Bab 9. Awal Mula

2413 Kata
"Pak Adam." Aku menoleh sedikit. "Ada apa?" "Pak Prawira ... melihat ke arah Anda," bisik Andini. Segera aku memutar kepala ke arah kursi utama. Tempat pimpinan tertinggi di kantor ini berada. Lelaki itu sedang menatapku. Jelas saja itu membuatku gelagapan seketika. Kuanggukkan kepala, lalu membuka materi rapat yang sedang dibahas oleh salah satu dewan direksi. Ini semua gara-gara perempuan itu. Suci. Tidak cukupkah semalaman tadi dia membuatku kesulitan tidur? Dan di pagi ini pun bayang-bayangnya masih saja mengganggu, mengakibatkan aku tidak bisa fokus dalam mengikuti rapat ini. Aku bernapas lega, ketika asisten Tuan Wira, yang tak lain adalah CEO di perusahaan ini, menyatakan rapat selesai dan akan dilanjutkan minggu depan. "Biar saya yang membawa berkas dan laptop Anda, Pak Adam. Apa Pak Adam ingin saya buatkan segelas kopi?" cegah Andini ketika aku hendak memasukkan laptop ke dalam tas dan membereskan berkas-berkas di depanku. "Ya, sepertinya aku butuh segelas cappucinno," sahutku, lalu mengusap wajah ini. Mengembuskan napas pendek beberapa kali. Aku pun berdiri seraya merapikan bagian depan jas. "Pak Adam, ditunggu Pak Prawira di ruangannya." Aku menoleh ke arah kiri. Sayang, asisten Pak Prawira itu sudah berjalan kembali menghadap atasannya, dan saat itu pula Pak Prawira sudah berjalan keluar dari ruang rapat. "Apa Anda sedang kurang sehat? Apa saya harus meminta izin--" "Tidak usah. Aku akan menghadap Pak Prawira. Kamu duluan, simpan semua berkas di atas meja," perintahku. "Baik, Pak Adam," sahut Andini. Aku pun melangkah, keluar dari ruangan rapat dan berjalan menuju ruangan CEO. Sesampainya di depan pintu ruangan, aku ketuk segera. Terdengar perintah masuk dari dalam. Aku pun membuka pintu dan melangkah masuk. "Saya ingin laporannya nanti lebih lengkap lagi," ujar Pak Prawira pada asistennya. "Baik, Pak. Akan saya sampaikan," jawab asisten laki-laki muda itu. Sedang aku tetap berjalan menghampiri meja itu. "Kembali ke tempatmu," perintah Pak Prawira. "Baik, Pak. Saya permisi." Asisten itu pun meninggalkan meja sang CEO. "Selamat siang, Pak Adam," sapanya ketika melewatiku. Kuanggukkan kepala. "Duduk, Adam," titah Pak Prawira. Kuanggukkan kepala lagi, lalu duduk di kursi itu. "Bagaimana rapat hari ini?" tanyanya kemudian. "Maafkan atas keteledoran--" "Abi yang harusnya meminta maaf sama kamu, Adam," sela lelaki di depanku. Aku mengangkat kepala, menatap sorot mata itu seksama. "Suci pasti benar-benar membebanimu," tukasnya. Aku terdiam beberapa saat. "Maafkan Adam, Abi. Bagaimana pun juga, Suci adalah istri Adam selama hampir sembilan tahun ini. Suci ... ibu dari Salwa, putri semata wayang kami. Adam selalu mencemaskan Suci setiap malam, begitu juga Salwa." "Ya, Abi mengerti bagaimana perasaan kamu. Sayangnya, Abi sebagai ayah dari Suci juga tidak bisa berbuat banyak. Abi sudah sering memintanya untuk pulang ke rumahmu, tapi apa yang terjadi, dia malah menangis dan mengurung diri di kamar. Ami-nya pun sudah tidak bisa memberi pengertian pada dia. Dan juga Ami mengkhawatirkan kondisi psikisnya. Dokter meminta kami untuk tidak selalu menekan Suci," tutur lelaki itu panjang lebar. "Adam bisa memahami itu, Abi," ucapku. "Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal bersama kami. Mungkin dengan cara