Sentuhan tidak akan mendustai bagaimana cinta masih ada di tengah badai. *** Tubuh Sasi terlonjak kaget. Tadinya dia melamun. Tepatnya membayangkan aktifitas Elard di dalam kamar dengan meja kerjanya, dengan meja riasnya, dengan lemari jam dan dasi, dengan apa-apa yang di kamar Elard. Belum juga khayalannya selesai, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Sosok Elard sudah menjulang di ambang pintu masih dengan pakaian lengkap. "Ya? Kenapa?" Sasi bertanya bingung. Apakah dia mau membahas perihal itu lagi? Saya harus jawab apa? Saya gak akan punya jawaban kenapa dan kapan saya jatuh cinta. Pasrah sajalah, batin Sasi. Elard tak menjawab. Ia melangkah masuk dan menutup pintu perlahan. Sikapnya justru membuat Sasi semakin canggung. Apalagi Elard justru melangkah mendekat dengan ritm

