Bab 15. Cerai? (2)

1796 Kata

Seperti tertidur dalam waktu panjang, lalu kini terbangun dengan keadaan berbeda. Jauh berbeda, dari kenyataan. Aku terduduk lesu setelah semalaman kesulitan tidur. Bukan karena membacakan dogeng untuk Salwa, tapi memikirkan Suci. Entah kenapa, bayang-bayangnya terus melintas dalam benak. Sorot matanya. Ekspresi wajahnya. Lalu perkataannya itu yang meminta cerai dariku. Argh, aku benci mengatakannya. Namun, ini seperti menjadi ketakutan bagiku sendiri. Bagaimana jika besok, atau besok, atau besoknya, dia datang lagi untuk memaksaku menceraikannya segera? Itu tidak masalah jika aku masih bisa menanganinya, hanya saja yang aku pikirkan, bagaimana jika suatu hari nanti aku kesulitan untuk menahan keinginannya? Kuusap wajah, yang kuyakin sudah tampak kuyu. Logika dan batin kini berdebat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN