Bab 6 Indahnya Kalian Berdua

1016 Kata
"Malam Bu Hartini, apa Rayyan sudah bobo?" tanya Fabbyan, yang langsung masuk ke dalam rumah Gianto tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena sudah ada kesepakatan dengan sang tuan rumah untuk menganggap rumahnya seperti rumah sendiri karena sang anak tinggal di sana. "Owh, Pak Dokter sudah pulang ternyata. Rayan ada di kamar Lolly tuh, masuk aja ke sana paling lagi tiduran sama Lolly!" perintah Hartini yang sedang menonton televisi. Fabbyan mengangguk, dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Lollyta dan langsung tersenyum ketika melihat Lollyta dan Rayyan yang sedang tertidur pulas. Perlahan Fabbyan naik ke tempat tidur dan mencium pipi Rayyan, setelahnya dia merebahkan dirinya dan tertidur miring mengelus kepala Rayyan. Jadi Rayyan tertidur di tengah diantara Lollyta dan Fabbyan. "Andai Mama Rania masih ada, mungkin saat ini Papa, Mama dan Rayyan tidur seperti ini. Sekarang malah Tante Lolly yang bobo sama kita, Rayyan. Gimana kamu senang tidak tiap hari bobo sama Tante Lolly?" tanya Fabbyan pada Rayyan dengan berbisik pelan. Fabbyan lalu menatap Lollyta dan membatin, "Cantik banget dan imut, kayak boneka. Nggak heran sih Arvino masih nggak mau putus sama dia, kadang kalau dia godain aku gitu, aku jadi baper, sebenarnya dia serius cinta sama aku, atau cuma bercanda doang sih? Plis Lol, jangan bikin aku baper, bahaya banget, soalnya aku bisa beneran jatuh cinta sama kamu." Fabbyan jadi teringat saat pertama kali pindah ke rumah barunya dan bertemu dengan Lollyta, saat itu dia baru saja menikah dengan Rania dan belum mencintai Rania karena masih proses perkenalan. Orang tua Fabbyan membelikan rumah sebagai hadiah pernikahan untuknya dan Rania, sebuah rumah yang jaraknya dekat dari rumah sakit tempat Fabbyan bekerja. *** Seorang gadis berseragam SMA datang menghampiri Fabbyan, "Om, eh, Pak, eh, Mas, eh, Kak, eh apa dong aku manggilnya? Em, pokoknya ini, kamu dikasih makanan sama Ibuku, Anda tetangga baru saya kan ya? Selamat datang di sini, semoga betah ya! For your information, di sini tuh ada tetangga yang super julid gitu, jadi Anda harus mempersiapkan mental ya kalau tinggal di sini," sapa gadis itu tersenyum ramah. Fabbyan mengangkat alisnya dia yang pendiam dan dingin bingung harus menjawab apa ucapan gadis cantik yang ada di depannya. "Terimakasih." Akhirnya hanya kata itu yang terucap dari bibir Fabbyan. Lollyta tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke d**a Fabbyan, hal itu membuat Fabbyan terkejut. "Dokter Fabbyan Yudistira, spesialis bedah." Gadis itu membaca tanda pengenal yang tergantung di leher Fabbyan. "Woy, keren banget, ternyata tetangga baruku adalah Pak Dokter, dokter bedah lagi, ntar kalau ada tetangga sini yang julid bisa tuh dicubit ginjalnya sama Pak Dokter," imbuh Lollyta dengan tersenyum smirk. Terdengar suara tawa dari seorang wanita di belakang Lollyta. "Iya ya, besok kalau ada tetangga yang julid sama kita, biar Pak Dokter Fabbyan yang cubit ginjal orang itu, bila perlu ambil satu ginjalnya juga deh ya, terus dijual." Lollyta langsung berbalik badan, dia ingin melihat siapa yang berani menganggu proses pdktnya dengan tetangga tampan yang sudah ditandai olehnya untuk menjadi pacar. "Kamu siapanya Pak Dokter?" tanya Lollyta to the poin dengan tatapan tajamnya. "Halo Dedek cantik, saya Rania, istrinya Pak Dokter Fabbyan," jawab Rania tersenyum ramah, dia lalu mengulurkan tangannya, ingin mengajak Lollyta berjabat tangan. "Namamu siapa Dedek cantik?" Lollyta berdecih pelan, sebelum menjawab pertanyaan Rania. "Cckk, sudah punya istri ternyata ya, yah, gagal sudah deh PDKT ku sama Pak Dokter." Rania tidak marah, dia justru terbahak, merasa lucu dengan expresi Lollyta. "Kamu mau daftar jadi pelakor atau mau daftar jadi maduku wahai gadis cilik?" Mata Lollyta membelalak, menurutnya, Rania asik dan bisa menjadi teman untuk diajak bergosip. "Eh, boleh ya? Em sebentar aku pikir-pikir dulu ya Bu Rania." Lollyta lalu kembali memutar tumitnya dan menatap Fabbyan lagi. "Pak Dokter mau punya istri satu atau dua? Kalau mau punya istri dua, Lolly daftar jadi madunya Bu Rania, kalau maunya cuma punya istri satu, ya terpaksa, Lolly harus berusaha keras merebut Pak Dokter dari Bu Rania." Rania lalu mendekati Fabbyan dan bergelayut manja di lengan tangannya. "Owh jadi namamu Lolly ya, lucu kayak orangnya. Nggak usah berusaha keras rebut dia dariku Lolly, kamu jadi maduku aja. Pak Dokter tuh soalnya super dingin dan pendiam, aku suka kesepian gitu, kayaknya aku memang butuh madu deh." "Owh, gitu ya, untung ganteng ya Bu Rania, jadi makanya Anda betah meski dicuekin terus sama Pak Dokter. Kalau gitu oke deh, besok kalau Lolly udah lulus sekolah, Pak Dokter lamar Lolly ya." Lalu, Lolly mendekatkan wajahnya dan berbisik. "Sebenarnya aku malas buat kuliah, jadi aku mending nikah aja. Sepertinya jadi istri kedua pun tak masalah yang penting Pak Dokter adil." Tiba-tiba terdengar suara teriakan nyaring dari rumah Lollyta. "Woy, Lollyta, mandi dulu kamu! Nggak sopan bertamu kok belum mandi." Hartini berkacak pinggang dan melotot dari halaman rumahnya. "Tuh, tuh, kalian lihat kan? Aku ini anak kandung rasa anak tiri, makanya ingat selamatkan aku dari ibu galak itu! Pokoknya Lolly tungguin lamaran Pak Dokter ya, Lolly siap jadi madu Bu Rania. Ya sudah saya pamit pulang dulu, mau mandi!" Lollyta berlari cepat pulang ke rumahnya. Rania kembali terbahak ketika melihat p****t Lollyta di pukul oleh Hartini. "Ya ampun beneran kayaknya anak kandung rasa anak tiri. Dia lucu banget ya Mas, asik tuh, kayaknya hidupku di sini bakalan berwarna gara-gara dia. Gimana mau nggak nih punya istri kedua spek Lolly gitu?" canda Rania. "Jangan bercanda gitu Ran, aku nikah lagi nanti kamu nangis!" jawab Fabbyan dengan tatapan dinginnya. Rania memukul lengan tangan Fabbyan. "Kalau Mas nikah sama Lolly kayaknya bukannya nangis, aku malah ketawa terus deh. Sumpah kok ada ya gadis unik begitu, imut, cantik ngegemesin, iya kan Mas? Untung dia masih SMA, jadi umurnya selisih jauh sama kita, itu sebabnya aku nggak cemburu. Coba kalau seumuran kita, aku nggak bakal mau deh tinggal di sini, aku pasti langsung minta pindah rumah lagi." Fabbyan tersenyum tipis, dia setuju dengan ucapan Rania. Mungkin jika Lollyta seumuran dengan mereka, Fabbyan bisa langsung jatuh cinta pada Lollyta karena gadis itu memanglah tipe idaman Fabbyan. "Iya benar, aku aja langsung suka lihat wajahnya tadi karena dia cantik sekali, untung dia ke sini pakai seragam SMA, mana orangnya rame dan lucu, dia mirip seseorang yang pernah aku sukai dulu waktu jaman sekolah," batin Fabbyan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN