Bintang Permohonan

625 Kata
Hari ini ibu mengantarkanku untuk masuk ke sekolah baru, saat memasuki gerbang, aku menghentikan langkah. Menyadari hal itu, ibu turut menghentikan langkahnya dan berjongkok untuk mesejajarkan tubuhnya yang tinggi denganku. "Kenapa Sayang?" "Ute takut..." jawabku pelan. "Takut kenapa?" "Ute takut nggak punya temen Bu, Ute juga takut—" "Takut apa?" Takut diledek lagi karena Ute nggak punya Ayah. Aku memilih untuk diam dan kembali melangkah memasuki sekolah, ibu menahan tanganku dan membuat tubuhku berbalik untuk melihat ke arahnya. "Ute Sayang, sekolah buat apa?" "Buat belajar," "Jadi belajar yang baik ya, biar jadi anak pintar. Ute kesayangan Ibu, kebanggaan Ibu satu-satunya." Setelah selesai mengucapkan kalimat itu, ibu mencium keningku, lalu ia bangkit dan menggandengku untuk menuju kelas. Hari ini untuk pertama kalinya Ibu menungguiku hingga jam sekolah berakhir, seperti yang kuinginkan sejak dulu. Tapi aku sama sekali tidak senang karena aku tidak mengenal seorang pun di kelas, dan mereka semua melihatku dengan pandangan aneh, seolah aku adalah objek yang menarik. "Ute, Ute dari Jakarta ya?" tanya teman sebangkuku yang bernama Lia. Aku menganggukkan kepala singkat untuk menjawabnya. "Itu Ibu Ute yang di luar?" Aku mengangguk lagi. "Cantik ya, sama kayak Ute," pujinya. "Makasih Lia," balasku. "Ute pindah karena Ayahnya pindah kerja ya? Putra juga anak Jakarta, dia pindah ke sini gara-gara Ayahnya pindah kerja." Aku terdiam, bingung untuk menjawab. Teman-teman baruku semua memperhatikan, seolah menantikan jawaban yang akan keluar dari mulutku. "Ayah... Ayah kerja!" jawabku cepat. Aku segera mengangkat tasku dan bersiap untuk pulang. "Ute duluan ya, Ute ditunggu Ibu," pamitku seraya beranjak pergi. Begitu keluar kelas, Ibu menyambutku dengan senyuman. "Gimana sekolahnya?" Ini adalah pertanyaan dan situasi yang kuimpikan sebelumnya, tapi kenapa aku tidak merasa senang? "Pulang yuk Bu," ajakku tanpa mengindahkan pertanyaannya barusan. Aku memilih untuk melangkah duluan dan meninggalkan Ibu yang mengekor di belakang. Sesampainya di rumah Paman Tomi, aku segera berganti baju dan mencoba tidur.  "Loh? Ute nggak makan siang dulu?" tanya Bibi Iren. Aku menggeleng. "Ute nggak laper, Bi." Tanganku bergerak untuk mengambil guling dan memeluknya, lalu memejamkan mata kuat-kuat untuk mencoba tidur. "Sekar, Ute kenapa? Ada yang salah di sekolah?" tanya Bibi kepada Ibu di luar. "Dari pagi Ute udah murung, pas pulang malah makin jadi, Mbak." "Ute berat pisah sama temen-temen lamanya?" "Kemungkinannya iya, Ute memang agak susah untuk penyesuaian sama orang baru." "Apa Ute kangen Ayahnya? Dia selalu nyebut Ayahnya saat main sama Reda." "Ute mungkin cuma butuh waktu penyesuaian aja, Mbak." "Jangan terlalu keras sama anak, Sekar. Berpikir jernih lah, dan kaji lagi apa memang keputusanmu ini yang terbaik untuk kalian. Saya juga nggak tega lihat Ute yang awal-awal begitu ceria malah jadi murung akhir-akhir ini."   *** Aku terbangun saat mendengar suara Paman Tomi yang mengucapkan salam setelah pulang kerja. Saat aku berbalik, aku menemukan sebuah roti sosis dan sebuah toples kecil. Pintu kamarku terbuka dan menampilkan sosok Kak Reda. "Ute udah bangun?" tanyanya yang kujawab dengan anggukkan. Aku menguap dan mengucek mata. "Kak, itu toples siapa?" "Toples Ute." "Ute nggak inget kalau punya toples," jawabku bingung. Kak Reda menghampiriku dan membuatku duduk di sampingnya. Ia membuka toples itu dan memasukan dua buah bintang kertas yang pernah kubuat bersama Paman Tomi. "Toples ini dari Kakak buat Ute, biar Ute bisa ngumpulin bintang Ute sampai penuh." Aku tersenyum begitu lebar sambil menoleh ke arah Kak Reda yang berada di belakangku. "Beneran Kak?" Kak Reda mengangguk. Ia mengecup jidatku dan membuka roti sosis. "Kakak beli di sekolah tadi. Ini makan, Ute belum makan kan?" Aku mengangguk mengiyakan sambil mulai mengigit potongan roti itu. "Ute harus banyak makan biar ada tenaga buat bikin bintangnya biar toplesnya cepet penuh." Aku mengangguk antusias, Kak Reda benar, aku harus makan banyak biar bisa membuat banyak bintang hingga toples itu penuh. "Emang Ute mau minta apa kalau toplesnya udah penuh?" "Ute mau ketemu Ayah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN