BAB 9 Kejutan Tak Diinginkan

1015 Kata
Lollyta mengerjap, hidungnya mencium aroma parfum yang dia kenali dan dia sukai. "Eh, bau Pak Dokter, eh maksudnya bau Mas Fabbyan," batinnya lalu cepat-cepat membuka mata. Fabbyan yang sedang memandangi wajah Lollyta terkejut karena tiba-tiba Lollyta terbangun. "Kok kamu malah bangun sih, Lol? Udah malam loh ini. Mendingan kamu tidur lagi aja, besok kan kamu ada jadwal kuliah!" perintah Fabbyan lembut. Lollyta duduk, dia memegangi perutnya. "Lolly laper banget, Mas Fabbyan. Ibuk cuma masak sayur yang Lolly nggak suka, jadi Lolly belum makan malam tadi," ucapannya dengan memasang puppy eyes berharap Fabbyan iba padanya. Fabbyan juga merubah posisinya untuk duduk. Berhasil, pria itu memang merasa iba pada Lollyta. "Yuk, kita makan malam di luar, kamu mau makan apa? Nasi goreng, mie goreng, mie rebus, kwetiau, sate, ayam goreng, lele goreng atau apa, Lol? Bilang aja nanti kita makan malam bareng, soalnya aku juga belum makan malam," ujarnya sambil menatap wajah Lollyta. Lollyta tersenyum girang dia lalu berdiri dan langsung mengambil jaketnya. "Nanti Lolly putusin pas di jalan aja ya, Mas, yang penting ayo kita jalan dulu. Anggap aja kita lakukan kencan pertama kita." Fabbyan terkekeh, dia lalu berdiri. "Makan malam bareng, Lol! Ini bukan kencan!" Dia sengaja mengkoreksi ucapan Lollyta karena ingin melihat reaksi Lollyta yang menggemaskan ketika gadis itu merajuk. "Ish, kencan ya kencan!" jawab Lollyta cepat dia lalu mengandeng tangan Fabbyan. "Ayo kita titipin Rayyan ke Ibuk dulu." Keduanya keluar dari kamar Lollyta, dengan tangan Lollyta yang masih mengandeng tangan Fabbyan, gadis itu berkata dengan gaya genitnya pada Hatini, "Ibuk, titip anak kita ya Buk, kita mau jajan, makan malam sekaligus kencan. Ibuk mau makan apa? Nanti biar dibeliin sekalian." "Ibuk nitip martabak manis aja deh Lol, kayaknya kok pengen yang manis-manis ya," jawab Hartini, dia lalu mengambil uang dari saku dasternya. "Nih uangnya," imbuhnya. Baru saja Lollyta ingin mengambil uang dari tangan Hartini, Fabbyan mencegahnya dengan cara mengengam erat tangan Lollyta. "Saya saja yang belikan, Buk, kayak sama siapa saja." Lollyta mengangguk dan menjawab ucapan Fabbyan, "Iya loh Buk, sama calon mantu ya santai aja. Gimana nih Buk? Kita direstui kan? Calon suami Lollyta ini terbukti baik hatinya. Dia royal, enggak pelit dan sayang sama mertua." Hartini memutar bola matanya dengan malas lalu mengibaskan tangannya ke udara. "Dah sana kalian keluar, gangguin aja orang lagi nonton sinetron, tuh tokoh utamanya lagi disiksa mertua!" Lollyta mendadak tersentak dan mendelikan matanya. "Astaga, ayo Mas Fabbyan kita pergi sekarang aja. Lolly nggak mau liat sinetron toxic macam itu, ntar nular lagi adegan itu ke kehidupannya Lolly, pokoknya aku nggak mau disiksa sama mertua, ngeri." Lollyta langsung menarik tangan Fabbyan keluar dari rumahnya. Hartini terbahak, hingga memegangi perutnya agar suaranya tidak menganggu Rayyan yang sedang tertidur. "Lol, hati-hati Lol, ibunya Pak Dokter galak loh, Lol. Kamu nanti bisa disiksa mertua kalau nikah sama Pak Dokter." Lolly menghela nafas panjang, dan memasang wajah sedihnya, sambil berjalan ke arah mobil Fabbyan yang terparkir, gadis itu mendongak dan menatap wajah Fabbyan. "Iya ya Mas, gimana kalau orang tuanya Mas Fabbyan nggak setuju sama hubungan kita. Secara Lolly kan masih perawan, masak iya Lolly harus jadi janda dulu sebelum berjodoh sama Mas Fabbyan, kan orang tua Mas Fabbyan suka cari yang setara, kayak Mas sama Bu Rania itu loh, sama-sama dari keluarga dokter." Fabbyan tersenyum tipis, entah kenapa hatinya terasa tidak nyaman mendengar ucapan Lollyta yang sebenarnya adalah fakta. "Dah kamu masuk ke dalam mobil dulu gih! Mana ada kesetaraan duda harus nikah sama janda, bukannya bagus ya kalau dapat perawan," jawab Fabbyan lalu menutup pintu mobilnya setelah Lollyta masuk. Lollyta menatap ke arah Fabbyan yang sedang memasang sabuk pengamannya. "Jadi Mas Fabbyan suka sama perawan kan, ya? Syukurlah, untungnya Lolly masih perawan ting-ting. Pokoknya Lolly akan menjaga mahkota Lolly khusus buat Mas Fabbyan seorang." Fabbyan geleng-geleng kepala, merasa heran dengan sang ratu drama yang duduk di sampingnya. "Ada-ada saja leluconmu, makasih ya, jujur berkat kamu aku jadi ngerasa terhibur dan nggak ngerasa kesepian. Aku banyak hutang budi sama kamu dan keluargamu, terimakasih ya, Lol." "Iya Mas Fabbyan, sama-sama. Lolly juga seneng ada Rayyan di rumah Lolly, meski dia kadang berisik banget pas nangis tapi kalau senyum, dia imut banget," jawab Lollyta dengan mata berbinar-binar. "Iya, anakku emang imut dan menggemaskan, sama kayak pengasuhnya," balas Fabbyan sambil melirik ke arah Lollyta sebentar. Lollyta terkekeh pelan dan memukul lengan tangan Fabbyan. "Ih, Mas Fabbyan udah pinter gombal sekarang. Tapi awas loh! Gombalan semacam tadi hanya boleh buat Lolly!" "Iya, Tuan Putri Lollyta yang cantik jelita," ucap Fabbyan sambil mengacak-acak rambut Lollyta dengan gemas. Keduanya memutuskan makan disalah satu restoran Chinese food halal. Baru saja Lollyta dan Fabbyan ingin memilih tempat duduk, namun ada suara seorang wanita yang memanggil nama Lollyta. Jelas keduanya kompak menegengok ke arah sumber suara. "Ayo kalian duduk sini saja bareng kami," ucap Alvina yang duduk bersama Arvino dan juga kedua orangtua mereka. "Aduh mampus! Males banget ketemu mereka," bisik Lollyta ke arah Fabbyan. "Enggak apa-apa, ada aku Lol. Tapi kita duduk gabung di sana aja buat menghormati mereka," ajak Fabbyan yang padahal di dalam hatinya juga malas jika duduk bergabung bersama keluarga Arvino. Mereka semua berbasa-basi mengobrol dan makan bersama. Sementara Lollyta lebih banyak diam dan hanya mengangguk saja jika dia diberi pertanyaan oleh orang tua Arvino. Melihat Lollyta yang terlihat bad mood serta hanya makan sedikit membuat Fabbyan menyesali keputusannya untuk bergabung di meja keluarga Arvino. "Lol, gimana kuliah kamu? Lagi banyak tugas ya? Makanya enggak pernah mau diajak main ke rumah sama Arvino," ucap Leni. "Iya Tante, baru banyak tugas," dusta Lollyta. "Besok, Om dan Tante mau main ke rumah kamu ya Lol," ujar Musa, ayah Arvino. "Boleh Om, main aja. Kayak siapa aja harus ijin Lolly," jawab Lollyta, pasalnya Musa adalah sahabat Gianto sewaktu sekolah, jadi kedua pria itu memang sering saling mengunjungi satu sama lain. "Kamu enggak tanya Ayahku Lol? Kenapa Ayah dan Bundaku mau main ke rumah kamu?" tanya Arvino. "Eh iya juga ya, kan biasanya Om datang sendiri. Kenapa besok mau main ngajakin Tante Leni?" Lollyta mengerutkan keningnya menatap Musa dan Leni secara bergantian. "Kita mau lamar kamu buat Arvino, mau kan kamu jadi menantu Tante?" jelas Leni tersenyum menatap Lollyta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN