Chapter 18

1026 Kata
Bagaimana benang sari bertemu putik bunga? Saat angin sengaja menggoda. Bagaimana Aku bertemu kamu? Saat takdir sengaja menggoda. *** Sasi akhirnya menemukan kamarnya di lantai atas, setelah di antar Wardah. Tanpa mengetuk pintu, Sasi masuk ke dalam kamarnya. Seketika dia bengong melihat kamarnya yang luas. Tetapi, ketimbang ukuran kamar, Sasi lebih bengong pada adanya koper yang bukan miliknya, berjajar rapi di dekat kopernya. Hanya ada satu tempat tidur ukuran besar. Sasi menduga-duga, antara dia akan tidur dengan orang lain di atas tempat tidur yang sama atau dirinya memang tidur sendiri dan koper itu salah ditempatkan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Elle masuk dan reaksi pertamanya adalah terkejut mendapati Sasi berdiri di tangah kamar. "Ngapain di sini?" tanya Elle ketus. "Ini kamar saya. Begitu kata Bu Wardah." Elle mengernyit. Sama seperti reaksi Sasi tadi, Elle pun bengong mendapati kopernya berjejer dengan koper lain. "Itu kopermu?" Sasi mengangguk. "Ah...." Elle mendesah kesal. Dia memeriksa lemari putih dan mengangguk sendiri. Elle kemudian menata pakaiannya ke dalam lemari. Sedangkan Sasi hanya memerhatikan saja dari tepi tempat tidur. "Ngapain kamu?" tanya Elle menatap Sasi yang duduk tenang. "Ha?" "Ha ho ha ho. Kamu gak beresin tas kamu? Mandi? Dandan?" "Iya." Sasi bangkit dari duduknya dan mengikuti jejak Elle, membereskan isi tas. "Apa yang membuat Kak Elard memilihmu, ya?" tanya Elle ditengah kesibukannya menata baju. Sasi termangu. Pertanyaan Elle, bukanlah yang pertama dia dengar, dan Elle juga bukan orang pertama yang menanyakan hal serupa. Dirinya sendiri pun juga sering bertanya-tanya, kenapa Elard memilihnya. Tak ada jawaban karena memang tak pernah Sasi tanyakan. "Kak Elard adalah pria yang taktis, teratur. Sedangkan kamu...." Tatapan Elle menelusuri Sasi dari atas ke bawah. Kembali helaan napas keluar dari bibir merah Elle. "Pertemuan depan pintu itu, apa pernah terjadi?" tanya Elle. "Tidak," jawab Sasi singkat. "Serius?" Sasi menghentikan kegiatannya dan menatap Elle. "Kenapa? Kan sudah jelas itu hanya karangan. Bukankah kalian yang mengarang dan saya cuma meng-iya-kan." Elle terdiam menatap Sasi. Kemudian dia kembali menyibukkan diri dan berujar lirih, "Kak Elard tidak mungkin segila itu." "Maksudnya?" tanya Sasi tak mengerti. Elle tak menjawab. Masih teringat olehnya, pagi hari di hari wawancara, Tristan menyodorkan lembar panduan tanya jawab wawancara untuk Sasi. Dibagian kisah pertemuan pertama di depan pintu, Elle menanyakan langsung ke Elard. Namun, yang diberikan senyum simpul. Elard bukanlah orang yang romantis. Rasanya antara mau percaya, tetapi sulit dipercaya. Tak mau dipercaya, tetapi kata Tristan, jawaban itu didikte sendiri oleh Elard. "Bagaimana perasaanmu dengan Kak Elard?" Kenapa hari ini, orang-orang menanyakan tentang saya dan Elard?Pentingkah untuk tahu? batin Sasi. "Kenapa?" "Pingin tahu aja. Melihat hubungan pertunangan kalian yang ajaib selama tiga tahun, apa perasaanmu yang sesungguhnya ke Kak Elard?" Azka ke dua, keluh Sasi dalam hati. "Biasa aja," jawab singkat Sasi. "Biasa? Biasa bagaimana?" Sasi memiringkan kepala, kedua bola matanya berputar seolah mencari jawaban. "Ya..., begitu. Saya tak punya penjelasan. Kami tidak sedekat yang dibayangkan orang sebagai tunangan. Kamu lebih tahu itu," ujar Sasi perlahan. Rasanya malu membicarakan masalah perasaan pada orang yang tak pernah dekat, seperti Elle. "Kalau bukan depan pintu, lalu di mana kalian pertama kali bertemu?" "Di acara pertunangan." "What?" Elle melongo menatap Sasi. Dia tak menduga rumor yang beredar selama ini ternyata benar kalau Elard meminta Sasi tanpa Sasi tahu siapa Elard sebelumnya. Kalau begitu adanya, maka hanya Elard yang