itu, Suci bisa berubah secara perlahan." "Maaf, Abi. Bukannya Adam tidak menghargai penawaran Abi, tapi ... Adam juga mencemaskan Salwa. Abi pasti tau seberapa dekatnya dia dengan Suci. Adam takut Salwa malah menjadi berprasangka buruk pada Suci karena selalu bersikap dingin. Anak sekecil itu pasti belum paham dengan kondisi Suci," tolakku secara halus. "Kamu benar. Kita juga patut menjaga perasaan Salwa." Abi tersenyum kecil. "Baiklah, biar Suci menjadi tanggung jawab Abi. Sebisa mungkin Abi dan Ami akan terus memberi dia pengertian. Dan kamu, tetap menjaga Salwa. Kami juga tidak mau jika perkembangan dan pertumbuhan Salwa terganggu karena masalah ini." "Iya, Abi." Kuanggukkan kepala hormat. "Silahkan kembali ke ruanganmu," titahnya. "Terima kasih." Aku pun berdiri. "Adam permisi," pamitku. Kujatuhkan tubuh di atas kursi kebesaran, memikirkan obrolanku bersama Abi beberapa menit lalu. Tersenyum simpul ketika menyadari jika Tuan Prawira memang masih mempercayaiku sepenuh hati. Seperti dulu, tak pernah berubah. Memang harus seperti itu. Aku harus bisa menjaga ini semua. Harga diri, martabat, juga posisiku. Semua hal yang sudah aku perjuangkan selama bertahun-tahun. Impian yang aku kejar secara mati-matian. Impian yang sudah aku tanamkan sejak kecil. Semua, karena memang masa laluku. Aku ingat tentang masa kecilku. Walau terasa samar, tapi ada beberapa kejadian yang membekas dalam ingatan. Seperti saat aku mendapat ejekan dari teman, karena seragam kusamku atau sepatu yang sudah terlepas bagian bawahnya. Bahkan pernah aku ditertawakan ketika tasku jebol, hingga harus meminta kantong kresek pada ibu kantin untuk menampung semua buku dan alat tulis. Aku mengeluh? Tidak pernah. Karena ada seseorang yang selalu memberi nasihat dan semangat. Dia Ayah, lelaki kuat itu. "Jangan pernah mengeluh. Setiap keluhanmu akan menyatu dan terkumpul di sini," ucapnya sambil menepuk pundakku. "Semakin lama, itu akan menjadi beban. Membuat hidupmu terasa berat, padahal kamu tidak memikul apapun." "Adam janji tidak akan mengeluh," sahutku yang kala itu berusia 9 tahun. . Pagi itu, aku bersiap sekolah. Ibu menyiapkan telur dadar dan nasi goreng bumbu kuning. Terasa ada yang berbeda, tapi aku tidak tahu apa. Terlebih ketika Ayah melepasku di depan gerbang sekolah. "Adam, kamu tidak pernah menyesal menjadi anak Ayah, 'kan?" tanyanya setelah aku turun dari motor bebek usangnya. "Tidak, Ayah," sahutku segera. Ayah turun dari motor, mengusap kepalaku lembut. "Seorang anak tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa. Tapi seorang anak bisa memutuskan akan menjadi orang tua seperti apa di masa depannya nanti." Aku mengangguk. "Berjanjilah untuk selalu bahagia, jangan mengeluh." Kembali kuberikan anggukkan kepala. "Ada banyak orang yang ingin merasakan kebahagiaanmu, tapi belum tentu kesedihanmu." "Maksud ... Ayah?" "Jangan perlihatkan kesengsaraanmu di depan orang lain. Semua simpati dan empati yang diberikan, belum tentu tulus." Aku bergeming, karena memang kurang mengerti dengan perkataan Ayah. Bel tanda masuk berbunyi, memisahkan tatap mata kami. Aku berjalan ke arah pintu gerbang dengan beberapa kali tengokan ke belakang, karena Ayah belum juga beranjak dari tempatnya. Umurku sebelas tahun, dan tidak pernah kusangka itu adalah pertemuan terakhir kami. Petuah yang Ayah berikan di sisa usianya, menjadi isyarat jika dia akan meninggalkanku. Sepulang sekolah, kulihat bendera kuning menancap di halaman rumah. "Siapa yang meninggal?" tanyaku pada seorang tetangga. Lelaki paruh baya itu menunjukkan raut dukanya. "Ayah kamu, Dam," sahutnya. "Sabar, ya." Satu tangannya menepuk pelan puncak kepalaku. "Ayah ...?" Panas mulai terasa di kelopak mata. Aku berlari dengan langkah terseok, nyaris terjatuh. Lalu menangis sejadi-jadinya ketika melihat tubuh itu terbujur di dalam rumah, berselimut kain batik, tanpa hela napas. . Setelah itu, kehidupanku berubah. Berbagai keluhan mulai terlontar dari mulut. Ibu yang bekerja sebagai buruh cuci, kesulitan memenuhi biaya hidup kami. Awalnya masih bisa mendapat makan tiga kali sehari, lalu berubah menjadi dua kali sehari. Tak lama kemudian, Ibu hanya mampu membeli beras untuk satu kali makan. Itu pun dengan lauk garam atau kecap. Aku sangat merindukan telur dadar dan nasi goreng kuning. "Kalau saja Ayah tidak meninggal, kita enggak akan seperti ini, Bu," tukasku malam itu. Di waktu aku baru mendapat makan setelah dua hari berpuasa. "Maaf, Adam. Semenjak ada laundry baru di depan itu, para tetangga memilih mencuci baju mereka di sana. Katanya lebih bersih dan harum. Jadi sudah seminggu ini Ibu belum mendapat cucian," sahutnya parau. "Besok Ibu cari cara agar kita tidak kesulitan lagi seperti ini," lanjutnya. Dia tersenyum, masuk ke dalam kamarnya setelah mengusap kepalaku. Aku tahu Ibu pun sama sedihnya, sama letihnya. Hanya saja dia berusaha bersabar dan tak memperlihatkan apalagi membagi bebannya padaku. Aku pun seolah sudah bosan dengan ketabahan yang aku jaga selama ini, hingga tak memikirkan lagi bagaimana perasaannya. . Siang itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dengan langkah tergesa Ibu menghampiri, lalu tampak mengobrol dengan seseorang di dalam kendaraan mewah itu. Tak lama, hanya lima menit. Ibu masuk kembali ke dalam rumah. "Siapa, Bu?" tanyaku cemas. "Kemasi barang kamu, Dam. Kita pindah rumah," sahut Ibu. Agak aneh dengan ekspresi Ibu, tapi aku tidak bisa bertanya lebih karena tahu jika tadi pagi ibu pemilik kontrakan sudah menyuruh kami keluar dari rumah. Mungkin memang kami harus pindah. Mobil itu membawa kami ke sebuah komplek perumahan. Bangunan dengan berbagai gaya dan warna berderet rapi. Kemudian berhenti di depan rumah mungil berwarna cream lembut. "Ini rumah baru kita, Adam," ucap Ibu. Aku menoleh tak percaya. "Rumah kita?" Ibu pun menurunkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajahku. "Iya, ini rumah baru kita. Ibu bisa buka usaha di sini. Ibu janji kamu enggak akan makan sama garam dan cabai lagi, atau pun kecap." Kedua matanya terlihat berembun. Akhirnya kutatap lagi rumah itu, memang ada ruang di sampingnya, sepertinya bekas toko. "Kamu senang 'kan, Adam?" Aku mengangguk semringah. Walau bisa kulihat ada sesuatu yang Ibu sembunyikan di balik senyum getirnya. Terbersit niat untuk bertanya, dari mana asal semua ini. Sayangnya, nalar berkata lain. Lebih baik aku bersuka cita atas perbaikan hidup ini. . Semua berjalan baik. Aku yang baru lulus dari SD, bisa melanjutkan sekolah ke SMP terdekat. Sekolah yang menurutku bagus dan mahal. Lalu Ibu, membuka usaha laundry-nya. Tak tampak lagi dia kelelahan, karena beberapa mesin cuci menjadi alat penunjang. Bahkan tak lama kemudian Ibu mulai memperkerjakan dua orang karyawan untuk membantu. Keluhan itu tak ada lagi. Aku kembali tersenyum ketika di pagi hari Ibu menyajikan telur dadar dan nasi goreng kuning. Di sekolah pun aku tak pernah mendapat ejekan apa pun, karena baju dan peralatan sekolah selalu layak pakai. Seperti mukjizat. Aku merasa, Allah menjawab semua keluhanku. Setiap hari aku mengucapkan syukur di waktu sujud, dari waktu ke waktu. Hingga seorang Adam bisa menuntaskan pendidikan ke jenjang S1, tanpa kendala sedikit pun. . Malam itu, aku bersama beberapa teman merayakan kelulusan kami di sebuah kafe. Rasa haru dan bangga menyelimuti karena bisa mendapat gelar sarjana tepat pada waktunya. Namun, sepertinya yang paling menonjol diantara semua adalah aku. Terutama setelah beberapa teman melontarkan pujian tentang nilai IPK-ku yang sangat memuaskan. "Adam pasti jadi orang sukses. Ngelamar di perusahaan manapun pasti keterima," tukas salah satu teman. "Pasti!" terdengar sahutan serempak. "Entar kalau lu sukses, jangan lupa ama kita-kita, ya, Dam. Temen seperjuangan," ucap teman yang lain. "Gue enggak bakal lupain kalian," sahutku disertai rasa rendah diri. "Gue ke toilet dulu bentar, ya," pamitku. Bahagia? Tentu saja, dan yang paling bangga melihatku pastilah Ibu. Perempuan yang selama ini sudah rela berjuang demi aku. "Aduh!" Aku yang hendak berbelok, sedikit terlonjak. "Astaga!" Sambil mengusap kemeja di bagian d**a yang terasa basah. "Maaf, Mas. Tidak sengaja." "Kalau jalan hati-hati, dong, Mbak," tegurku tanpa melihatnya. Aku yakin dia perempuan. "Maaf, sedang buru-buru," ujarnya lagi. "Buru-buru ya buru-buru, tapi tetep harus pakai mata," ucapku kesal. Lalu kuangkat kepala, melihat perempuan itu. "Maaf," ucapnya lagi, dengan satu tangan masih memegang gelas berisi minuman. "Jadi basah, nih. Mana pulang masih lama," ketusku. "Heh, Kakak gue udah minta maaf. Lo masih aja nyolot!" Tiba-tiba terdengar bentakan dari arah belakangku. "Kakak yang salah, Satria," ucap perempuan di depanku. "Ya, tapi 'kan Kakak udah berkali-kali minta maaf." Remaja lelaki itu melangkah, berdiri di samping kakaknya. "Baju gue basah, dan ini acara perayaan penting," paparku. "Ya udah, berapa harga kemeja lo? Gue ganti!" teriak pemuda itu. "Satria, jangan begitu." Perempuan itu memegang pundak adiknya dengan tangan yang satunya. "Maksud lo apa?!" Aku membalas teriak. "Ada apa, Dam?" Beberapa temanku menghampiri. "Maaf, Mas. Saya tidak sengaja menumpahkan minuman ke Mas ini. Saya minta maaf." Perempuan itu berkata dengan sopan, bahkan membungkukkan setengah tubuhnya. "Oh, ya udah enggak apa. Nanti juga kering, Dam. Nanti kita bersihin di meja," saran salah satu teman. Tak ingin terjadi keributan, aku pun mengalah dan menyetujui ajakan teman-teman. Kami pun menghabiskan malam dengan berbagai cerita dan kenangan semasa kuliah diselingi tawa. Walau begitu, dua wajah yang sempat membuatku kesal masih terbayang hingga acara selesai. . "Fresh graduate?" Lelaki berkaca mata itu menyimpan map yang bahkan belum dia baca seluruh kertas di dalamnya. "Iya, dengan nilai IPK 3,50," terangku dengan rasa bangga. Kupikir dia belum melihatnya. "Tapi itu bukan jaminan," ujarnya diakhiri tawa kecil. "Kamu lihat 'kan persyaratan yang kami sertakan dalam