"Lol, kamu hamil? Kamu ngelakuin itu sama pacarmu?" tanya Rania memegangi pundak Lollyta.
Sementara Hartini yang sudah bangun dari pingsannya langsung menangis histeris. "Siapa yang menghamili kamu, Lol? Kamu belum lulus sekolah, kenapa kamu malah berbuat seperti itu?"
"Astaga, Lolly masih perawan, suer demi apapun! Ibuk kan tau Lolly nggak punya pacar gara-gara handphone Lolly disadap sama Ayah, kan? Bisa-bisanya Ibuk pingsan!" cicit Lolly menatap heran wajah Hartini.
Hartini mengangguk, dia mengelus dadanya. "Alhamdulillah, anakku ternyata masih perawan. Iya juga ya, Lol, Ayah kamu kan ahli IT, dia juga selalu lacak keberadaan kamu, jadi ya, kamu nggak mungkin hamil ya kan?"
"Itu tau! Ibuk lebay deh, eh tapi beneran Lolly telat haid bulan ini Pak Dokter, terus Lolly sakit apa dong? Perut Lolly juga sakit banget ini Pak Dokter," cicit Lollyta menatap Fabbyan yang berdiri.
Rania berdiri dan menarik tangan Fabian untuk duduk di pinggir ranjang Lollyta. "Mas periksa dia lagi aja deh! Pastiin coba dia sakit apa, duh bener-bener si Lolly usil banget, bikin senam jantung malam-malam."
"Tidur, Lol!" perintah Fabbyan tegas. "Sekarang jangan bercanda, bilang mana yang sakit!"
Lolly patuh dan membuka kaosnya. "Ya Pak dokter, yang sakit di sebelah sana, Lolly kenapa?" tanya Lollyta.
"Kamu asam lambung, Lol. Pasti kamu makan yang pedas dan asem ya tadi, terus kenapa kamu telat haid karena kamu stress, hormonmu nggak stabil," jawab Fabbyan.
"Pak Dokter emang hebat udah kayak dukun, tadi Lolly emang makan seblak level lima sama makan rujak buah bareng temen-temen waktu belajar kelompok. Terus emang Lolly lagi stress karena mau ujian kelulusan sekolah. Tolong obatnya kasih yang manis ya Pak Dokter, terus minta surat ijinnya juga ya Pak Dokter, isi aja Lolly harus seminggu istirahat di rumah!" cicitnya dengan mata berbinar-binar menatap Fabbyan.
Hartini langsung menyentil kening Lollyta. "Ini anak udah sakit malah ngelunjak! Ijin dokter itu tiga hari saja, malah minta seminggu! Kasih obatnya yang pahit saja Pak Dokter!"
Lollyta meringgis dan mengelus keningnya. "Dasar ibu kandung rasa ibu tiri jahat! Anaknya sakit juga masih disiksa, KDRT nih, Pak Dokter, cepat visum keningku deh! Lolly mau laporin ibuk ke kantor polisi."
Fabbyan menahan diri untuk tidak terbahak. "Ya sudah saya pulang dulu ya, saya mau beli obat di apotek 24 jam dulu." Dia lalu menatap Rania. "Ran, kamu di sini dulu ya, daripada di rumah sendirian, nanti kamu kesepian."
Rania mengangguk patuh. "Hati-hati ya Mas, iya aku di sini aja ngobrol sama Lolly dan Ibunya biar makin dekat."
Fabbyan lalu melangkahkan kakinya kembali ke rumah, dia mengambil kunci mobil dan langsung menjalankan mobil menuju apotek. "Dasar emang ya Ibu sama Anak sama saja, lucu sih, menghibur banget. Beda banget sama keluargaku, aku aja jarang ngomong sama ibukku, Lolly sama Ibunya malah bestie banget, semoga besok anakku sama ibunya juga seakrab itu, bukan yang berjarak kayak keluargaku. Sepertinya aku harus meminta pengertian Rania agar dia mau resign kalau dia hamil nanti," gumam Fabbyan.
Dia menginjak rem karena lampu apil berwarna merah. "Owh iya aku ngapain udah kepikiran sampai ke anak segala, padahal aku aja belum nyentuh Rania, astagah Fabbyan, kayaknya kok susah banget ya mau mulai begituan sama istri sendiri," kekeh Fabbyan.
Fabbyan akhirnya kembali lagi ke rumah Lolly, dia di sambut senyuman hangat dari ketiga wanita berbeda usia. "Ini obatnya Lol, kamu minum sekarang yang sebelum makan itu ya, tiga puluh menit kemudian kamu makan sedikit terus minum obat yang sesudah makan." jelas Fabbyan di hadapan Lollyta.
"Siap Pak Dokter, makasih banget ya Pak Dokter, untung punya tetangga Dokter, lumayan lah ya bisa hemat, aku nggak perlu lagi ke rumah sakit," kekeh Lollyta.
"Iya juga ya Lol, aku juga nggak perlu ke rumah sakit kayaknya kalau lagi sakit. Aku malah nggak kepikiran loh, kamu emang pinter," kekeh Rania.
"Owh iya Pak Dokter berapa tadi biaya obatnya? Pokoknya saya harus bayar loh Pak Dokter, makasih sekali Pak Dokter sudah nolongin kami," ucap Hartini, dia merasa sangat terbantu dengan adanya Fabbyan.
"Bayar pakai doa saja ya Buk, biar saya dan Rania sehat dan rumah tangga kami bahagia," jawab Fabbyan tersenyum ramah.
"Luar biasa memang Pak Dokter," cicit Lolly cepat, sebelum Hartini membuka mulutnya. "Doakan Pak Dokter juga ya Buk, biar Pak Dokter punya dua istri, soalnya istri yang kedua kan Lolly, tadi Bu Rania sudah setuju soalnya."
Bukannya mendapatkan doa restu dari sang Ibu, Hartini malah menyentil lagi kepala anaknya. "Astaga ini anak emang malu-maluin, maaf ya Pak Dokter, Bu Rania, anggap saja dia anjing yang mengongong. Bener-bener emang dia kalau ngomong ceplas-ceplos."
Rania terkekeh pelan, "Santai aja Buk, saya sudah tau kalau Lolly tuh hobi bercanda. Malah lucu dan ngegemesin dia tuh, Lolly bener kok tadi saya emang bilang ngebolehin dia jadi madu saya waktu perkenalan di rumah tadi."
Hartini memukul pelan lengan Rania. "Bu Rania lucu juga ternyata, suka bercanda juga ya, berarti kita bisa jadi bestie."
"Iya dong Bu, wajib jadi bestie. Ya sudah ya saya sama Mas Fabbyan pamit dulu. Cepet sembuh ya Lol, ingat jangan makan pedes dan asem lagi, terus semangat belajarnya dibawa enjoy aja, jangan dibawa stress, pasti kamu akan lulus dengan nilai bagus," ucap Rania sebelum meninggalkan rumah Lollyta.
"Iya Kakak Maduku sayang, selamat bobo sama Pak Dokter ya malam ini, ingat besok malam giliranku," canda Lollyta tanpa dosa.
Hartini benar-benar merasa gemas pada anak gadisnya itu, dia langsung menjewer telinga Lollyta. "Anak ini ya, kagak ada sopan-sopannya sama orang tua!"
Lollyta meringis memegangi telinganya, "Ampun Buk, Lolly jangan disiksa dong Buk, atau Ayah aja nih yang Lolly suruh cari madu buat ibuk."
Hartini menghela nafas panjang, dia menggiring Fabbyan dan Rania keluar dari kamar Lollyta. "Dah ayo kita keluar, biarkan anak nggak tau diri itu sendirian, biar dia diganggu setan!"
Rania dan Fabbyan menahan diri untuk tidak terbahak dan patuh keluar dari kamar Lollyta. Kesan pertama pasangan suami istri itu terhadap tetangga barunya benar-benar di luar pemikiran mereka. Jujur saja mereka baru pertama kali bertemu dengan pasangan ibu dan anak yang kompak dan lucu.
"Maaf Ran, kalau kamu nggak keberatan apa kamu mau resign setelah kita punya anak?" tanya Fabbyan setelah mereka berbaring di tempat tidur. "Aku kok iri ya lihat kedekatan Lolly sama ibunya, kompak banget ya, nggak kayak keluargaku."
Rania tersenyum dia memiringkan tubuhnya menatap Fabbyan. "Iya Mas, kompak banget dan lucu ya, pingsan aja bisa gantian gitu. Sumpah kocak banget mereka, emang nyenengin. Nggak usah nunggu punya anak juga Mas, aku emang ada rencana mau resign kok, cita-citaku sebenarnya ingin jadi ibu rumah tangga."
Fabbyan memiringkan tubuhnya menatap Rania. "Terimakasih Ran, sama aku juga pengen punya istri ibu rumah tangga. Biar setiap aku pulang ke rumah, istri dan anakku menyambutku dengan senyuman di wajah mereka. Aku nggak pernah lihat yang begituan diantara Mama dan Papaku, malah aku sering mendengar mereka yang berantem karena keduanya merasa sibuk dan nggak ada waktu untuk sekedar berdiskusi dan bercanda."
Rania menghela nafas panjang, dia tersenyum tipis. "Kita sama Mas, mungkin di mata orang-orang keluarga kita sempurna dan yah berkecukupan. Tapi aku selalu merasa ada yang kurang, apalagi diantara saudaraku hanya aku sendiri yang tidak jadi dokter gara-gara nggak lolos masuk universitas kedokteran. Makanya kan aku di jodohin sama kamu, ya demi memuaskan gengsi dan ego orang tuaku, Mas."
"Ternyata kisah hidup kita sama. Tidur yuk, besok kamu kerja kan, pasti kamu capek ya tadi habis beres-beres rumah, mimpi indah ya Rania," ajak Fabbyan tersenyum mengusap lembut pipi Rania.
"Mimpi indah juga Mas Fabbyan," jawab Rania, dia tersenyum, lalu memejamkan matanya.
Fabbyan menghela nafas panjang dan mengigit bibir bawahnya, dia menatap wajah Rania yang sudah memejamkan matanya dan membatin, "g****k banget emang aku tuh, habis bahas anak malah nggak ngajakin istri sendiri bikin anak. Please Fabbyan, padahal tadi momennya udah tepat."