yang sudah memakai kaca mata hitamnya, melepas kembali benda itu seraya berdecak. "Apa?" tanyanya kemudian. "Gue masih ingat tentang ucapan lo di hari itu." "Kapan? Emang gue ngomong apa?" tanya Satria. "Lo bilang, lo bisa lihat perubahan Suci. Dari sebelum menikah sama gue, sampai akhirnya dia jadi istri gue. Lo bilang masa lalu Suci itu menyenangkan." "Oh, itu." Satria menaikkan satu sudut bibirnya. "Emang, gue bisa lihat itu semua. Lo tau sendiri, gue deket banget sama Kak Suci," tukas Satria. "Jadi ... apa Suci yang dulu itu, keras kepala dan angkuh, juga egois, dan selalu bersikap kasar?" Satria mengerjapkan mata. "Kenapa lo bisa nuduh gitu?" Aku tertawa. "Suci berubah ke sepuluh tahun lalu, setahun sebelum menikah sama gue. Sekarang dia selalu merasa, dia adalah perempuan lajang." Satria mulai menampakkan raut tak sukanya atas ucapanku. "Jadi, apa seperti itu, sikap dan perilaku Suci sebelum menikah, hah? Selama ini lo selalu bilang, gue egois, gue yang enggak pantas jadi suaminya. Lo selalu menyudutkan gue sebagai lelaki yang enggak bisa membahagiakan dia. Lihat sekarang, siapa yang lebih egois? Gue ... atau Suci? Dia bahkan mengabaikan putri kandungnya sendiri." "Mungkin itu emang dampak dari amnesianya?" sela Satria. "Oh, ya. Apa dampak dari amnesianya itu, Suci jadi lebih memilih bersikap lembut dan sopan sama Malik, dibandingkan sama gue, suaminya? Bahkan dengan terang-terangan dia tersenyum di depan gue buat Malik, dan yang lebih parah jelas-jelas Malik itu datang sama istrinya." Aku menelan saliva, menelan rasa muak ini. Lalu mengambil napas, masih belum puas dengan cercaanku untuk Suci. "Coba lo pikirin, perempuan macam apa, yang bisa berbuat seperti itu?" "Kurang ajar! Maksud lo apa jelek-jelekin Kak Suci, hah?" Satria mulai terlihat kesal. "Maksud gue?" Aku menunjuk diriku. "Gue cuma mau memperbaiki harga diri gue sebagai kakak ipar lo." "Sialan!" Satria menarik kerah kemejaku. "Apa Abi tau, kalau Suci mencintai Malik?" ucapku dengan intonasi menekan. Satria mengentakkan tangannya. "Gue peringatin sama lo, jangan bilang apa-apa tentang masalah ini sama Abi." Lalu berbalik, berjalan ke arah mobilnya. Aku tersenyum sendiri, melihat kepergian adik iparku itu. Jadi selama ini, keluarga itu sudah membohongiku, dengan mengatakan Suci adalah perempuan baik dan terhormat, yang pantas menjadi istriku? Sialan! ***** --bersambung--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN