Tak ada yang sempurna dari setiap jiwa. Kejujuran hanya adalah tuntutan. Dan menuduh adalah pisau tajam. Lukanya bisa sangat dalam.
***
Malam sudah semakin larut, suasana rumah pun senyap. Sasikirana sudah membebaskan dirinya dari gaun yang tadi dikenakan dan juga sudah membersihkan wajah dari makeup. Kini ia sedang membongkar isi tasnya. Beberapa barang bertebaran di atas tempat tidur.
"Apa-apaan ini?" seru Elle dengan nada kesal. Ia baru saja keluar dari kamar mandi ketika di dapatinya tempat tidur penuh dengan aksesoris milik Sasi.
Sebenarnya Sasi hanya menebarkan isi tasnya di sisi lain tempat tidur dan sebenarnya tenpat tidur itu ukuran besar. Tapi karena Elle yang tidak suka memiliki teman sekamar, apalagi teman sekamarnya adalah Sasi, maka hal-hal kecil saja sudah membuatnya kesal.
"Mau tidur, Elle? Maaf. Saya benahi dulu, ya." Tergesa-gesa, Sasi membereskan barang-barangnya.
"Ngapain, sih?"
"Mmm..., saya cari ponsel."
"Ha? Kamu buat berantakan ini semua, hanya untuk barang butut seperti itu? Sinting."
Sasi kaget mendengar kata terakhir Elle, ia yang masih membungkuk, kini mendongak menatap Elle. "Sin...ting?"
"Iya. Sinting. Kenapa?" Rasanya Elle perlu pelampiasan kekesalannya atas banyak hal.
"Kenapa kamu marah?"
"Saya tidak marah. Saya kesal."
"Pada saya?"
"Menurutmu? Apa ada orang lain lagi di sini?" Elle berpaling dan menuju meja rias. Dia mulai mengoleskan krim khusus untuk wajah.
"Dari dulu, kamu membenci saya. Apa saya ada salah yang tidak saya sadari terhadapmu?"
Banyak. Satu di antaranya, kamu merebut Kak Elard dariku.
"Apa ini tentang Elard?" tebak Sasi dan tebakan itu jitu untuk Elle. Selama ini Sasi menduga-duga kenapa Elle begitu tak menyukai dirinya. Tak pernah ada keramahan, selalu ketus.
Sabatnya sudah menganalisa kemungkinan Elle sebenarnya menyukai Elard juga. Kehadiran Sasi yang tiba-tiba dibanding kebersamaan Elle yang sudah bertahun-tahun, tentu menjadi guncangan sendiri untuk Elle.
Terlepas dari lamanya kebersamaan Elle dan Elard, wanita mana yang mampu menolak pesona Elard? Tampan, pangeran dari klan Blenda, sukses, benar-benar lengkap dan sempurna. Tak ada wanita yang menolak kharisma Elard, termasuk Elle. Pengecualian berlaku khusus untuk Sasi.
Dari pantulan cermin, Elle melirik ke arah Sasi yang ternyata sedang menatapnya. "Gak usah sok tahu!"
Walaupun kamu tahu, jangan pernah kamu lontarkan pemikiranmu itu, Sas. Itu hanya akan membuat saya semakin tak menyukaimu. Karena kamu benar.
"Maaf," ujar Sasi.
"Kamu bukan sedang mati-matian menarik perhatian Kak Elard, 'kan?"
"Mmm..., maksudnya?" Sasi bingung dan tak mengerti arah bicara Elle.
"Kamu gak bodoh untuk memahami kata-kata saya, bukan? Ataukah..., kamu memang sebodoh itu?"
Sasi mengepalkan kedua tangannya. Setelah kata Sinting, kini kata bodoh mengalir lancar dari bibir Elle. Seolah itu memang sepantasnya, tanpa perlu di rem.
"Bisakah kamu bicara sedikit baik pada saya?" tegur Sasi.
Elle menatap Sasi dengan muak. Elle merasa pertanyaan Sasi seperti seorang ibu yang sedang menegur seorang gadis belia. Wanita bermata belo itu memutar tubuhny dan menatap Sasi .
"Kamu mau menggurui saya?" Nada Elle begitu sengit. Membuat Sasi merasa tidak enak hati.
Sasi sedang tak ingin menciptakan keributan dirumah orang, terlebih keributan ini tidak jelas asal muasalnya apa, selain bahwa Sasi tidak terima dengan penyebutan yang Elle berikan. "Maaf."
Ekspresi Sasi saat meminta maaf, di mata Elle adalah drama yang dibuat agar terlihat lugu.
"Cih..., kamu itu...." Elle menunjuk Sasi dengan salah satu jarinya yang lentik, "Bukan orang kere, tapi kamu ikut ke sini dan memamerkan ponsel jadul-mu, untuk apa, ha?"
Sasi hanya diam saja. Dirinya tak tahu harus menjawab apa. Ingin membela diri bahwa tak ada keinginannya memamerkan ponsel kunonya, semua bermula dari Azka. Namun, itu hanya sekedar ingin dan Sasi memilih diam.
"Apa sekarang kamu dan keluargamu sedang putus asa? Jadinya kamu mengubah strategi menjadi Cinderella? Sudah tiga tahun, tapi Elard tak bergerak menikahimu. Hanya menjadikanmu pajangan dan layangan, kasihan." Elle tertawa dengan nada menghina.
Terlihat wajah Elle yang puas menjatuhkan Sasi. Akhirnya ida mendapatkan kesempatan untuk memuntahkan semua kekesalan dan kebenciannya kepada Sasi.
"Ternyata klan Geofrey memang tidak mudah menyerah. Setelah kedua anaknya yang lain ditolak, ayahmu mati-matian sodorkan anaknya yang lain, yang jauh dari standar. Seorang anak yang siap menjadikan dirinya sebagai mainan, hahaha...," tawa Elle semakin menjadi.
Elle terlalu marah hingga lupa, bahwa Sasi tidak pernah disodorkan. Sasi adalah pilihan langsung dari Elard.
Sasi terguncang dengan kata-kata Elle yang terus-menerus menghina. Kedua tangan Sasi mengepal keras hingga jari-jari tangannya memutih. Pun wajah Sasi memucat dan matanya mulai memerah karena menahan air mata. Dengan suara pelan namun tegas dan masih bisa terdengar jelas, Sasi bicara.
"Siapa kamu? Apa kepentinganmu atas hubungan saya dengan Elard? Bahkan jika saya hanya sebuah pajangan, apa urusanmu? Bahkan jika Elard hanya menjadikan saya tunangan seumur hidup, memangnya kamu bisa apa? Bukankah seharusnya kamu mengurus dirimu sendiri? Jika saya hanya pajangan dan mainan, lalu kamu apa? Bayangan?"
Setelahnya, Sasi bergegas keluar dari kamar dan meninggalkan Elle yang terperangah. Elle benar-benar terkejut dengan cara bicara Sasi yang berani. Lepas dari itu, yang terucapkan Sasi terasa benar adanya, dan itu menohok langsung ke dalam hati.
Elle memutar tubuhnya kembali menghadap cermin. Ditatapnya wajahnya lekat.
Yahh..., siapa aku? Kenapa aku harus marah-marah padanya? Apakah aku memang hanya bayangan? Elle bertanya-tanya sendiri dalam hati.
Elle teringat hari-harinya di masa lalu bersama Elard. Bagaimana ia selalu membuntuti Elard kamana pun. Bagaimana ia selalu mencaritahu semua kegiatan Elard. Bahkan dirinya memilih bekerja di bawah Elard, ketimbang menjadi pemimpin di salah satu perusahaan milik keluarga.
Tapi sepanjang yang ia ingat, Elard tak pernah ada untuknya. Ia lah yang berada di belakang Elard. Layaknya bayangan, seperti kata Sasi. Perlahan air mata jatuh dan Elle mulai terisak.
Elle malu pada diri sendiri. Kekecewaannya terlalu berlebihan dan telalu kekanak-kanakan. Ia melontarkan saja semua pada Sasi. Kini Elle mengerti kenapa Elard tak pernah memandangnya sebagai sesuatu yang berbeda. Karena Elle sama saja seperti perempuan di luar sana. Terobsesi pada Elard.
Sedangkan Sasi, ia terus melangkah menuju ke arah taman belakang. Dirinya hanya menggunakan pakaian tidur, sedangkan udara malam kota Bandung begitu dingin. Pun begitu, Sasi sudah tak merasakan apa pun.
Hatinya pedih, dirinya sudah terlalu lelah. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal penghinaan, dan ia terpaksa menelan semuanya dalam diam. Air mata terus mengalir deras, napasnya mulai tersengal karena beban yang dirasakan.
Sasi tak peduli melangkah ke mana, taman itu cukup luas. Jalan setapak buatan, sengaja dibuat bercabang-cabang, seperti labirin. Ada berbagai macam jenis pohon dan bunga-bunga. Lampu-lampu taman yang mewah mewah, menyala lembut di beberapa spot, menghapus kesan seram dari taman itu.
Bugh....
Langkah Sasi terhenti dan ia mengaduh pelan. Sasi menabrak sesuatu. Sembari masih mengelus keningnya yang sakit, Sasi mendongak agar bisa melihat jelas, apa yang sudah ditabraknya.
Sasi mengerjapkan mata, agar bisa melihat lebih jelas. Betapa terkejutnya Sasi, karena yang ditabraknya bukanlah sesuatu melainkan seseorang. Tubuhnya menggigil seketika, matanya melotot dan kulitnya semakin pucat.
***