bc

Membangun Cinta diatas puing

book_age16+
25
IKUTI
1K
BACA
BE
family
fated
drama
tragedy
serious
campus
city
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

"Zahra, mahasiswi tahfidz Quran yang aktivis, terpaksa berkolaborasi dengan Rafli, mahasiswa arsitektur jenius dengan reputasi buruk. Yang tidak ia duga, sketsa wajah kakaknya ditemukan di antara gambar-gambar Rafli. Takdir telah mempertemukan mereka melalui tragedi di masa lalu—tempat kakak Zahra dan ayah Rafli meninggal bersama. Kini, dengan tumor otak yang menggerogoti hidupnya, Rafli bertekad menyelesaikan pesantren impian mereka sebelum waktu habis. Bisakah cinta tumbuh di antara sketsa arsitektur dan hafalan ayat suci? Atau takdir hanya ingin mereka bersama untuk menyembuhkan luka, sebelum memisahkan mereka selamanya?"

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: TINTA YANG BELUM MENGERING
Kaliurang pagi itu disirami hujan semalam, menyisakan aroma tanah basah yang menguar ke udara. Kupejamkan mata sejenak, menghirup dalam-dalam kesejukan yang menggelitik hidung. Hujan selalu mengingatkanku pada pesantren—pada kaki telanjang yang berlarian di atas lantai beranda yang basah, pada suara tadarus yang bersahutan dari kamar para santri, pada wajah Ayah yang tersenyum bangga setiap kali aku menyelesaikan setoran hafalan. Tapi pagi ini berbeda. Bukan lantunan ayat suci yang mengiringi langkahku, melainkan deru napas yang memburu dan degup jantung yang bertalu-talu. Tanganku menggenggam erat spanduk putih bertuliskan "SELAMATKAN MADRASAH AL-HIDAYAH". Tulisan merah yang kubuat semalaman dengan teman-teman forum muslimah masih belum benar-benar mengering. Seperti tekadku yang tak akan luntur oleh apapun. "Zahra, mikrofonnya sudah siap," bisik Farah, hijab syar'i ungunya melambai tertiup angin pagi. Matanya menatapku penuh harap, seolah aku adalah juru bicara terakhir yang tersisa di muka bumi. Kuanggukkan kepala, menarik napas dalam-dalam. Ada doa-doa yang kuucapkan dalam hati, ada ayat-ayat yang kuulang sebagai pengingat bahwa Allah bersama orang-orang yang menegakkan kebenaran. Pin bunga kecil di sisi kanan jilbab pastelku kusentuh sekilas—kebiasaan yang kulakukan setiap kali butuh ketenangan. Hadiah terakhir dari Kak Salma sebelum ia pergi untuk selamanya. "Bismillah," bisikku pada diri sendiri. Di hadapanku, ratusan mahasiswa UII berkumpul di lapangan utama kampus. Sebagian besar adalah anggota Forum Muslimah Kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa Islam, dan beberapa mahasiswa dari jurusan Hubungan Internasional—teman-teman seperjuanganku. Di kejauhan, kubisa melihat Rektor dan beberapa petinggi kampus mengawasi dari balik jendela rektorat. Gedung utama dengan kubah megah itu tampak mengintimidasi di bawah langit yang mulai cerah. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapaku melalui pengeras suara. Suaraku bergema di seluruh penjuru lapangan. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab para mahasiswa serempak. "Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita bisa berkumpul di sini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam." Kutarik napas sejenak, menelusuri wajah-wajah yang memandangku penuh harap. "Saudara-saudari seiman, kita berkumpul di sini bukan untuk melawan institusi yang telah mendidik kita. Kita di sini untuk mengingatkan—bahwa ekspansi kampus kita tidak boleh mengorbankan madrasah bersejarah yang telah berdiri sejak tahun 1950-an. Al-Hidayah bukan hanya sekadar bangunan tua, tapi rumah bagi puluhan anak yatim dan dhuafa yang menggantungkan masa depan mereka pada pendidikan di sana." Gemuruh tepuk tangan menyambut kata-kataku. Kulihat beberapa mahasiswi berkaca-kaca. Namun di sudut mataku, kulihat sekelompok orang asing—bukan bagian dari kampus kami—bergerak perlahan memasuki kerumunan. Jas hitam mereka kontras dengan kemeja dan jilbab putih yang dikenakan sebagian besar mahasiswa. "Islam mengajarkan kita tentang keadilan, tentang melindungi yang lemah, tentang—" Kata-kataku terputus oleh suara gaduh. Kerumunan mulai berantakan saat beberapa orang berjas hitam itu mendorong mahasiswa. Salah satu spanduk robek. Seseorang berteriak. "Zahra, hati-hati!" Farah menarik lenganku. "Sepertinya ada provoktor!" Jantungku berdegup kencang. Ini bukan skenario yang kami rencanakan. Demonstrasi kami seharusnya damai, terorganisir, dan bermartabat. Bukankah kami sudah mendapatkan izin dari pihak keamanan kampus? "Tenang, semuanya tenang!" teriakku melalui mikrofon, tapi suaraku tenggelam dalam kepanikan yang mulai menyebar. Seorang pria bertubuh tegap mendekati podium tempatku berdiri. Matanya menatapku tajam, langkahnya mantap. Instingku mengatakan bahwa ia bukan orang yang ingin mendukung aksi kami. "Turun kau, anak pesantren. Bukan tempatmu memimpin pemberontakan," desisnya. Tangannya meraih mikrofonku dengan kasar. Kutahan tangannya. "Ini bukan pemberontakan. Ini perjuangan untuk keadilan." Tarikan napasnya kasar. Aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya—tangannya terangkat, bersiap melayangkan pukulan. Kupejamkan mata, siap menerima konsekuensi perjuanganku. Tapi pukulan itu tidak pernah sampai. "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengajarkan kekerasan terhadap perempuan, apalagi yang sedang memperjuangkan kebenaran." Suara bariton itu datang dari seseorang yang kini berdiri di antara aku dan si provoktor. Punggungnya menghadapku, tapi dari postur dan rambut hitam berantakannya, aku langsung mengenali siapa dia. Rafli Arkananta. Mahasiswa Arsitektur yang terkenal karena sikap eksentriknya dan konfrontasi-konfrontasi tajamnya dengan para dosen. "Minggir kau!" Provoktor itu menggeram. "Tidak akan," jawab Rafli tenang. Tanpa diduga, ia mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya pada wajah provoktor. "Aku sudah merekam semua tindakanmu sejak kau memasuki kampus. Termasuk uang yang kau terima di parkiran utara tadi." Mata provoktor itu membelalak. Keringat dingin membasahi dahinya. "Jika kau dan teman-temanmu tidak meninggalkan tempat ini dalam sepuluh detik, rekaman ini akan sampai ke kantor polisi dan media massa." Tanpa berkata apa-apa lagi, provoktor itu mundur dan memberi isyarat pada teman-temannya. Dalam hitungan menit, orang-orang berjas hitam itu menghilang dari lapangan. Rafli berbalik menghadapku. Matanya tidak menatap langsung padaku—sesuatu yang selalu dibicarakan orang-orang tentangnya. Ia selalu menghindari kontak mata. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya, masih tanpa menatap mataku. Aku mengangguk, masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. "Terima kasih, tapi—bagaimana kau tahu soal uang itu?" Rafli mengedikkan bahu. "Aku sedang menggambar di parkiran saat mereka datang. Kemampuan observasiku di atas rata-rata." Kelegaan yang kurasakan perlahan berubah menjadi kecurigaan. "Jadi kau merekam mereka?" "Tidak," jawabnya datar. "Lalu rekaman yang kau tunjukkan tadi?" "Ponselku mati sejak tadi pagi." Ia memperlihatkan layar ponselnya yang hitam. "Aku berbohong." Kelegaanku seketika berubah menjadi amarah. "Kau berbohong? Bagaimana jika mereka menyadarinya? Bagaimana jika mereka kembali dan—" "Tapi mereka tidak kembali," potongnya. "Hasilnya sama. Demonstrasimu selamat. Kepalamu juga selamat dari benjolan." "Dengan cara berbohong? Kau tahu kan kita tidak boleh—" "Lebih baik berbohong daripada membiarkan kepala orang pecah," potongnya lagi. "Kadang-kadang, hasil lebih penting daripada metode." Aku terperangah. Inilah kenapa Rafli Arkananta selalu jadi bahan perbincangan. Jenius tapi kontroversial. Baik hati tapi tidak mengikuti aturan. Ia baru saja menolongku, tapi dengan cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsipku. "Terima kasih, tapi aku tidak setuju dengan caramu," ujarku akhirnya. Untuk pertama kalinya, ia menatap mataku sekilas. Sepasang mata coklat gelap yang tajam. "Kau bisa melanjutkan demonstrasimu sekarang. Mereka tidak akan kembali." Tanpa menunggu jawabanku, ia berbalik dan berjalan menjauh. Kemeja putihnya—yang kusadari adalah warna pakaian yang selalu ia kenakan setiap Senin—berkibar tertiup angin. Farah menghampiriku dengan wajah cemas. "Ya Allah, Zahra, kau tidak apa-apa? Tadi itu Rafli Arkananta, kan? Apa yang dia lakukan di sini?" Kutarik napas panjang, mataku masih mengikuti sosok Rafli yang semakin menjauh. "Dia menyelamatkanku," jawabku pelan. "Dengan cara yang tidak kusukai." Entah mengapa, aku merasa ini bukan pertemuan terakhir kami.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook