Mata Fabbyan mengerjap menatap wajah cantik Lollyta yang kini hanya berjarak sejengkal, bahkan hembusan nafas Lollyta terasa di wajahnya.
Gilanya, Fabbyan malah menganggukkan kepalanya seakan setuju dengan ajakan gila Lollyta. Hal itu jelas membuat Lollyta senang dan tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
"Ehem." Gianto membersihkan tenggorokannya dan duduk di sofa, hal itu membuat Fabbyan reflek menjauhi Lollyta.
"Maafin anak dan istri saya ya, Pak Dokter, duo gesrek itu emang hobi banget bikin rame. Yakin nih anaknya rela dijagain sama Lolly dan Hartini? Jujur saja kalau saya nggak masalah, saya malah seneng karena rumah jadi makin ramai. Tapi kan image keluarga Pak Dokter berbeda sekali dengan image keluarga saya, cara asuhnya jg beda, malah mungkin nanti bayi ini jadi kocak kayak Lolly dan bukannya cool kayak Pak Dokter," ucap Gianto jujur dari lubuk hati terdalamnya.
Fabbyan tersenyum dia lalu duduk di samping Gianto. "Saya malah senang Pak, karena itu artinya saya tidak harus berpisah dengan bayi saya. Kalau kangen saya tinggal datang ke depan rumah dan bukannya harus menempuh perjalanan satu jam atau bahkan dua jam. Apalagi saya yakin Bu Hartini dan Lolly pasti akan menyayangi anak saya seperti keluarga sendiri dan yang jelas dia pasti akan jadi anak yang ceria, bukan yang malah terkesan dingin dan tegas seperti anggota keluarga saya yang lain, yang bahkan saat makan bersamapun hanya terdengar suara denting sendok dan garpu saja tanpa adanya obrolan."
Gianto merasa lega, ternyata Fabbyan paham dengan apa yang dia maksud. "Ya sudah, saya seneng karena kamu percaya sama keluarga saya, Pak Dokter, saya pastikan bayi ini tumbuh dengan sehat dan bahagia di keluarga saya. Terimakasih karena telah percaya menitipkan dia pada kami."
Gianto tau tentang keluarga Fabbyan dan Rania karena Gianto beberapa kali mengobrol dengan orang tua Fabbyan dan orang tua Rania ketika mereka berkunjung kemari menemui Fabian dan Rania.
Menurut Gianto orang tua Fabbyan dan Rania yang juga berprofesi sebagai dokter itu meski ramah namun tetap terkesan dingin dan menjaga jarak tak terlihat diantara mereka. Lebih tepatnya Gianto menilai keluarga Fabbyan dan Rania itu sedikit angkuh dan juga sombong.
Rania duduk di tengah-tengah diantara Fabyyan dan Gianto. "Yah, Mas Fabbyan kan udah nitipin anak ke Ayah sama Ibuk nih. Apa Ayah nggak berminat menitipkan anak Ayah yang cantik ini ke dia? Barter gitu loh, Yah, gimana ide bagus kan?" cicit Rania menatap sang Ayah dengan penuh harap.
Gianto menghela nafas panjang lalu menatap Fabbyan. "Gimana Pak Dokter? Mau nggak kita barter anak? Kalau Pak Dokter nggak keberatan ngasuh Lolly yang nakal, genit dan juga cerewet ini saya nggak masalah, saya malah senang kalau anak saya udah sold out dari sini, kan udah bukan tanggung jawab saya lagi tuh."
"Gimana Mas Fabbyan? Mau kan ya? Lolly kan cantik, imut, seksih lagi, masak iya sih Mas Fabbyan nggak mau sama calon istri spek premium kayak Lolly gini," tanya Lollyta dengan gaya genitnya.
Ditatap seorang Ayah sekaligus anaknya membuat Fabbyan kehilangan kata-katanya, otak jeniusnya seakan tidak berfungsi. Dia tak bisa membedakan apakah saat ini sedang bercanda atau tidak.
Baru saja Fabbyan hendak menjawab pertanyaan mereka berduaan, Hartini datang dengan dua gelas teh hangat dan juga cemilan. Hal itu membuat Fabbyan merasa lega, karena dia sendiri pun tidak yakin dengan jawabannya.
"Ayo di minum dulu, Pak Dokter!" perintah Hartini, dia lalu duduk di samping Gianto.
"Terimakasih, Bu Hartini. Malah repot-repot ini pakai dibikinin minum segala," jawab Fabbyan sambil tersenyum.
"Ibuk kok enggak bikinin Lolly teh sih? Kenapa cuma dua aja? Padahal, Lolly tuh lagi haus banget loh Buk," protes Lollyta.
"Bikin sendiri kamu! Dasar manja!" Hartini lalu melihat ke arah Rayyan. "Lucu banget ya Pak, jadi inget dulu pas Lolly masih bayi juga kayak begini."
"Tapi kan Rayyan cowok, Buk. Lolly kan cewek, ya beda lah, Buk!" protes Lollyta.
"Maksudnya Ibu tuh ukurannya yang segini, Lol. Jadi kecil mungil begini loh," jelas Hartini sambil mengelus pipi Rayyan.
"Ibuk, besok mau cucu cewek apa cowok?" tanya Lollyta penasaran.
"Ibuk mah apa aja mau, Lol. Yang penting semuanya sehat dan selamat tanpa kurang satu apapun sepulang dari rumah sakit," jawab Hartini mengerutkan keningnya. "Emang kenapa kamu tanya begitu sama Ibu?"
"Tanya aja, Buk. Mumpung calon suami Lolly ada di sini tuh loh." Lollyta tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya. "Ini kan udah ada cowok, besok Lolly sama Mas Fabbyan bikinin anak cewek deh."
Fabbyan yang kebetulan sedang meminum teh terbatuk-batuk karena mendengar ucapan Lollyta. 'Astaga si Lolly ini malah bikin otakku makin m***m!' batinnya.
Tangan Lollyta langsung terulur menepuk-nepuk punggung Fabbyan. "Hati-hati kalau minum, Mas. Duh kasian sekali calon suamiku wajahnya sampai merah begini."
"Udah, Lol. Makasih!" Fabbyan dengan lembut menepis tangan Lollyta.
"Lolly!" panggil Gianto.
"Apa, Yah? Ada apa?" Lollyta berpindah menatap wajah Gianto.
"Kamu kalau di depan umum jangan bercandaan gitu sama Pak Dokter! Takut nanti tetangga mikir yang enggak-enggak tentang kamu." Gianto mengingatkan.
"Iya, Ayah. Lolly tau batasan," jawabnya lalu kembali menatap Fabbyan, seraya berbisik, "Makanya besok kita berduaan terus aja ya, Mas. Jangan di tempat umum."
Fabbyan terkekeh pelan, lagi-lagi dia refleks menganggukkan kepalanya.
Melihat Rayyan tertidur nyenyak, Hartini langsung mengambil Rayyan dari pangkuan Gianto. "Sini Pak, Dek Rayyan biar Ibuk tidurkan ke box bayi."
Lollyta berdiri dan mengekori Hartini. "Diboboin di kamar Lolly aja deh Buk, biar Lolly kelonin. Kan nyicil ngelonin anaknya dulu sebelum ngelonin Ayahnya." Lagi-lagi mode usil Lollyta menyala.
"Lol, plis deh ah, bener-bener Ibu pengen nampol kamu rasanya dari tadi. Berhenti godain Pak Dokter, Lolly! Kamu nggak sopan sama yang lebih tua, beliau itu selisih dua belas tahun sama kamu!" protes Hartini.
"Apalah arti sebuah umur Buk, yang namanya cinta mah nggak pandang umur, apalagi pria semakin tua bukannya semakin menggoda ya Buk, kayak Ayah itu loh Buk, kata Ibuk kan makin tua makin ganteng. Apalagi Mas Fabbyan itu kan spek pria tampan nan mapan, duh cocok banget jadi sugar baby, Lolly," cicit Lollyta.
"Lollyta Setyadewi mau Ibu coret kamu dari kartu keluarga hah, pakai mau jadi sugar baby segala!" hardik Hartini.
"Nggak apa-apa coret aja, Buk. Lolly mau bikin kartu keluarga baru sama Pak Dokter, jadi isinya ada nama Fabbyan Yudistira sebagai suami, Lollyta Setyadewi sebagai istri sama Rayan Yudhistira sebagai anak, kan keren banget tuh," balas Lollyta.
Fabbyan terlihat menahan sekuat tenaganya agar tidak terbahak di samping Gianto. "Iya, Lol. Keren banget kayaknya kalau di kartu keluargaku yang baru, ada nama kamu dan Rayan, kamu memang cerdas, apalagi ditambah nama anak kita nanti. Eh astagah, kamu mikir apa Fabian, sepertinya otakku mulai geser deh ketularan sama keluarga ini," gumam Fabbyan dalam hati.