Bab 17. Rencana Adam

1168 Kata

Aku memasuki restoran yang dijadikan Satria sebagai tempat untuk makan siang. Aneh. Kenapa aku merasa sangat terhormat dengan caranya ini? Maksudku, jika ada yang ingin dia bicarakan bukankah bisa saja langsung datang ke rumah, atau setidaknya menemuiku ke kantor. Kenapa harus membuat janji makan siang lewat Andini? Tampak sosok lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu duduk di salah satu meja di samping jendela, dengan kedua tangan memegang sebuah majalah bisnis. Aku pun melangkah menghampirinya. "Sudah lama?" tanyaku, lalu duduk di bangku yang berseberangan dengannya. Satria mengangkat wajahnya, lalu tersenyum miring. "Belum terlalu lama, tapi gue udah pesenin cappucinno buat lo," sahutnya sembari menutup majalah dan menyimpannya di atas meja. "Apa kabar?" Lalu dia menyandarkan punggu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN