"Hati-hati ya, Pak Dokter, itu Lolly kalau bikin masalah dipukul aja kepalanya!" perintah Hartini sebelum Fabbyan dan Lollyta masuk ke dalam mobil.
Lolly mendengus kesal, lalu buru-buru masuk ke dalam mobil, sambil memakai sabuk pengamannya, dia mengomel, "Emang Ibuk tu yah, kagak ada sayang-sayangnya sama aku perasaan! Ibu kandung rasa Ibu tiri!"
Fabbyan tersenyum tipis, masih dengan mata bengkak yang memerah, itu sebabnya dia memakai kaca mata hitam hari ini. Karena tadi pagi Rania dimakamkan dan dia tak kuasa menahan tangis saat jasad Rania dimasukkan ke liang lahat. Hatinya benar-benar teriris, melihat wanita yang sangat dicintai pergi meninggalkan dia untuk selamanya.
"Jangan begitu sama ibumu, Lol! Jadilah anak yang baik dan berbakti! Hormatilah ibumu karena kamu masih memiliki ibu. Tidak seperti Rayyan yang bahkan belum pernah bertemu dengan ibunya," ucap Fabbyan.
"Tenang, Pak Dokter. Meski Lolly ibu tiri, aku akan menyayangi Dedek Rayyan dengan sepenuh hati, malah akan melebihi kasih sayang seorang ibu kandung!" Lollyta berjanji dari hati yang paling dalam.
Kali ini Fabbyan terkekeh sebelum menginjak pedal gas mobilnya. "Oh ya? Mau kamu sama duda tua macam saya gini?"
"Mana ada duda tua!" jawab Rania cepat. "Pak Dokter itu duda muda yang super keren dan tampan."
"Sayangnya kamu terlalu muda buatku, Lol, kamu masih bocil!" Fabbyan tak pernah menganggap serius candaan Lollyta, karena sedari dulu gadis itu memang selalu menggodanya, bahkan berani terang-terangan di depan almarhumah Rania.
Lollyta menghela nafas panjang, dia memasang wajah sedih dan berkata, "Andai Bu Rania masih ada, pasti dia bakal merestui Lolly jadi madunya. Sekarang Pak Dokter duda malah Lolly di tolak mentah-mentah."
Fabbyan kali ini terbahak, ya memang benar dulu Lolly selalu menyapa almarhumah Rania dengan guyonan tengilnya, "Assalamualaikum Bu Rania. Calon madumu datang membawa makanan untukmu dan calon suamiku." Itulah yang selalu dikatakan Lolly saat mengantarkan makanan ke rumah Fabbyan.
"Mungkin aku nggak akan menikah lagi, Lol, aku akan fokus pada Rayyan dan akan kuliah lagi saja. Aku akan menyibukkan diri agar aku bisa melupakan Rania," jawab Fabbyan dia fokus menatap jalanan yang ada di depan.
"Jangan dilupakan Pak! Kamu emang nggak pernah akan bisa melupakan wanita yang melahirkan anakmu. Yang benar itu disimpan di dalam sudut ruang hati rahasia. Nah setelahnya, Bapak masukan nama saya di ruang hati Bapak yang lain, saya ikhlas bersanding dengan Bu Rania di dalam hati Pak Dokter." Bak seorang penasehat berpengalaman, Lollyta berusaha mengambil hati Fabbyan.
Fabbyan hanya tersenyum tipis dan geleng-geleng kepala, tak habis pikir ada orang seperti Lollyta di dunia ini. Gadis cantik yang suka bicara bar-bar, ceria, cerewet dan suka bercanda dengannya.
Padahal Fabbyan adalah pria dingin, kaku dan pendiam. Dia dan Rania bisa menikah saja itu karena mereka dijodohkan. Meski dijodohkan akhirnya rasa cinta timbul di hati keduanya dan akhirnya maut yang memisahkan kisah cinta mereka.
"Ya sih bener banget ucapanmu. Aku jelas enggak bisa melupakan Rania, dia kan istri yang baik dan ibu dari anakku. Tumben kamu pintar dan bijak, Lol," puji Fabbyan.
"Ish Pak Dokter tuh ya, sejak dulu Lolly itu bijak. Pak Dokter aja yang telat sadarnya, dasar duda tampan dan berkharisma. Kan, kan, aku jadinya pengen segera jadi makmumnya," cicit Lollyta.
"Iya nanti kita sholat bareng, aku yang jadi imamnya, kamu yang jadi makmumnya, Lol," jawab Fabbyan.
Lollyta langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan itu Pak Dokter! Ih dasar pria kulkas, maksudnya tuh Lolly daftar jadi istrinya Pak Dokter! Bukan makmum sholat!"
