"Pak, saya mau pulang kampung." Pak Arvian menoleh ke arahku, "Pulang ke mana? Kampung kamu itu di hati saya." Aku mencoba menahan diri agar tidak mencari cara untuk membungkam mulut Pak Arvian yang semakin lama semakin aneh. "Pak, saya serius." "Saya juga serius." "Bapak serius ngapain?" Tanyaku dengan nada sedikit geram. "Serius sama kamu." Jawab Pak Arvian dengan enteng. Lagi dan lagi aku menahan tanganku agar tidak berlatih smack down dengan Pak Arvian. Aku meneguk habis segelas air putih untuk meredam perasaan kesal. Sepertinya semenjak aku mengenal Pak Arvian, aku jadi semakin sehat. Dalam sehari aku bisa menghabiskan hampir segalon air. Sungguh luar biasa. "Kamu ngapain mau pulang kampung? Tumben?" "Enggak tahu, Bunda bilang ada hal penting." "Hal penting apa?" "Kala

