Bab 3. Mulai Cemburu

1018 Kata
Fabbyan mengerjap, mereka berhenti di halaman rumah sakit. Lalu, seorang dokter muda dan tampan berlari kecil mendekati mereka dengan senyuman merekah di wajahnya. Sementara Lollyta malah memasang wajah judes dengan tatapan tajam ke arah dokter muda itu. Hal itu jelas membuat Fabbyan penasaran kenapa Lollyta bisa mengenal dokter muda itu. "Sore Pak Fabbyan, sore Lollyta, kenapa kalian berdua bisa datang ke sini bersama? Jadi kalian berdua saling kenal ya?" tanya dokter muda itu. "Sore Arvino," jawab Fabbyan ramah. Lollyta berdecih pelan, lalu semakin merapatkan tubuhnya dengan Fabbyan. "Lo kenal sama Mas Fabbyan? Bagus deh, jadi, gue nggak perlu repot-repot ngenalin lo ke calon suami gue! Kita ke sini mau jemput calon anak tiri gue, mendingan lo minggir deh, jangan gangguin kita." Arvino membelalakkan matanya, dia menatap Lollyta dan Fabbyan bergantian. "Lah mana mungkin! Nggak usah bercanda deh, Lol. Pak Fabbyan baru jadi duda kemarin, masak iya langsung mau nikah sama kamu. Lagian kan kamu statusnya masih jadi pacarku, aku tau kamu pasti lagi bercanda." "Mana ada, kita udah putus!" sentak Lollyta berkacak pinggang. "Gue nggak mau ya, pacaran sama pria yang suka selingkuh! Najis deh gue sama pria murahan macam lo!" "Lol, please, jangan putusin gue! Lo salah sangka, Lol. Gue beneran nggak pernah selingkuh di belakang lo, sumpah." Arvino maju mencoba mendekati Lollyta. Lollyta justru mundur dan menyembunyikan tubuhnya di belakang Fabbyan. "Mana ada, gue sendiri liat lo ciuman sama tuh cewek! Emang mata gue buta, ha! Minggir lo, berhenti ngejar-ngejar gue lagi! Nama lo udah gue blokir dari hati gue, seperti nomor lo yang udah gue blokir dari handphone gue!" "Nggak, Lol. Gue nggak mau putus sama lo! Gue masih cinta banget sama lo." Arvino merasa gemas dan hendak meraih tangan Lollyta. Namun, siapa sangka Fabbyan malah menepis tangan Arvino. "Jangan paksa Lollyta, Ar! Jangan bikin keributan di rumah sakit! Kamu mending minggir dulu, kita mau jemput anakku!" perintah Fabbyan dengan nada tegas dan dingin. Arvino reflek menganggukkan kepala, pasalnya memang Fabbyan adalah dokter senior yang membimbingnya. "Baik Pak, maaf, saya permisi," ucap Arvino yang terpaksa mengalah. Lollyta tersenyum girang, dia kembali melingkarkan tangannya ke lengan tangan Fabbyan dan bergelayut manja. "Ayo calon suamiku, kita jemput anak kita!" Dia lalu menatap tajam ke arah Arvino. "Bye mantan kekasihku yang berengsek!" Fabbyan tersenyum tipis lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit, dia membiarkan Lollyta yang masih bergelayut manja padanya. "Jadi kamu itu pacarnya Arvino ya, Lol?" "Mantan! Ingat ya, Mas. Kita itu udah jadi mantan! Terus ingat lagi, sekarang aku tuh calon istrinya Mas Fabbyan!" jawab Lollyta serius, meski Fabbyan menganggapnya bercanda. "Kok kamu jadi manggil aku Mas sih, Lol? Bukan Pak Dokter lagi nih?" Fabbyan melirik ke arah Lollyta dengan senyum tipis di wajahnya. "Ya kali sama calon suami manggilnya Pak Dokter, nggak keren banget deh! Enakan manggil Mas ajalah. Apa langsung aja nih Lolly ganti panggilannya jadi Sayang? Mas Fabbyan mau enggak kalau Lolly panggil sayang?" goda Lollyta dengan nada genit nan menggodanya. Fabbyan menahan diri untuk tidak terbahak di koridor rumah sakit. "Mas aja deh, Lol! Belum siap aku kalau kamu manggil aku Sayang." "Nungguin kita nikah dulu ya, baru Mas Fabbyan siap dipanggil Sayang?" Lollyta mendongak menatap wajah Fabbyan. "Iya, biar 100% halal dulu. Dasar gadis genit! Duda aja digodain terus." Fabbyan tersenyum membalas tatapan Lollyta. Keduanya akhirnya sampai di ruang rawat inap para bayi. Semua perawat langsung menatap ke arah Fabbyan dan Lollyta karena Lollyta masih melingkarkan tangannya di lengan tangan Fabbyan. Hal itu jelas membuat mereka tidak suka, baru saja kemarin Fabbyan sah menjadi seorang duda, eh hari ini dia malah menjemput anaknya dengan membawa gadis muda yang cantik dan terlihat mesra pula. Fabbyan yang sadar karena melihat tatapan aneh para perawat langsung melepaskan tangan Lollyta. "Lepas dulu ya, Lol! Enggak enak dilihatin sama mereka," bisiknya pelan sekali di telinga Lollyta. Lollyta langsung mundur selangkah menjauhi Fabbyan. "Eh, iya ... maaf ya, Mas," ucapnya lirih merasa bersalah. Hingga seorang perawat datang mengendong bayi Fabbyan. "Ini si gantengnya Pak Dokter, selamat ya Pak Fabbyan," ucapnya lembut menyerahkan bayi itu pada Fabbyan. "Bapak datang ke sini sama Adiknya, ya? Wah, Tantenya dedek bayi cantik sekali deh," puji perawat itu menatap wajah Lollyta. "Bukan, saya bukan Adiknya Mas Fabbyan," jawab Lollyta cepat, dia mau melanjutkan ucapannya namun terdengar suara seorang wanita yang memanggil namanya. "Lollyta, ya ampun Lol, kamu kok ke sini sih? Kamu mau ngapain ke sini?" sapanya dengan wajah berbinar-binar memegangi pundak Lollyta. Jadi, Lollyta terpaksa tersenyum menatap perawat berwajah cantik di hadapannya. "Halo Mbak Alvina," sapanya lembut, perawat itu adalah kakak Arvino, mantan pacar yang belum sah 100% menjadi mantan pacar Lollyta. "Kamu loh, nggak pernah main lagi ke rumah! Main lah, Lol. Kamu di cariin sama Mama dan Papa loh. Owh iya, aku telfon Arvino sebentar, dia pasti seneng lihat kamu ada di sini, sekalian aja deh kamu ajak Arvino makan malam." Alvina baru saja ingin mengambil ponselnya, namun Lollyta langsung memegangi tangan Alvina. "Nggak usah, Mbak. Besok aja ya aku main ke rumah. Salam buat Tante Leni, aku ke sini sama Mas Fabbyan, kita mau jemput dedek bayi pulang," jawab Lollyta, memaksakan dirinya untuk tersenyum. Alvina langsung menatap Fabbyan. "Ya ampun, ternyata ada Dokter Fabbyan, maaf ya Dok, saking semangatnya ketemu calon Adik ipar jadi nggak sadar. Selamat ya Dok atas kelahiran anak gantengnya." "Iya makasih Vin, ya udah saya sama Lollyta pamit dulu ya. Permisi," Fabian lalu memutar tumitnya. "Aku pamit ya, Mbak Alvina. Permisi semuanya." Lollyta mengekor di belakangnya setelah dia menundukkan kepalanya kepada para perawat. "Mas Fabbyan, jangan cepet-cepet dong jalannya," cicit Lollyta yang berjalan cepat menyamai langkah Fabbyan. Fabbyan berhenti, dia lalu menatap Lollyta yang berada di sampingnya. "Jadi kamu itu sebenarnya udah putus atau belum sih sama Arvino? Terus besok kamu beneran mau ke rumahnya Arvino buat ketemu Mama dan Papanya? Kamu serius nggak sih Lol mau jadi calon istriku?" Sayangnya kalimat itu hanya ada di dalam hati Fabbyan, agaknya Fabbyan tanpa sadar sudah merasa cemburu pada Lollyta. Melihat Fabbyan menatapnya sambil diam, Lollyta langsung menjentikan jarinya di depan wajah Fabbyan. "Mas? Hello? Ada apa? Kok Mas Fabbyan diem aja?" Fabbyan mengerjap dan menggelengkan kepalanya. "Enggak ... enggak apa-apa, ayo kita pulang sekarang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN