Hei, Dewi Bulan..., di balik gulitanya malam, aku melihatmu. Jika yang lain cukup puas dengan memandangmu, aku cukup serakah untuk memilikimu. Bisakah kau menghindar?
***
Malam telah tiba, rumah Oma Sofia sudah terbenah cantik. Ada beberapa muda-mudi berpakaian seragam batik, cantik, dan tampan, berdiri berjajar di jalan pintu masuk, siap menyambut siapa pun tamu yang akan datang. Bunga-bunga tertata apik di setiap sudut rumah. Para keluarga, kerabat serta tamu undangan, duduk santai, dan saling berbicara dengan akrab.
Malam ini, akan diadakan acara adat sunda untuk lamaran, yang berlanjut tunangan. Elard dan Azka membaur bersama para sepupu dan kerabat, keduanya tampak bicara santai dan mendiskusikan banyak hal. Tetapi sebenarnya, kegelisahan tersembunyi di benak keduanya. Baik Elard maupun Azka, penasaran akan bagaimana penampilan Sasikirana dan Elle.
Sebenarnya, melihat Sasi atau pun Elle dengan penampilan yang resmi, sudah bukan pertama kalinya bagi Elard dan Azka. Hanya saja, keduanya merasa malam ini mestinya berbeda. Terutama bagi Elard, karena ada rasa yang berubah dari sebelumnya perihal Sasi.
Elle muncul, melangkah anggun memasuki ruang utama. Penampilannya sangat elegan. Dia menggunakan gaun chiffon silk berwarna tosca dan biru yang bercampur secara dramatis indah. Dipadu brokat berpotongan rendah berwarna gold. Rambut panjangnya digelung modern diberi tambahan jepit indah berkilau berbentuk bunga.
Semua memandang Elle dengan kagum. Ada yang saling berbisik atau tetap terus memandangi Elle tanpa berkedip.
Elle tersenyum dan melangkah mantap menuju Elard. Namun, tepat sesaat sebelum ia berada di hadapan Elard, Azka menghadang langkahnya, membuat Elle terkejut dan hampir saja saling bertabrakan.
Elle menjadi kesal, dengan sengit ditatapnya Azka. Sayangnya, Azka justru makin terlihat senang, karena kemudian Azka mengedipkan sebelah mata. Dengan senyum jail, diambilnya salah satu tangan Elle. Bukan penurut, Elle mencoba menolak tangan Azka dengan tetap terlihat anggun. Satu hal yang sia-sia belaka bagi Elle, karena Azka justru semakin erat menggenggam jemari tangan Elle.
Azka lebih mendekatkan diri ke Elle dan berbisik lembut, "Kamu kan gak mungkin mencengkeram lengan Kak Elard. Kecuali, kamu ingin mempermalukan diri berebut dengan yang sudah ditetapkan."
Azka melirik Elle dengan senyum puas karena dilihatnya Elle terdiam. Segera Azka mengapit tangan Elle dan keduanya melangkah menghampiri Elard yang terlihat gelisah.
"Mana Sasi?" Elard langsung bertanya pada Elle. Yang ditanya justru terlihat seperti melamun. Elle tidak merespon tanya Elard.
"Elle! Mana Sasi? Sebentar lagi rombongan Jojo mau sampai," tegur Elard. Lagi-lagi Elle tidak memberikan reaksi.
Elard menatap Elle bingung, dialihkan pandangannya ke Azka, yang dibalas dengan kedikan bahu, tanda Azka juga tidak mengerti dengan keadaan Elle yang seperti sedang melamun. Azka mendekatkan kepalanya ke wajah Elle. Sembari menjentikkan jemari, Azka menegur Elle, "Elle!"
Elle terlonjak kaget. Suara bas Azka yang begitu lembut saat menegur telah menarik Elle kembali pada kesadaran. Sontak dia memalingkan wajahnya ke Azka, yang justru membuatnya hampir mencium Azka. Lagi-lagi Elle terkejut, serta merta ia memundurkan tubuhnya, dan membebaskan diri dari Azka.
"Apa sih?" tanya Elle sambil melotot.
Awalnya Azka terkejut melihat reaksi Elle yang berlebihan. Dirinya tak mengerti kenapa Elle justru tampak seperti panik.
"Tuh, Kak Elard nanya, mana Teh Sasi? Kalian kan sekamar."
Elle berpaling menatap Elard. "Masih ada di kamarnya, mungkin. Tadi, dia kan terlambat dirias. Gara-gara sibuk bercengkerama." Diliriknya Azka dengan sengit. Kalimat terakhir berupa sindiran yang sengaja ditujukan untuk Azka.
Sebelumnya, tepatnya tadi sore, Sara melihat Azka dan Sasi keluar dari salah satu ruangan dengan saling tertawa. Ia melihatnya dari jendela dapur. Saat itu dirinya merasakan amarah dan kebencian melihat keakraban Azka dan Sasi. Tapi kemudian dia kebingungan sendiri, karena ia tak punya alasan apa pun untuk marah.
Tanpa bicara lagi, Elard berlalu meninggalkan Azka dan Sara. Ia gemas dengan terlambatnya Sasikirana turun dari kamarnya.
Apa aja yang dilakukannya, sih? gerutu Elard dalam hati, sembari mempercepat langkahnya.
"Melamun apa?" tanya Azka sambil lalu pada Elle.
"Ayo." Azka mengapit tangan Sara dan keduanya melangkah ke tempat acara adat akan dilaksanakan. Sara yang menurut tanpa protes, membuat Azka bingung, sekaligus senang.
Elle sendiri, justru sedang berkutat dengan pikirannya sendiri. Sikap Azka yang kurang ajar, entah kenapa membuatnya hilang k****l diri. Terlebih saat Azka berbisik padanya, aroma aftershave yang tercium lembut, membuat Elle benar-benar hilang akal. Jantungnya hingga kini masih berdegup tidak karuan.
Elle juga bingung sendiri, kenapa jika teringat kejadian tadi sore, dirinya merasa ingin marah.
Arghhh..., buat apa aku marah-marah? Apa aku cemburu? Oh tidak! Elle merasa konyol dengan pikirannya sendiri dan ia menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamu kenapa, Elle? Sakit?" tanya Azka lembut.
Kedua mata Elle membeliak, terkejut karena Azka, lagi-lagi begitu dekat dengannya. Aroma aftershave tercium samar dan itu membuat Elle limbung.
"Elle! Hei..., Elle!" Azka mengguncang lembut bahu Elle. Azka khawatir dengan keadaan Elle saat ini yang sepertinya mudah hilang fokus dan membuat Elle menjadi aneh. Azka menempelkan jemarinya ke kening Elle.
Sentuhan Azka justru makin membuat Elle semakin senewen. Segera ia menepiskan tangan Azka. "Apaan, sih. Bawel!" Elle segera memalingkan wajahnya ke arah lain dan pura-pura sedang mengamati sekeliling, sembari menenangkan diri.
"Kok, 'apaan'? Kamu yang apa-apaan? Tadi makan apa?"
"Buaya," sahut ketus Elle.
Azka tak bisa menahan tawa. Dirapatkannya duduknya hingga lengan masing-masing bersentuhan. Elle dapat merasakan itu. Dia tak berkutik, selain sedikit memutar mata dan memajukan duduknya.
"Buayanya..., enak?"
Nada suara Azka yang begitu lembut, semakin membuat degup Elle kalang kabut. Elle menguatkan tekadnya untuk menghadapi pesona Azka yang baginya sangat menganggu. Terutama, merusak pencitraan Elle sebagai wanita elegan.
Elle menoleh sengit ke arah Azka. Matanya sengaja dibuat melotot saat menatap mata Azka. "Duduknya, bisa agak kesana, 'kan? Harus, ya, duduk mepet-mepet begini?"
"Harus, dong."
"Apa, sih? Sanaan, dong."
"Kamu yang sinian."
"Jangan kekanak-kanakan, deh," ujar Elle yang mulai putus asa.
Elle mengenal sifat Azka yang sebelas dua belas dengan kakaknya, Elard. Jika sudah 'A', akan sulit menjadi 'B'. Tapi, Elle tak mengerti kenapa Azka begini iseng terhadap dirinya. Sangat mengganggu. Atau, sebenarnya Azka bersikap wajar saja, tetapi Elle yang berlebihan.
Bagi Elle malam ini, tubuh dan hatinya bereaksi tidak sama lurus. Membuat pikirannya kacau harus mengambil keputusan bagaimana dalam mengatur suatu reaksi di saat berdekata dengan Azka. Sebelumnya, Elle tak pernah begini. Dia tak yakin, sejak kapan dirinya berubah reaksi terhadap Azka.
Azka tiba-tiba menarik lembut lengan Elle, agar lebih sedikit mundur duduknya, dan lebih dekat dengannya. Azka sendiri memilih untuk tak menyembunyikan ketertarikannya akan pesona Elle yang bak bidadari penguasa malam.
Penampilan Elle mengingatkan Azka akan lukisan-lukisan Jepang, tentang dewa-dewi. Elle yang putih, membuatnya terlihat seperti Dewi Bulan. Gaunnya yang gelap terlihat seperti awan di malam hari yang melindungi keindahan bulan. Sungguh, tak boleh dibiarkan jauh apalagi terlepas.
"Duduk dekat sini. Kalau jauh-jauh, nanti kamu diculik."
"Apa, sih? Gak usah pegang-pegang!" tolak Elle. Pun begitu ia menurut.
"Kalau gak boleh pegang, merangkul, boleh dong ya," goda Azka.
"Pegang, gak boleh. Merangkul, juga gak boleh. Semua, gak boleh!"
Azka tersenyum simpul. Dengan sengaja mendekatkan kepalanya ke telinga Elle. Tercium aroma vanila dan bunga-bungaan dari sekitar leher Elle. Menggoda tidak hanya indra penciuman Azka, tapi juga sisi kelaki-lakian Azka.
Sedangkan Elle. Mati-matian menahan diri untuk tak menghindar dari embusan lembut napas Azka yang menerpa lehernya dengan samar. Ia mencoba menjaga wibawanya. Padahal hatinya kebat-kebit.
"Boleh, tidak boleh, Saya tetap akan menguasaimu. Hanya saya." Azka segera menarik tubuhnya sebelum ia menjadi liar.
Azka membuktikan kata-katanya. Diambilnya jemari Elle dan ditautkannya di sela-sela jemarinya. Elle sendiri tak menolak. Antara dia psrah ataukah memang menikmati penguasaan Azka.
***