Di markas intelijen, Jaka Permana berdiri di depan meja komandannnya, membaca lembaran resmi itu dengan alis berkerut. “Papua?” ucapnya pelan. “Iya,” jawab perwira penghubung. “Penyelidikan penyelundupan senjata ke KKB OPM. Satu bulan.” Jaka menatap tanda tangan di bawah surat: Tanda tangan langsung oleh Kepala Intelijen Nasional. “Kenapa saya?” tanyanya. “Perintah langsung dari pusat,” jawab perwira itu singkat. “Kepala Intelijen menyetujui.” Jaka tersenyum tipis—senyum pahit. “Menarik,” gumamnya. Malam itu, ia menemui Tiffany. “Kamu harus ke Papua?” suara Tiffany bergetar. “Satu bulan,” jawab Jaka jujur. “Misi intelijen.” “Itu berbahaya, Jaka…” Ia menggenggam tangan Tiffany. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu ini bukan kebetulan.” “Kamu curiga?” “Komisaris Dito,” jawab Jaka tanp

