"Cerai?" Aku menggumamkan kata itu. "Maksud Abi ...." Lalu aku terdiam menatap sorot matanya. Lelaki itu pun terdiam, menatapku dengan tatapan yang seolah sudah pasrah tak berdaya. Pasrah karena ucapannya itu dan tak berdaya untuk menerima jawaban dariku, sepertinya. "Tapi ... Adam sangat mencintai Suci. Adam tidak sanggup kehilangan Suci, juga ...." Kemudian aku menoleh ke arah Salwa. "Adam tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Salwa bertanya tentang pernikahan Ayah dan Bundanya. Adam ...." Aku menelan saliva. "Ini, Opa! Sawa udah beres gambarnya. Lihat! Lihat! Ini Opa, ini Oma, ini Om Satia. Bagus, 'kan?" Salwa menunjukkan buku gambar pada Abi. "Bagus sekali," puji Abi. "Opa, Opa. Tadi di sekolah juga Sawa dapat nilai paling besar." "Oya?" "Iya, Opa." Raut wajah lelaki itu pun

