Lukanya hati. Deritanya cinta. Ketika hasutan lebih berkuasa. Dan kebenaran membisu. *** Sasi masih berdiri terpaku diam di taman air mancur. Dadanya sesak, air matanya luruh semua dan kakinya mulai lemah. Dengan terhuyung Sasi duduk di bangku taman. Ya Tuhan..., apa ini? Ada apa ini? Apa salahku? Bukankah rasa ini adalah anugerah darimu, Tuhan, yang kehadirannya tidak disangka dan diduga? Bagaimana aku menjawabnya? Ya Tuhan..., apakah..., hubungan ini sudah berakhir? Sasi mendekap mulutnya sendiri dan napasnya mulai terasa sesak. Ia beranjak dan berlari masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia segera mengambil minuman yang tersedia di meja sebelah tempat tidurnya dan meneguknya hingga habis. Tiba-tiba Sasi menggigil, dipeluknya kedua lututnya. Kepalanya berputar

