"Owh iya Mas, tadi dikasih apa ya sama Lolly? Masuk yuk Mas, kita makan di dalam!" perintah Rania, dia lalu menarik tangan Fabian, karena memang saat ini dia sudah merasa lapar.
"Iya ayo masuk, Ran!" jawab Fabbyan singkat.
Fabbyan menatap Rania yang sedang makan, dia senang karena istrinya itu tidak pilih-pilih makanan. "Enak?" tanya Fabbyan memastikan.
Rania mengangguk dan mengacungkan dua jari jempolnya. "Ibunya Lolly pinter masak ternyata, besok kita balas kasih makanan ke mereka ya, Mas. Beruntungnya kita dapat tetangga baik hati, seharusnya kita yang kasih mereka makanan terlebih dahulu."
"Iya juga ya Ran. Ya, udah nanti kita beli makanan buat mereka," jawab Fabbyan lalu memakan makanan yang ada di depannya.
"Maaf ya, Mas. Aku enggak bisa masak. Tapi aku janji kok bakal belajar masak nantinya." Rania menatap wajah tampan sang suami dengan expresi sedih.
"Tak apa, Ran. Kita belajar bareng-bareng ya, aku juga mungkin bukan suami yang sempurna buat kamu. Tapi aku akan tetap berusaha melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan." Fabbyan tersenyum mengengam tangan Rania agar istrinya tidak merasa sedih.
"Ya sudah, Mas Fabbyan sana mandi aja dulu! Aku masih beres-beresin baju ke lemari. Nanti kalau Mas Fabbyan enggak capek, Mas mau kan bantuin aku beres-beres?" tanya Rania memastikan karena tak ingin membebani suaminya jika suaminya merasa lelah.
"Aku enggak capek kok, tenang aja. Soal urusan rumah, kita kerjakan bersama-sama, Rania. Ya sudah, aku mandi duluan, ya." Fabbyan langsung berdiri dan berjalan ke kamar mandi.
Baru saja masuk ke dalam ruang kerja sang suami, Rania merasa heran. "Wah-wah, buku-bukunya Pak Dokter banyak banget. Suamiku memang orang cerdas."
"Aduh," pekik Rania, saat membereskan ruang kerja Fabbyan, dia tak sengaja menjatuhkan satu kontak berisi beberapa dokumen dan beberapa buku milik Fabbyan.
Mata Rania langsung fokus pada foto seorang gadis cantik yang menggunakan seragam SMA. Pasalnya wajah gadis di foto itu sekilas mirip dengan wajah Lollyta, hanya saja foto itu sudah usang.
"Eh, mirip Lolly, tapi ini jelas bukan Lolly. Kira-kira gadis ini siapa ya? Apa jangan-jangan mantan pacarnya Mas Fabbyan?" gumam Rania sambil mengerutkan keningnya.
"Em, tapi enggak apa-apa deh ya, toh aku juga punya mantan pacar. Tapi aku kan udah enggak simpen foto mantan pacar aku. Kenapa Mas Fabbyan masih simpen foto cewek ini?" Rania mengigit bibir bawahnya, jujur dia sedang merasa cemburu saat ini.
"Apa aku buang foto ini saja ya." Namun tiba-tiba ....
"Rania," ucap Fabbyan yang masuk ke dalam ruang kerjanya.
Hal itu langsung membuat Rania tersentak. "Eh, iya, ada apa Mas?"
Buru-buru Rania mengembalikan semua dokumen yang terjatuh ke dalam box bersama foto wanita misterius yang tadi dia curigai sebagai mantan Fabbyan. "Aku kaget banget, deh," batinnya.
"Ruang kerjaku biar aku saja ya, Ran yang beresin, nanti kamu bisa kecapean. Sudah sana kamu istirahat nonton TV saja!" saran Fabbyan karena merasa kasihan pada Rania yang sedari tadi pagi menata rumah baru mereka.
"Emh, ya udah aku mandi aja, Mas. Kalau Mas butuh bantuanku panggil aja ya, nanti aku bantu." Rania lalu memutar tumitnya dan pergi meninggalkan Fabbyan sendirian.
"Duh, foto itu tadi ke mana ya? Gagal dong mau buang fotonya," gumam Rania sambil berjalan ke kamar mandi.
Saat Fabbyan membereskan ruang kerjanya dia tersentak saat menemukan foto usang yang terselip. "Loh, ada foto Tania, ku pikir foto ini sudah hilang, ternyata pas pindah rumah malah ketemu."
Fabbyan lalu mengusap foto usang itu dan tersenyum seraya berkata, "Gimana kabarmu Tan? Kamu pasti sudah hidup bahagia bersama suami dan anakmu. Maaf, aku tak bisa memperjuangkan kisah cinta kita, lucunya tadi aku bertemu dengan gadis yang mirip denganmu."
Fabbyan menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Selain wajah kalian yang mirip, tingkah kalian juga mirip, dia asik banget orangnya dan suka bercanda, mirip seperti kamu."
Malam hari tiba, saat Fabbyan dan Rania ingin memejamkan mata mereka mendengar suara ketukan pintu. "Siapa itu, Mas?" tanya Rania.
Keduanya langsung saling tatap dan langsung pergi bersama untuk membuka pintu karena penasaran siapa tamu pertama mereka. Siapa sangka yang datang bertamu adalah Hartini, ibunya Lollyta, expresi wajahnya terlihat panik dan ketakutan.
"Maaf menganggu kalian malam-malam begini, kata Lolly Anda Pak Dokter ya? Itu Pak Dokter tolongin Lollyta, dia ngeluh perutnya sakit, terus muntah-muntah, habis itu dia pingsan," ucap Hartini, matanya bahkan sudah berkaca-kaca karena khawatir pada anak semata wayangnya.
"Tolongin anak saya, Pak Dokter," imbuh Hartini dengan nada mengiba.
Fabbyan langsung berlari dan masuk ke dalam rumah Lollyta, dia melihat gadis itu masih tergeletak di lantai, buru-buru dia mengendongnya dan bertanya pada Hatini, "Di mana kamar Lollyta Bu?"
"Di sana Pak Dokter," jawab Hartini, dia dengan sigap membuka pintu kamar Lollyta.
"Buk, ada minyak kayu putih atau minyak aromatherapy lainnya tidak?" tanya Fabbyan, dia menyentuh beberapa anggota tubuh Lollyta untuk memeriksa nafas dan detak jantungnya.
"Ada, Pak Dokter, bentar saya ambilkan." Hartini berjalan ke kotak obat dan mengambil minyak kayu putih lalu memberikannya pada Fabbyan.
"Kira-kira Lolly kenapa ya Pak Dokter? Apa dia perlu dibawa ke rumah sakit? Duh, saya khawatir banget, soalnya Ayahnya lagi perjalanan dinas." tanya Hartini sambil memperhatikan Fabbyan yang sedang memeriksa Lollyta.
Rania memeluk pundak Hartini. "Tenang saja, Buk. Lolly pasti baik-baik saja, dia biar diperiksa sama Mas Fabbyan dulu ya."
Perlahan mata Lollyta terbuka dan akhirnya dia tersadar. "Ibuk, Lolly kenapa ya, Buk? Loh kok ada Pak Dokter sama Bu Rania di sini sih?" tanya Lollyta lirih karena merasa lemas.
"Iya, Ibu sengaja minta tolong sama mereka, Lol," jawab Hartini. "Ibu kan enggak bisa gendong kamu."
"Kamu pingsan tadi, coba kamu bilang, bagian mana di perutmu yang terasa sakit setelah aku pegang ya, Lol. Maaf, saya buka bajumu sedikit buat periksa perutmu." Fabian menekan beberapa titik di perut Lollyta.
"Iya, Pak dokter di situ yang sakit," jawab Lollyta.
Fabbyan menghentikan tangannya dan menekan lebih kuat bagian perut Lollyta. "Sakit banget?" tangannya memastikan.
"Iya, sakit banget, Pak Dokter. Eh, tapi ... Lolly nggak lagi hamil kan, ya?" tanyanya tiba-tiba. "Soalnya Lolly lagi telat haid bulan ini."
"Apa?!" teriak Hartini, dia sangat shock mendengar ucapan anak semata wayangnya, dia langsung pingsan.
"Aduh," pekik Rania yang langsung menangkap tubuh Hartini.
Fabbyan dan Rania kembali panik, sementara Lollyta tanpa rasa bersalah, malah tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Kedua suami istri itu tampaknya akan sibuk mengurus tetangganya di hari pertama tinggal di rumah baru mereka.