"Kin, ajak saya pergi ya?" Pinta Pak Arvian dengan mimik wajah yang menurutku sangat lucu. Sebenarnya aku cukup terhibur dengan tingkah memelasnya Pak Arvian. Jarang-jarang aku bisa melihat Pak Arvian memohon dengan mimik menggemaskan seperti itu. "Enggak mau." Jawabku seraya menahan senyumku. "Saya pokoknya mau ikut, enggak mau dibantah." "Ya udah, pergi aja sendiri. Memang Bapak tahu rumah saya di mana?" Pak Arvian tampak berpikir keras, "Tinggal ikutin kamu aja." "Bapak stalker ya?" "Saya kan sudah izin sama kamu. Kalau belum izin, namanya saya menguntit, tetapi kalau saya sudah izin, berarti saya mengikuti." Pak Arvian memang juara satu dalam hal membenarkan tingkah lakunya. "Sejak kapan Bapak izin dengan saya?" "Saya kan sudah ngomong sama kamu." "Di kamus otak Bapak, ngomo

