"Kita bicara di dalam saja," ajak Ami. "Iya, Ami," sahutku. Kemudian menoleh ke arah Suci. Dia tampak tidak suka dengan perkataan ibunya. "Suci, jangan diam saja. Buatkan minuman untuk Adam," titah Ami pada Suci. "Baik." Suci mengangguk, lalu berjalan lebih dulu ke arah dapur. Aku pun melangkah mengikuti Ami menuju ruang keluarga. "Dokter Winda mengatakan apa tentang Suci?" tanya Ami selepas kami duduk. Aku membuka amplop dan mengeluarkan hasil CT Scan lalu menyimpan keduanya di atas meja. "Karena benturan keras dalam kecelakaan itu, menyebabkan cedera di kepala Suci." Aku menunjuk sebuah lingkaran. Ami meraih kertas film itu, memperhatikannya seksama. "Hanya saja, Dokter Winda mencurigai jika Suci sebelumnya juga mengalami hal yang sama," lanjutku. "Maksudnya?" Ami menoleh ke ar

