Luka di hati yang disimpan dalam hening. Ibarat iblis yang sedang tidur siang. Jangan biarkan gulana mendekat. Buka pintu hatinya dan tanamkan bibit sayang. *** Tak tega melihat wajah Sasi yang semakin memerah, Elard melepaskan jemarinya dari pipi Sasi. Itu cukup melegakan Sasi, dia mengembuskan napas lega. Sedangkan Elard mengubah posisi duduknya dan menatap sekitar. "Dulu..., saya sering ke sini sendiri," ujar Elard dengan pandangan yang menerawang. "Saya selalu duduk di sini. Saya hanya duduk dan diam. Kamu lihat di sana, laki-laki yang berjalan dengan kaos hitam dan topi. Saya bisa baca apa yang dipikirkannya." "Ha? Sungguh?" Sasi percaya tidak percaya, pandangannya diarahkan pada pria berkaos hitam. "Dia bilang, jika malam ini dia tak datang, maka ini adalah malam terakhir di ant