pengumuman? Pe-nga-la-man," tekannya. Senyumnya itu, tampak jelas jika dia meremehkanku. "Maaf, saya pikir untuk hal itu bisa dipelajari setelah bekerja," ujarku merendah. "Kamu pikir posisi yang kamu incar ini bisa dianggap mudah?" Aku terdiam. Manajer Pemasaran memang tak patut dipandang sebelah mata. "Jika memang mau bekerja, perusahaan kami sedang membuka lowongan untuk posisi yang lain." Aku tersenyum disertai anggukan. Berharap itu pekerjaan yang sesuai dengan minatku. "Office Boy," sambungnya. Amarah mulai memuncak. Mati-matian aku menahan emosi dalam d**a. Aku berdiri, mengambil map berisi surat lamaran. "Saya pikir, saya memang tidak pantas diterima di perusahaan ini. Apalagi memiliki atasan seperti Anda." Lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Sempat kulihat rangkain huruf yang terukir di papan nama--atas meja, Seto Adi Nugroho. . "Kenapa hidup selalu mempermainkan Adam, Bu? Dunia tidak pernah sepenuhnya memihak pada Adam." Aku merebahkan kepala di atas pangkuan Ibu yang sedang khusu berzikir. Alih-alih kaget atas kedatanganku, Ibu hanya menarik napas dalam. Kemudian mengusap lembut kepalaku. "Sabar, Adam. Allah meminta kamu untuk berjuang lebih keras." "Kurang apalagi perjuangan Adam. Hari ini, sudah tiga perusahaan yang Adam datangi dan semua menolak. Semua teman dekat Adam sudah bekerja, hanya Adam yang masih mengangggur setelah tiga bulan lulus," keluhku. Terasa tepukan di pundak beberapa kali. Aku pun bangkit dan duduk menghadap Ibu. "Bolehkah Adam mengeluh, jika Adam sudah lelah dengan hidup yang seolah selalu mempermainkan ini?" "Astagfirullah, kamu tidak boleh berkata seperti itu, Adam. Istigfar." . Kusimpan gelas di meja, setelah mendengar suara dering ponsel. Sempat aku menatap layarnya, entah nomor siapa. "Halo?" "Halo, selamat pagi. Dengan Pak Adam?" "Ya, saya Adam. Maaf, dengan siapa saya berbicara?" "Saya Fina, sekretaris Pak Prawira. Saya ingin menyampaikan pesan dari beliau, jika Anda besok diundang ke perusahaan kami untuk melakukan interview." "Interview?" "Iya. Saya harap Anda datang tepat waktu, pukul delapan di perusahaan Winner Group. Katakan saja pada resepsionis jika Anda sudah memiliki janji dengan Pak Prawira." "Baik. Saya akan datang tepat waktu. Terima kasih," sahutku penuh suka cita. Kuletakkan kembali ponsel setelah sambungan terputus. Lalu berlari menemui Ibu di ruang binatu. "Ibu, Adam dapat panggilan, Bu!" "Astagfirullah, Adam. Kamu bikin Ibu kaget." "Adam dapat telepon dari sekretaris Pak Prawira. Besok Adam dipanggil ke perusahaannya. Ibu tau siapa Pak Prawira? Dia pengusaha sukses, pemilik perusahaan juga pemegang saham di beberapa perusahaan di negara ini." "Tentu saja Ibu tau. Dulu Ayah kamu bekerja di salah satu proyek beliau. Alhamdulillah, kalau begitu. Ibu turut bahagia." "Tidak salah Adam menuruti anjuran teman Ibu itu. Padahal baru dua hari lalu lamarannya dititipkan. Sampaikan terima kasih Adam sama dia, Bu." "Iya, pasti." Ibu mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Itulah awal mula aku bertemu dengan Tuan Prawira Lesmana. Bermula dari interview, hingga diterima bekerja di perusahaannya. Akan tetapi, siapa sangka. Dari situ pula awal aku menjadi bagian dari keluarganya. Aku ... kini adalah menantunya. ***** --bersambung--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN