Bab 10. Tentang Suci

1780 Kata
"Jadi ... Ayah yang mau datang ke rapat hari ini?" tanya Salwa setelah meneguk s**u rasa full cream di gelasnya. "Memang kalau bukan Ayah, siapa lagi?" sahutku tak acuh sambil meneguk sisa teh di gelas. "Berangkat sekarang?" tanyaku, lalu berdiri merapihkan jas di tubuh. "Kenapa?" Aku bertanya lagi karena melihatnya yang sedang memutar pandangan ke sana ke mari. "Dari kemarin sore Sawa lihatin rumah kita," ucapnya. "Terus?" "Berantakan banget, Ayah. Coba lihat, piring sama gelas kotor itu. Masih ada dua piring dan dua gelas bersih. Kalau kita pakai untuk makan malam ini, besok kita sarapan pakai apa, dong?" tunjuknya ke arah wastafel. "Kenapa kamu harus mikirin piring sama gelas kotor?" "Ya, biasanya 'kan kalau ada Bunda semua beres. Rumah rapi, piring dan gelas bersih. Mm, terus ... ikatin rambut Sawa juga," celotehnya dengan raut wajah yang sepertinya sengaja dibuat polos. "Kamu mau diiket rambutnya?" Salwa menganggukkan kepala. "Ibu Rima suka tanya kenapa rambut Sawa berantakan terus," ucapnya seraya merunduk. Aku mengembuskan napas. "Ya, sudah. Sini bawa sisir sama karetnya!" perintahku. "Iya, Ayah." Salwa turun dari kursi lalu berlari menuju lantai dua. Aku hanya bisa mendengkus kesal. Kemudian mengelilingkan pandangan. Benar juga apa kata Salwa. Rumah ini sangat berantakan sekali. Jika ada Suci .... Apa? Kenapa aku harus memikirkan dia? Astaga. "Ini, Ayah." Salwa datang menghampiri, memberikan sisir juga plastik berisi karet ikat rambut. "Sini," ajakku, melangkah menuju ruang tengah. "Poni-nya udah agak panjang, Ayah. Nanti pulang sekolah potongin, ya," pinta Salwa saat aku mulai menyisir rambutnya. "Sama Nenek aja, Ayah enggak bisa," sahutku. "Hm. Ya, udah. Nanti minta sama Nenek aja," ujarnya lagi. Aku mengikat rambutnya menjadi dua. Biasanya Suci memang mengikat seperti itu. "Udah," ucapku, lalu menyimpan sisir ke atas meja dengan gerakan setengah melempar. Salwa berdiri, lalu bercermin di depan lemari kaca. Dia tersenyum sendiri dengan kedua tangan mengelus ikatan rambutnya. Aku pun merapikan kembali jas di tubuh. "Makasih, Ayah." "Sama-sa ...." Aku menoleh ke arah anak itu. Dia tersenyum memperlihatkan deretan giginya setelah mencium pipiku. "Ayo, kita berangkat. Nanti telat," ujarnya. "Hm." Aku pun berdiri, lalu meriah tas kerja di atas meja. . "Assalamu'alaikum, Ibu Aisyah." Salwa menyapa seorang perempuan yang berdiri di depan pintu. "Waalaikumsalam, Salwa. Cantik sekali pagi ini." Perempuan itu mengulurkan tangan kanannya. Dengan sigap Salwa mencium punggung tangan perempuan itu. "Pagi ini Ayah ikatin rambut Sawa. Bagus, 'kan?" Dia memutar kepala setengah lingkaran. "Bagus, dong. Terus, hari ini ke sini sama siapa?" "Itu, Ayah Sawa," tunjuknya ke arahku. "Oh, ini Ayah Salwa." Perempuan itu tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala. "Assalamualaikum, selamat pagi. Silakan, masuk. Rapat sebentar lagi dimulai." "Waalaikumsalam, selamat pagi." Aku membalas anggukkan kepalanya. "Ayo, Ayah. Sini. Lihat gambar Sawa!" Tiba-tiba Salwa menarik lenganku, membawa masuk ke dalam kelas. "Salwa, pelan-pelan. Jas Ayah kusut nanti," bisikku. Akan tetapi, anak itu seperti tidak peduli. Dia terus menarikku, membawa ke salah satu sudut kelas. Membuat beberapa orang tua murid yang sudah datang lebih dulu menatap aneh ke arahku. "Ini, ini, ini, ini, ini. Semua gambar Sawa." Dia menunjuk sederet gambar pemandangan, ada juga gambar istana besar. "Di kelas A juga ada gambar Sawa. Ayah mau lihat?" tanyanya penuh semangat. "Nanti aja, 'kan mau--" "Salwa." Terdengar panggilan dari arah belakangku. "Ibu Rima," ucap Salwa. "Ibu, ini Ayah Sawa sudah datang." "Wah, iya. Benar, 'kan. Ibu bilang Ayah pasti datang." Dia mengelus puncak kepala Salwa yang memang sudah berdiri di depannya. "Ayah juga ikatin rambut Sawa. Ini, lihat. Bagus, 'kan?" Lagi-lagi dia memutar kepalanya. "Bagus, cantik. Kamu duduk, ya. Simpan tas-nya," perintah Ibu Rima. "Iya, Ibu." Salwa pun berjalan ke arah bangku yang berjajar. "Assalamu'alaikum, Pak Adam." Kini Ibu Rima menghadap ke arahku. "Waalaikumsalam. Maaf, sepertinya anak saya itu terlalu aktif. Pasti ibu guru kewalahan menghadapinya," ujarku. "Tidak apa, Pak Adam. Justru itu bagus. Saya senang melihat anak didik saya ceria dan aktif seperti Salwa. Hanya saja, memang belakangan ini Salwa sering terlihat melamun dan menyendiri. Ketika saya tanya, dia bilang Bunda masih sakit. Kemarin pun dia mengeluhkan hal yang sama. Dia bilang dia takut kalau Bunda tidak bisa datang ke sekolah untuk rapat hari ini. Apa itu benar, Pak Adam?" "Ya, istri saya masih sakit. Untuk itu saya yang datang demi menghadiri rapat ini," tuturku. "Terima kasih banyak sebelumnya. Kalau begitu, silakan duduk. Kepala sekolah sebentar lagi akan memulai acara." "Ya, terima kasih kembali." Aku pun melangkah lalu duduk di salah satu kursi kosong, di mana hampir seluruh penghuni ruangan ini adalah perempuan. Sepanjang acara rapat berlangsung, Salwa terus duduk di atas pangkuanku. Padahal semua temannya memilih bermain di luar. Bahkan ketika ada satu temannya yang mengajak ke luar pun Salwa tetap menolak. Sesekali dia menoleh ke arahku, lalu tersenyum, lalu meraba ikatan rambutnya. Astaga, anak ini. Seandainya bukan di tempat umum. . "Dam, yok!" Cakra berkata dengan raut memelas. "Enggak bisa. Sorry." Untuk kesekian kalinya aku menjawab yang sama. "Masa, sih? Udah dari Senin enggak bisa, Rabu enggak bisa, sekarang hari Jumat pun enggak bisa juga. Padahal dulu lo yang paling semangat, lho!" tukas Cakra. "Lo tau sendiri, gue mesti jemput Salwa di rumah Ibu," terangku. "Ya, sekali-sekali jemput telat emang enggak bisa?" Cakra terlihat mulai kesal. "Enggak bisa, Salwa udah tau jadwal pulang gue. Kalau gue telat, dia bakal teleponin gue," jawabku lagi. Padahal yang sesungguhnya adalah aku tidak mau Ibu sampai tahu jika aku memiliki jadwal rutinitas di setiap minggu. Betapa dia akan kecewa, jika mengetahui anak kesayangannya ini lebih memilih melewatkan banyak waktu untuk bermain Billiard, Bowling dan Fitness bersama teman-temannya hingga larut malam dari pada menghabiskan waktu senggang bersama anak dan istri. "Ckckck, ya udah lah. Gue enggak bisa maksa lagi." Cakra pun berdiri, meraih map di atas meja. "Saya kembali ke meja, Pa Direktur," pamitnya. "Ya," sahutku. "Eh, Ka. Dodi enggak cerita apa-apa sama lo?" Cakra yang hendak melangkah, berputar lagi. "Cerita apaan emang?" Aku menggelengkan kepala. "Udah, lah. Nanti aja gue ceritain." Kembali aku menatap layar laptop di depan. Terdengar decakan kesal Cakra. Hingga akhirnya dia keluar dari ruanganku. Baru saja menggerakkan jemari di atas keyboard, terdengar pintu diketuk kembali. "Ya, masuk," sahutku. "Selamat siang, Pak Adam." Suara itu terdengar seiring langkah kaki memasuki ruangan. Detak heels-nya sangat terasa khas di telinga. "Bu Fani?" Aku mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Selamat siang," sahutku pada sekretaris Pak Prawira itu. "Tidak salah Pak Prawira selalu menyanjung Anda. Anda terlihat serius sekali ketika sedang bekerja," selorohnya. "Anda bisa saja," timpalku diakhiri seulas senyum. "Apa ada sesuatu yang penting?" tanyaku. Biasanya memang seperti itu. Jika sekretaris CEO ini sudah turun tangan, pasti informasi atau perintah darinya adalah langsung dari atasannya. Fani menyimpan sebuah map. "Tadi pagi Pak Prawira bersama Pak Satria berangkat ke Yogyakarta. Pak Prawira ingin Anda memeriksa laporan ini. Jika sudah, beliau ingin Anda mengantarkannya ke rumah karena sepulang dari Yogjakarta Pak Prawira ingin mengetahui detailnya secara ringkas." "Baik, saya mengerti." Kuanggukkan kepala, lalu meraih map itu. Ternyata isinya adalah laporan dari salah satu anak perusahaan Winner Group. "Kalau begitu saya permisi." Fani memberikan seulas senyum. "Ya, silakan." Kuberi isyarat tangan. Selepas perempuan berhijab itu pergi, aku menatap map di tangan. Kusimpan di atas meja lalu berganti mengambil amplop dari dalam tas. Hasil CT Scan milik Suci, yang belum sempat aku antarkan ke rumahnya. Tidak ada Abi dan Satria, hanya ada Ami. Apa ini kesempatanku untuk bertanya langsung padanya? Aku tahu, Suci lebih dekat dengan Ami. Setidaknya, perempuan itu pasti lebih paham bagaimana kehidupan putrinya itu. . "Halo, Adam." "Halo, Bu. Adam sepertinya hari ini agak telat jemput Salwa. Adam harus mengantarkan laporan ke rumah Abi." "Oh, iya tidak apa. Sawa lagi anteng main sama Laila, kok." "Itu Ayah, itu Ayah ya, Nek? Sawa mau ngomong!" "Iya, ini." "Halo, Ayah." "Ya, ada apa?" "Tadi di madrasah nilai kaligrafi Sawa sembilan puluh, lho. Paling tinggi. Yang lain enggak ada yang sebagus Sawa gambarnya," ujar anak itu. Dari nada suaranya jelas dia sedang senang sekali. Aku berdehem. Harus bicara apa aku? Sepertinya Suci selalu mengatakan sesuatu jika Salwa sudah melaporkan hasil nilainya yang bagus. "Bagus, kamu memang anak pintar. Hebat. Mau hadiah apa dari Ayah?" "Hadiah?" "Iya. Kamu mau minta hadiah?" "Mm, hadiah apa, ya?" Hening sejenak. Sepertinya Salwa sedang berpikir. "Nenek, Sawa minta hadiah apa, ya? Boneka atau ... ah, nanti aja deh, di rumah Sawa kasih tau Ayah." Aku memutar bola mata. Astaga. "Ya sudah, Ayah tutup dulu teleponnya, ya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Suara kecil dan cempreng itu menyahut. Kumatikan tombol handsfree di telinga. Kembali fokus pada jalanan di depan. Hingga akhirnya mobil memasuki kawasan perumahan elit dan berkelas, lalu berbelok ke salah satu rumah berpagar putih. "Selamat sore, Pak Adam." Pak Karman menyapa sembari membuka pintu gerbang.. "Selamat sore, Mang," sahutku. Lalu melajukan mobil setelah gerbang terbuka seluruhnya. Kuhentikan mobil di depan teras. Menatap dua benda di jok samping. Laporan perusahaan dan hasil CT Scan. Apa ini saatnya? Ya, kurasa sekarang lah waktunya. Aku tidak bisa seperti ini terus. Rasanya seperti dipermainkan oleh kelakuan istriku sendiri. Aku turun setelah meraih dua benda itu. Mengatur degub jantung sebelum melangkah menaiki teras. Baiklah, aku harus mengentaskan rasa penasaran ini. Aku menekan bel dua kali, karena memang pintu rumah tertutup rapat. Kurang dari satu menit, terdengar langkah kaki bersahutan. Seperti berjalan dengan setengah berlari. Siapa? Bi Marni tidak pernah melangkah cepat seperti itu. "Sebentar," ujar seseorang dari dalam. Pintu pun terbuka. "Sia ... pa?" Suci? "Oh, kamu. Mau ketemu siapa?" tanyanya ketus. Aku memiringkan kepala dengan kedua alis bertaut. "Kenapa harus bertanya seperti itu?" ejekku. Suci membuang muka, detik kemudian dia menatap ke arah tanganku. "Abi enggak ada. Lagi pergi. Pulang nanti malam." "Aku tau," jawabku. "Biar aku--" "Siapa itu, Suci?" Kali ini terdengar suara Ami dari arah dalam. "Oh, ini Ami. Mm ...." Suci terlihat gelagapan. "Adam? Kenapa tidak disuruh masuk?" tegur Ami. Suci akhirnya menggeser tubuhnya. Aku pun bisa masuk dengan leluasa. "Assalamualaikum, Ami." Aku meraih tangan perempuan itu, lalu mencium punggung tangannya. "Waalaikumsalam. Mau antar laporan itu? Tadi Abi sudah cerita," ujar Ami. "Iya, Ami. Ini." Lalu kuberikan map berwarna biru di tangan. "Terima kasih." Ami menerimanya segera. "Itu ... apa?" tanyanya setelah melihat amplop coklat di tanganku. "Ah, ini." Kuangkat benda di tangan. "Ini hasil CT Scan kepala Suci. Dokter Winda menelepon Adam. Dia bilang sebelumnya sudah menelepon ke rumah ini dan meminta Suci untuk datang check up ke rumah sakit, tapi sayangnya Suci menolak," tuturku. "Check up?" Ami terlihat kaget. Kemudian menoleh ke arah Suci. "Benar itu, Suci?" Suci terdiam, merundukkan kepalanya. "Sebenarnya sudah beberapa hari lalu, dan Adam berniat untuk menyimpannya saja. Tapi ... ada sesuatu hal yang ternyata membuat Adam penasaran dan ingin tau," ujarku. Ami terdiam sesaat. Dia menoleh ke arah Suci yang ternyata masih merundukkan kepala dengan jemari saling meremas. Apa mungkin, aku bisa mendapat jawabannya dari Ami? Tentang seperti apa kehidupan Suci di masa lalu, juga tentang kecelakaan yang menimpanya itu. ***** --bersambung--
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN