Bab 10. Merasa Rendah Diri

1017 Kata
"Mas Fabbyan, Lollyta enggak mau nikah sama Arvino," renggek Lollyta setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. "Kamu bilang jujur saja sama Ibu dan Bapakmu, Lol. Pasti mereka dengerin kamu," saran Fabbyan ketika mengendarai mobilnya. "Masak sih tahun segini masih dijodohin, enggak keren, itu namanya pemaksaan!" protes Lollyta, setelahnya dia menatap ke arah Fabbyan. "Owh iya, dulu kan Mas Fabbyan dijodohin juga ya. Tapi akhirnya, kalian bisa hidup bahagia, saling mencintai dan punya Rayyan. Tapi ... sayang sekali, maut malah memisahkan kalian. Apa setelah menikah aku juga akan hidup bahagia bersama dengan Arvino seperti kalian, ya?" "Jangan, Lol!" jawab Fabbyan cepat. "Hah? Jangan kenapa, Mas?" tanya Lollyta dengan kening yang berkerut. "Katamu Arvino pernah selingkuhin kamu. Tau enggak, kalau selingkuh itu adalah salah satu penyakit mental yang paling susah sembuh. Bisa-bisa setelah kalian menikah, nanti kamu malah diselingkuhi lagi loh sama si Arvino," jelas Fabbyan. Pria itu juga tak mengerti kenapa dia bisa berpikiran seperti itu. "Astaga, aku ngomong apaan sih sama Lolly, apa artinya aku cemburu? Eh apa aku udah mulai cinta sama Lolly? Enggak-enggak, jangan! Dia itu terlalu kecil buat kamu Fabbyan!" gumam Fabbyan bergelut dengan dirinya sendiri. "Hem, bener juga, Mas. Ya sudah, aku pokoknya bakal berjuang melawan Ayah dan Ibuk, aku serius mau nolak perjodohan antara aku dan Arvino." Lollyta mengangguk dan memantapkan hatinya, meski tak bisa dipungkiri, perasaan cinta masih ada sedikit untuk Arvino. Keesokan harinya, Lollyta, Fabbyan dan Rayyan pergi ke rumah sakit karena sudah waktunya Rayyan mendapatkan suntikan imunisasi. Ketiganya benar-benar seperti keluarga kecil bahagia, semua orang pasti mengira Lollyta adalah ibu kandung Rayyan. "Selamat pagi, Dokter Fabbyan, lagi nganter imunisasi anaknya ya, Dok?" sapa seorang dokter cantik yang masih menggenakan jas dokternya. "Pagi, Dokter Erika, iya ini jadwalnya anak saya imunisasi." Fabbyan tersenyum ramah sambil menimang-nimang Rayyan yang saat itu baru saja terbangun dari tidurnya. Lollyta menatap keduanya secara bergantian, hal itu membuat Lollyta menjadi ingat dengan ucapan almarhum Rania. "Kata Bu Rania dulu, Mas Fabbyan putus sama pacarnya pas SMA gara-gara si gadis itu dari kalangan biasa dan bukan dari keluarga dokter. Sepertinya Mama Rayyan yang baru pun pasti adalah seorang dokter juga yang akan disiapkan oleh orangtuanya Mas Fabbyan nanti," gumamnya dalam hati. Hati Lollyta terasa berdenyut nyeri, dia menatap bayi tampan yang sedang tersenyum dan membatin, "Aku enggak mau pisah sama Dedek Rayyan ku tersayang." Bagi Lollyta, Rayyan adalah dunianya saat ini. Sebagai anak tunggal dia memang merasa kesepian, tapi semenjak bayi kecil itu hadir, hidupnya terasa lebih berwarna. Ikatan keduanya seperti ibu dan anak kandung, bahkan hanya Lollyta yang bisa menenangkan Rayyan ketika bayi itu sedang menangis. "Olly, Olly," cicit Rayyan dengan tersenyum dan menggerakkan tangan mungilnya karena ingin digendong Lollyta. "Sini-sini, Lolly gendong Dedek Rayyan tampanku yang tersayang." Lollyta langsung mengambil Rayyan dan menciumi pipi bayi kecil itu dengan gemas. Melihat hal itu membuat hati Erika merasa tidak nyaman, namun dia menutupinya dengan senyuman. "Akrab banget ya mereka, lucu deh lihatnya, kayak ... Kakak Adek." Sengaja memang Erika berkata seperti itu. "Apa itu kata pertamanya Dek Rayyan? Olly?" imbuhnya menatap wajah Fabbyan. "Iya, dia belum bisa manggil Papa padahal. Tapi suka banget manggil Lolly, diajarin manggil Tante juga enggak mau, maunya Olly," jelas Fabbyan dengan mata berbinar-binar. Erika semakin tidak suka melihat pemandangan ketiga orang itu. "Saya pamit dulu ya Dokter Fabbyan, masih ada praktek lagi soalnya, permisi." "Owh iya hati-hati, Dokter Erika," jawab Fabbyan tersenyum ramah. Baru saja Fabbyan memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Pria itu dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya. Entah kenapa bukannya senang, tapi hal itu malah membuat Fabbyan merasakan rasa yang tidak nyaman. Jika kedua orangtuanya datang, itu artinya ada hal penting yang harus mereka diskusikan, hal yang harus Fabbyan lakukan. "Lihat Rayyan, ada Kakek dan Nenekmu datang," ucap Lollyta tersenyum lalu menghampiri ke arah orang tua Fabbyan. "Halo Om, Tante, apa kabar," sapanya lalu mencium punggung tangan keduanya. "Alhamdulillah baik. Sini, sini, cucu Nenek yang ganteng. Yuk gendong sama Nenek, mau kan ya?" Elva merentangkan tangannya hendak mengambil Rayyan. Namun Rayyan menolak dan malah menangis. Bayi kecil itu malah semakin memeluk erat tubuh Lollyta karena takut dengan sang Nenek. "Olly, Olly, Olly," renggek Rayyan. "Itu kan nenek kamu, Rayyan, kamu enggak usah takut. Nenek kangen sama Rayyan, mau kan Rayyan digendong sama Nenek?" rayu Lollyta dengan nada lembutnya. "Olly, Olly, Olly." Rayyan menggeleng dan menyembunyikan wajahnya di d**a Lollyta. Melihat sang anak ketakutan membuat Fabbyan berkata, "Mah, Rayyan habis diimunisasi, dia sedang rewel dan kalau lagi rewel begitu dia emang maunya dipeluk sama Lolly terus. Lebih baik, ayo kita bicara di dalam rumah saja sekarang!" Fabbyan lalu menatap ke arah Lollyta. "Bawa Rayyan ke rumah kamu ya, Lol! Dia mungkin sedang mengantuk," perintah Fabbyan sebelum masuk ke dalam rumahnya. "Baik Mas, mari Om, Tante, saya permisi dulu," pamit Lollyta sebelum meninggalkan rumah Fabbyan dan berjalan ke rumahnya. "Kenapa kalian ke sini? Langsung saja katakan apa yang kalian mau!" ucap Fabbyan saat mereka semua sudah duduk berkumpul di ruang tamu. "Mama sama Papa pengen kamu pindah dari sini!" jawab Elva to the poin. "Mah, Pah, tadi kalian lihat sendiri kan kalau Rayyan hanya mau digendong sama Lolly? Tolong jangan egois, biarkan kami tinggal di sini." Fabbyan sebisa mungkin menahan nada bicaranya, padahal saat ini dia sedang emosi. "Justru itu, Bi! Sebelum Rayyan bertambah besar dan bergantung pada keluarga Lolly! Dia itu cucuku dan aku berhak membawa Rayyan ke rumahku," sentak Ardi, Papa Fabbyan. "Pah, aku ini Papanya Rayyan, aku yang berhak memilih dia tinggal dengan siapa," balas Fabbyan cepat. "Tolong jangan ikut campur kehidupanku, Pah." "Kita sudah menyiapkan calon istri untukmu, Bi. Dia seorang dokter yang sangat cantik. Mama jamin dia lebih cantik dari Rania. Statusnya juga masih perawan, meski begitu, dia pasti akan menyayangi Rayyan sepenuh hati seperti Lolly," imbuh Elva. "Apa-apaan kalian ini! Bahkan belum genap satu tahun Rania meninggal dunia, tapi kalian sudah tega merencanakan hal konyol itu!" bentak Fabbyan, pria itu sampai berdiri karena emosinya sudah memuncak. Ardi juga langsung berdiri, pria itu langsung menampar pipi anaknya dengan keras. "Mau jadi anak durhaka kamu! Kamu begini karena kematian Rania yang belum genap satu tahun atau karena kamu sudah jatuh cinta pada baby sitter anakmu sendiri?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN