Bab 1 Jodoh Dari Langit
“Arini, kamu kapan nikah?”
Pertanyaan itu lagi. Datang dengan nada yang berbeda, dari mulut yang berbeda, tapi selalu membawa beban yang sama.
Lagi dan lagi. Selalu datang, meski dia memberikan jawaban atau tidak, seolah pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu jawaban.
Arini bahkan sudah hafal betul intonasi setiap orang saat mengucapkannya, nada basa-basi yang terdengar ramah, tapi menyimpan penilaian. Nada yang seolah mengatakan bahwa hidup seorang perempuan di usia tertentu bukan lagi soal mimpi atau pencapaian, melainkan tentang tenggat waktu.
“Doain aja ya, Bu,” jawab Arini seperti biasa, senyumnya rapi, suaranya tenang.
Ibunya mengangguk kecil, tapi jelas tak puas.
Di ruang tamu sempit rumah kecil mereka, aroma kopi hitam yang mulai dingin bercampur dengan gorengan pagi. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton, menjadi latar bagi keheningan yang canggung.
“Kamu itu sudah hampir kepala tiga, Rin,” lanjut sang ibu, menatap Arini dari balik kacamata baca. “Teman-teman kamu banyak yang sudah punya anak. Masa kamu mau sendirian terus?”
Arini menunduk, mengaduk sisa kopinya yang sudah pahit sejak awal.
Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Bukan karena tak ingin menikah atau terlalu memilih, hanya belum pernah bertemu seseorang yang ingin tinggal, bukan sekadar datang, lalu pergi ketika keadaan tak lagi nyaman. Juga, dia bukan ABG labil, hanya saja, dia belum pernah benar-benar menyukai seseorang selama ini.
"Bu, nanti jodohnya datang sendiri."
"Dari mana? Turun dari langit begitu? Kamu pikir jodoh itu hujan?" Ibunya mendengus kesal.
Arini hanya menyalami ibunya, "Arini kabarin kalau jodohnya turun, Bu. Sekarang, ibu berangkat kerja dulu."
Ibunya hanya mendesah berat. Berdebat dengan Arini hanya membuat tekanan darahnya meninggi, tapi tidak pernah membuahkan hasil apapun.
"Hati-hati di jalan!"
"Siap, Bu. Arini berangkat!"
Arini berangkat mengajar dengan langkah yang lebih ringan menggunakan sepeda motor kesayangannya yang sudah lunas bulan lalu setelah dicicil selama enam belas bulan.
TK tempatnya mengajar memang tak besar. Bangunannya sederhana, cat dindingnya mulai pudar di beberapa sudut, halaman depannya hanya beralaskan paving yang sudah retak-retak. Namun setiap pagi, tempat itu selalu dipenuhi tawa anak-anak yang polos dan jujur.
Arini menyukai dunia itu. Dunia di mana cinta tidak diukur dari status. Dunia di mana pelukan tulus tidak menuntut apa pun sebagai balasan. Sayangnya, itu hanya mitos.
“Bu Ariniii,” panggil Bu Santi, guru senior yang selalu muncul dengan senyum penuh agenda. “Masih sendiri ya?”
Arini tertawa kecil, seolah pertanyaan itu hanya lelucon ringan. “Masih, Bu.”
“Ih, sayang banget,” sambung Bu Santi. “Kamu itu lembut, penyabar, cocok jadi ibu.”
“Ibu murid juga bisa dibilang seorang ibu, Bu,” jawab Arini sambil terkekeh.
Guru-guru lain ikut tertawa. Namun Arini tahu, di balik tawa itu, pertanyaan yang sama menggantung di udara—kapan nikah?
Bahkan Bu Ratna, kepala sekolah yang biasanya tegas dan profesional, ikut nimbrung.
“Arini,” katanya sambil menepuk pundak Arini. “Kamu itu aset sekolah. Kalau nanti sudah menikah, jangan resign ya.”
Arini mengangguk patuh.
Dalam hati ia ingin bertanya, sejak kapan menikah berarti harus menghapus diri sendiri dari pekerjaan lalu jadi ibu rumah tangga sepenuhnya? Namun, dia tidak pernah menyuarakan isi hatinya. Bagaimanapun, dia masih butuh gaji.
Arini selalu percaya jodoh sudah ditentukan Tuhan. Kapan datangnya, itu sebuah rahasia dari semesta. Namun, dia percaya kalau pria yang bisa membuatnya berdebar dalam pertemuan pertama adalah jodohnya.
Sore itu, Arini pulang lebih lambat dari biasanya. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan di pinggir jalan. Langit masih kelabu, udara lembap, dan langkahnya terasa berat.
Di tikungan jalan kecil menuju rumah kontrakan, ia melihat seorang kakek berdiri terhuyung. Awalnya Arini mengira kakek itu hanya kelelahan. Namun detik berikutnya, tubuh renta itu ambruk begitu saja ke aspal basah.
“Kek! Kakek!” Arini berlari tanpa pikir panjang.
Ia berlutut, tangannya gemetar saat memeriksa napas sang kakek yang tersengal. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipis, dadanya naik turun tak beraturan.
Serangan jantung.
Entah dari mana keberanian itu datang. Mungkin dari sisa mimpi lama yang pernah ia kubur rapat-rapat, mimpi pernah ingin menjadi perawat, mimpi yang gagal karena tidak ada biaya melanjutkan kuliah sehingga beralih lulusan dan fakultas.
“Tenang, Kek… saya akan tolong anda sebisa saya,” gumam Arini.
Ia mulai menekan d**a sang kakek dengan ritme yang ia ingat, napasnya teratur, hitungannya stabil. Orang-orang mulai mengerumuni, ada yang memanggil ambulans, ada yang hanya menonton dengan wajah panik.
Di kepala Arini hanya satu hal: tolong bertahan.
Rumah sakit menyambutnya dengan bau antiseptik dan kecemasan. Arini duduk di kursi tunggu IGD, jaketnya basah, rambutnya berantakan, tangannya masih gemetar. Ia tak tahu berapa lama ia duduk di sana.
Tak lama kemudian, pintu ruang tindakan terbuka. Seorang pria keluar.
Tinggi dengan bahunya lebar. Wajahnya dingin, terlalu rapi untuk suasana panik seperti ini.
“Siapa yang menolong pasien tadi?” tanyanya.
“Saya, Dok,” jawab Arini pelan sambil berdiri. "Apa ada masalah?"
Tatapan pria itu menajam, mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki. “CPR-nya tepat,” katanya singkat. “Ayah saya tertolong.”
Ayah? Itu sungguh tidak terduga.
“Terima kasih,” lanjut pria itu, lalu menunduk singkat.
Belum sempat Arini membalas, seorang perawat keluar sambil mendorong kursi roda. Di atasnya duduk sang kakek, wajahnya sudah lebih segar, matanya berbinar saat melihat Arini.
“Nak,” panggilnya ceria. “Kamu belum menikah, kan?”
Arini tertegun.
Bagaimana bisa hal pertama yang dia tanyakan soal itu? Apakah di dunia ini sudah tidak ada yang namanya privasi?
“Belum, Kek,” jawabnya jujur. Meski harga dirinya meronta-ronta karena tersindir.
Kakek itu tertawa kecil. “Bagus.”
Pria dingin tadi langsung menghela napas panjang. “Ayah, jangan mulai.”
“Mulai apa?” Sang kakek pura-pura bingung. Lalu menoleh ke Arini. “Kenalin, ini anak saya. Namanya Romeo. Dia seorang duda beranak satu dan Dokter. Cukup keras kepala tapi baik hatinya.”
“AYAH,” tegur pria itu.
Namun sebelum suasana makin canggung, suara langkah kecil terdengar dari lorong. Seorang anak perempuan berlari keluar.
Rambutnya dikuncir dua. Matanya besar dan jernih.
Ia berhenti tepat di depan Arini lalu menatapnya cukup lama seolah sedang memastikan sesuatu.
Tangan kecil itu tiba-tiba meraih tangan Arini lalu menggenggamnya erat.
“Mama…”
Satu kata. Satu sentuhan kecil. Namun cukup untuk membuat Arini membeku.
Pria itu—Romeo—membatu di tempatnya.
“Jasmin,” panggil Romeo pelan.
Namun anak itu justru memeluk kaki Arini lebih erat. “Mama baik… Mama nolong Kakek.”
Arini tercekat. Dadanya menghangat sekaligus sakit. Ia tak tahu kenapa.
Sementara sang kakek tersenyum puas, seolah semesta baru saja mengiyakan rencananya.
“Nah,” katanya lirih tapi penuh arti. “Bagaimana, Nak? Kamu bersedia menikah dengan putra saya?”
Arini termangu. Dia teringat ucapannya tadi pagi. Ternyata benar, jodoh yang disiapkan Tuhan, baru saja turun dari langit untuknya.