pernah melihat Sasi. Tapi..., di mana? Kalau, Sasi merasa tidak pernah bertemu di depan pintu, hanya ada dua kemungkinan. Kak Elard mengarang, tetapi itu mustahil. Sangat tidak mungkin Kak Elard mengarang peristiwa untuk hal receh. Atau.... Sebuah pikiran baru melintas di benak Elle. "Kamu yang lupa," ucap Elle. "Lupa apa?" Sasi mulai bingung akan Elle. Ada yang ingin Elle korek, tetapi sayangnya Sasi tidak bisa memberikan jawaban memuaskan. "Ah, sudahlah. Saya mandi dulu. Nanti kalau ada orang cari saya, suruh masuk aja," ujar Elle kemudian. Anggukan kepala Sasi tak diperhatikan Elle yang sudah meluncur ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Tamu siapa lagi? Apa kamar ini masih dibagi-bagi lagi untuk beberapa orang? Saya nanti tidur di sisi mana? keluh Sasi dalam hati. Dalam kesendirian. Sasi duduk termenung di lantai sembari bersandar pada pintu lemari. Pertanyaan Azka dan Elle hampir sama. Mencari tahu tentang perasaannya terhadap Elard. Tentang bagaimana dia menerima Elard. Setelah tiga tahun, Sasi harus akui ada yang berbeda di dalam dirinya sendiri. Awal-awal, jantungnya berdegup karena adanya banyak kekhawatiran. Belakangan, jantungnya berdegup karena bertemu Elard. Mungkinkah sebenarnya dari awal jantung saya berdegup memang karena Elard? Menyadari betapa konyol pikirannya sendiri, Sasi segera bangun dari duduknya. Tak lama, kamarnya diketuk. *** Sekeluarnya dari kamar mandi, Sasi tercenung menatap Elle yang sedang dirias. Rupanya tamu Elle adalah MUA. "Ngapain bengong?" tegur Elle. "Siapin bajumu, abis ini kamu dirias." "Ha?" "Ha ho ha ho terus sih kamu. Kebiasaan." Sasi tak mau mendebat dan menurut saja. Ini seperti deja vu. Teringat kejadian saat wawancara di Hotel Blenda. Segala sesuatunya sudah diatur. Beruntung kali ini Elle hanya menyiapkan juru rias, jadi gaun yang disiapkan Kanaya tak sia-sia di bawa. Jam tujuh malam, Elle sudah selesai dahulu, sedangkan Sasi di tahap akhir riasan. Dari pantulan cermin, Sasi mengagumi pesona Elle. Timbul rasa tak percaya diri melihat Elle. "Saya turun dulu. Mbak Maya, bantu dia sama pakaiannya ya. Bos maunya dia sempurna," ujar Elle. "Bos? Elard?" tanya Sasi. "Siapa lagi? Ini yang meminta kan Kak Elard." Sasi terdiam. Ternyata benar, ini adalah pengulangan. Elard yang mengatur ini itu untuk dirinya. Sasi tak suka. Ini seolah Elard tak percaya akan dirinya. Seolah Sasi begitu lemah. "Kenapa?" tanya Elle. "Tidak. Tidak apa-apa." "Gak suka?" Tak sulit menerka perasaan Sasi dengan melihat ekspresinya saja. "Apa, semua-semua harus diatur Elard?" tanya Sasi pelan. "Apa, semua-semua bisa kamu berikan dengan tepat dan sempurna?" Sasi menatap Elle melalui cermin. "Tapi, aku mau menjadi diriku sendiri. Harusnya aku punya hak ini dan itu untuk diriku sendiri." Sebenarnya Sasi menyampaikan tidak dengan nada tinggi, bahkan sebenarnya sangat pelan. Namun, kata-kata yang diucapkan, begitu menohok. Bahkan Mbak Maya, sang juru rias, menghentikan riasannya. "Apakah riasannya tidak sesuai?" tanya Mbak Maya segan. Sasi segera menyadari situasinya menjadi tidak enak, terutama bagi orang lain yang tidak memiliki keterlibatan apa pun. "Oh, tidak, Mbak. Ini sudah pas. Tidak berlebihan. Maaf, abaikan yang tadi," ujar Sasi dengan tersenyum tulus yang dibalas senyuman lega dari Mbak Maya. "Kalau begitu, bilang sendiri saja sama orangnya." Setelah mengatakan itu, Elle melenggang santai keluar kamar. Seharusnya Sasi merasa beruntung dan bersyukur, apa-apanya sudah disiapkan Elard. tetapi, karena tidak ada diskusi, maka ini menjadi keputusan sepihak. Sasi harus akui, Elard sudah memberikan terbaik. Sasi selalu terlihat sempurna. Hanya saja, Sasi ingin sesekali Elard bertanya dulu apa mau Sasi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN