"Kamu sebenarnya udah putus sama Arvino belum sih, Lol? Kenapa si Alvina masih anggap kamu calon adek ipar?" tanya Fabbyan saat sedang menyetir mobil. Baru kali ini dia kepo dengan kehidupan seseorang.
"Bagi Lolly ya kita udah putus, Mas. Pokoknya Lolly enggak mau berhubungan sama dia laguli. Serius loh kemarin Lolly lihat dia lagi selingkuh," jelas Lollyta, hatinya masih terasa sakit saat mengingat penghianatan yang dilakukan Arvino padanya.
"Owh gitu, syukur deh kalau kamu lihat sendiri dia mengkhianati kamu. Soalnya orang yang lagi jatuh cinta itu tuh kadang dikasih tau ngeyel kalau pacarnya selingkuh." Entah kenapa hati Fabbyan merasa lega saat mendengar jawaban dari Lollyta.
"Awalnya temen Lolly tuh pernah lihat Arvino jalan sama cewek lain gitu. Pas itu aku enggak percaya sama temenku, tapi setelah kupikir-pikir buat apa juga temenku bohong. Akhirnya Lolly mata-matai Arvino, nah baru deh ketahuan dia selingkuh," jelas Lollyta.
"Sip, kamu emang gadis pinter, Lol. Kamu bisa berfikir pakai logika, jarang loh gadis yang mikir pake logika, biasanya mikir pakai perasaan dan pasti bebal kalau dikasih tau pacarnya selingkuh." Tangan Fabbyan refleks menepuk pelan puncak kepala Lollyta.
Hal itu jelas membuat Lollyta berbunga-bunga dengan pujian Rayyan. "Astaga, yang di puk-puk kepala, tapi hatiku yang malah jadi enggak karu-karuan. Pesona Mas Fabbyan emang luar biasa," gumam Lollyta dalam hati.
"Iya, Lollyta emang pinter. Makanya buruan jadiin Lollyta istrinya Mas Fabbyan dong!" Lollyta meringis memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.
"Kamu, mulai lagi deh!" Fabbyan geleng-geleng kepala dan kembali lagi fokus menyetir.
Saat mobil berhenti, Lollyta langsung mencium pipi Rayyan seraya berkata, "Hore, Dedek Rayyan, sekarang kita udah sampai di rumah loh."
"Selamat datang di rumah ya, Rayyan. Ayo kita kenalan sama keluarganya Tante Lolly dulu," imbuh Fabbyan sambil tersenyum sesudah membukakan pintu mobil untuk Lollyta.
"Ibuk, lihat Buk, aku gendong calon cucumu." Dengan tersenyum lebar Lollyta melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Hartini bergegas keluar dari dapur dan berjalan ke ruang tamu menghampiri Lollyta. "Ya ampun lucu dan ganteng banget, sini Ibu gendong dia."
"Nama dia Rayyan Yudistira, bagus, kan Buk namanya. Nama itu pemberian dari Lolly, loh," jelas Lolly mengelus pipi mungil Rayyan.
"Pinter kamu kasih nama, pas banget deh namanya sama wajahnya yang ganteng dan imut banget ini." Hartini mencium pipi Rayyan karena merasa sangat gemas.
"Iya dong ganteng, Bapaknya kan juga ganteng. Calon suami dan calon anak Lolly tuh emang harus wajib ganteng, Buk," kekeh Lollyta.
Hartini menahan diri untuk tidak memukul kepala Lollyta, dia malah menatap ke arah Fabbyan. "Maaf ya Pak Dokter, anggap saja omongan Lolly angin lalu. Dia emang begitu anaknya, enggak sopan dan suka ngomong seenaknya tanpa difilter, saya yang ibunya saja kadang heran, takut aja, jangan-jangan dia ketukar di rumah sakit."
"Iya nggak apa-apa Buk, saya juga anggap Lolly bercanda kok. Malah lucu anaknya, asik kalau dijadiin teman ngobrol," jawab Fabbyan tersenyum menatap Hartini.
"Ya ampun, Mas. Lolly juga asik kalau dijadiin teman hidup loh, Mas. Langsung aja deh, Mas Fabbyan lamar Lolly sekarang!" goda Lollyta dengan mengedip-ngedipkan matanya.
"Astaghfirullah, Lol. Kuburan Bu Rania aja masih basah, kamu udah berani godain suaminya. Mana sekarang ganti panggilan jadi Mas Fabbyan, genit banget sih kamu jadi perawan, duda aja mau kamu sikat!"
Hartini memang sebelas dua belas dengan Lollyta, dia juga suka bercanda, jadi Fabbyan sudah terbiasa dengan tingkah konyol dua tetangga yang tinggal di depan rumahnya.
"Nggak apa-apa, Bu, terserah Lolly mau panggil saya apa. Saya nggak masalah kok, saya udah seneng banget kalian mau bantu jagain Rayan," ucap Fabyyan lembut.
"Tuh kan Buk, denger kata Mas Fabbyan dia bilang terserah Lolly mau panggil apa. Kalau gitu, mulai sekarang Lolly ganti panggilan aja deh ya, Lolly mau panggil Sayang ke Mas Fabbyan!" Lagi-lagi Lolly berani menggoda Fabbyan di depan ibunya sendiri.
Baru saja Hartini hendak memarahi anak gadisnya, seseorang pria masuk ke dalam rumahnya. "Kamu udah kebelet kawin ya, Lol? Sampai duda aja kamu godain," tanya pria itu.
Fabbyan langsung memutar tumitnya, dia tersenyum dan bersalaman dengan pria itu. "Sore Pak Gianto, baru pulang kerja ya, Pak?" sapa Fabbyan sopan pada Ayah Lollyta.
"Iya tuh Yah, genit bener anakmu itu, giliran mau di lamar sama Arvino dianya nolak," jawab Hartini, dia berjalan mendekati Gianto dan mencium punggung tangan suaminya.
"Duh ganteng banget ini." Karena gemas, Gianto mengambil Rayan dari pelukan Hartini, dia ingin sekali mengendong anak Fabbyan. "Iya, kamu nikah aja sana sama Arvino!"
"Ayah, Lolly maunya sama Mas Fabbyan aja deh, nggak mau sama Mas Arvino yang tukang selingkuh itu," protes Lollyta dia bahkan berani bergelayut manja di lengan tangan Fabbyan.
"Astaghfirullah, sini kamu Ibu pukul! Beneran genit banget kau Lol, malu-maluin ibu sama Ayah." Hartini berkacak pinggang, dia ingin memukul Lollyta tapi dengan sigap Lollyta bersembunyi di belakang punggung Fabbyan.
"Ampun Buk, Lolly kan lagi ikhtiar kasih calon mantu mapan dan tampan buat ibu, tapi kenapa malah aku dimarahin dan mau dipukul." Lollyta memeluk Fabbyan dari belakang. "Tolong Mas, lindungi calon istrimu ini dari calon mertuamu yang galak itu!"
Sepertinya disengat listrik ribuan volt, syaraf-syaraf Fabbyan menegang karena ulah Lollyta. Jangankan bergerak, untuk menelan salivanya saja saat ini dia merasa susah, bahkan untuk bernafaspun membutuhkan tenaga extra.
Tak hanya sampai situ saja ternyata Hartini malah mendekat, hal itu membuat Lollyta jadi berpindah-pindah melingkari tubuh Fabbyan. Bagian tubuh Lollyta yang menonjol jadi menempel ke tubuh Fabbyan.
"Baru juga dua hari jadi duda masak iya aku udah pengen nikah lagi, astagah Fabbyan, ini semua gara-gara Lolly!" batin Fabbyan.
"Udah lah bercandanya kalian! Tolong buatin Ayah sama Pak Dokter teh dong, Buk!" perintah Gianto.
Lollyta tersenyum tengil menatap Hartini, dia yang masih memeluk Fabbyan dan merasa menang melawan ibunya kali ini. "Mas Fabbyan emang enak di peluk, duh nggak mau Lolly lepasin ah."
"Astagah Lolly! Bercandamu keterlaluan, lepasin Pak Dokter sekarang!" perintah Hatini dengan tegas, sebelum pergi ke dapur.
Lollyta terpaksa melepaskan pelukannya, lalu menarik tangan Fabbyan yang lebih tinggi darinya itu dan berjinjit agar wajahnya sejajar dengan telinga Fabbyan seraya berbisik, "Besok kalau nggak ada Ibuk sama Ayahku kita peluk-pelukan lagi ya, Mas. Sekarang kita terpaksa jaim dulu di hadapan mereka oke!"
Dheg...
Sher....
"Sial, Lollyta benar-benar pengen diterkam sama duda. Astaga, Fabbyan! Tenangkan sesuatu yang ada di dalam celanamu itu!" batin Fabbyan dengan wajah yang sudah memerah semerah tomat.