"Owh jadi kamu enggak mau sholat diimamin aku, ya? Termasuk setelah kita menikah nanti?" canda Fabbyan.
"Jadi Pak Dokter mau nikah sama Lolly? Asik, besok Minggu kita ke KUA yuk Pak!" ajak Lollyta, gadis itu tak menyangka sekarang Fabbyan sudah mau bercanda gurau dengannya lagi.
"Kamu ini, Lol! Genit banget sih sama duda! Jangan besok Minggu, nanti siang pun tak apa kalau kamu mau," balas Fabbyan yang sedang merasa heran pada dirinya sendiri karena hanya di samping Lollyta dia bisa bercanda dan tersenyum lepas.
"Mau banget Pak, kita honeymoon-nya bawa Dedek Rayyan ya. Pasti seru banget pas tiba-tiba enggak jadi action unboxing gara-gara Dedek Rayyan nangis pengen digendong," kekeh Lollyta.
"Astaga ini anak!" Fabbyan menyentil kening Lollyta. "Kau ini belum lulus kuliah udah mikir nikah dan adegan unboxing! Pikirin tuh kuliahmu, kerjakan tugas kuliahmu setiap hari dengan baik dan benar!"
Lollyta mengelus keningnya dan mengerutkan bibirnya. "Padahal menikah kan boleh sambil kuliah Pak. Temen Lolly aja ada yang udah nikah, masak sih, Lolly enggak boleh."
"Lebih baik nikahnya setelah lulus kuliah, Lol! Biar kamu fokus sama kuliahmu. Buat orang tuamu bangga, kamu kan anak satu-satunya dan kesayangan mereka." Fabbyan menepuk pelan puncak kepala Lollyta. "Masa depan kamu masih panjang, Lol, nikmatilah masa mudamu."
"Tapi hidup Lolly akan terasa lebih nikmat jika hidup bersama Pak Dokter! Apalagi kalau setiap malam Lolly dikelonin dan sayang-sayang sama Pak Dokter." Gadis itu masih saja berusaha merayu sang duda.
"Dasar kamu ini! Kalau gitu buruan lulus kuliah dulu! Nanti setelah kamu lulus kuliah aku pikirin lagi deh, aku mau nikah lagi apa enggak," ujar Fabbyan.
"Maksudnya mau nikahin Lolly kan, ya?" tanya Lollyta memastikan.
"Ya enggak tau kalau itu, Lol! Namanya jodoh kan rahasia Allah. Aku mengikuti alur yang Allah berikan saja untukku," jawab Fabbyan.
"Oke, kalau gitu, Lolly mau minta sama Allah biar Lolly dijodohkan sama Pak Dokter Fabbyan. Aamiin." Tangan Lollyta menengadah ke atas dan berdoa dengan sungguh-sungguh.
"Astaga, Lolly! Itu namanya maksa bukan meminta!" balas Fabbyan.
Lollyta terkekeh pelan. "Enggak apa-apa Pak Dokter, habisnya Lolly udah 100% bucin sama Pak Dokter."
"Dasar gadis genit!" ledek Fabbyan sambil mencubit pipi Lollyta dengan gemas.
"Eh, cuma dicubit aja nih?" Lollyta mengelus pipinya yang terasa sedikit sakit.
Fabbyan menatap sekilas ke arah Lollyta dan berkata, "Emang mau diapain lagi?"
"Dikiss dong! Sini-sini kiss pipi Lolly!" Lollyta bahkan mendekatkan wajahnya ke arah samping Fabbyan. "Kiss pipiku dong, Pak Dokter!"
"Nggak boleh, Lol! Astaga ini anak! Sekali lagi kamu godain aku, aku turunin kamu di jalan!" Kali ini Fabbyan menjewer telinga Lollyta.
"Aw, sakit!" pekik Lollyta. "Ampun, Pak Dokter, ampun. Iya ... iya, aku enggak genitin Pak Dokter lagi."
Saat Fabbyan dan Lollyta sudah sampai di rumah sakit, dengan semangat empat lima Lolly melangkahkan kaki sambil tersenyum riang dan membatin, 'Wah menjemput anak tiriku yang tampan. Bener-bener deh, aku bahkan terlihat serasi banget sama Pak Dokter, sama-sama pakai baju navy.' Lollyta memang sengaja menyamai outfit yang Fabbyan pakai tadi.
"Lollyta!" Terdengar suara pria yang tak asing di telinga Lollyta.
"Sial! Dia koas di sini ternyata," gumam Lollyta pelan.
Lalu, dengan cepat gadis itu melingkarkan tangan ke lengan tangan Fabbyan. "Pak, tunjukkan pesona Bapak sebagai calon suamiku!"