5. Sekamar berdua

1069 Kata
POV Hilga Aku sedikit tenang ketika mendapat kabar bahwa kunci kostanku ada dimobil pak wisnu, sekarang aku sedang menunggu pak wisnu di depan pintu kamar kostku. Beberapa menit kemudian ada mobil berhenti di depan gerbang, tak salah lagi itu pasti pak wisnu, batinku. Aku mendekati mobil tersebut, ketika pak wisnu keluar dari mobil aku sangat kaget karena di kepalanya terdapat banyak darah. "Mas wisnu!" ucapku panik "iya" ucapnya lemas bahkan tubuhnya bergetar "Ini darah?" ucapku sambil memegang kepalanya pak wisnu meraba keningnya dan melihat darah yang ada di kepalanya dan terjatuh pingsan. Aku tambah panik dan berteriak minta tolong. "tolong.. ada yang pingsan" teriakku Satu persatu tetangga kostanku keluar dari kamarnya masing masing dan menolongku menggotong pak wisnu ke kamarku. Setelah sampai depan kamar aku menggeledah seluruh sakunya untuk mencari kunciku, ternyata kuncinya ada di saku celana. Kubuka pintu kostku dan meminta tetangga untuk memindahkannya kedalam kamar. tak lupa aku meminta tolong tetangga kostku untuk memindahkan mobilnya dan parkir didepan kamarku agar tidak menghalangi jalan. Kulihat mobil pak wisnu sepertinya ia baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas karena mobilnya terlihat penyok. Aku masuk lagi kedalam dan membersihkan darah di wajahnya, pak wisnu belum juga sadar. Aku merasa bersalah atas kejadian ini, gara gara pak wisnu mengantarkan kunciku yang terjatuh di mobilnya ia jadi mengalami hal sulit ini, mungkin jika kunciku ketinggalan saat ini pak wisnu sudah tidur dirumahnya dengan nyaman. aku menyeka wajah pak wisnu dengan kain hingga tak ada lagi darah dikeningnya. Aku mulai panik, sudah setengah jam pak wisnu belum sadar juga. Aku mengambil ponsel pak wisnu berinisiatif menelpon istrinya untuk memberi kabar bahwa pak wisnu mengalami kecelakaan. Aku melihat kontak di ponsel pak wisnu, dan mencari kontak istrinya. Aku mulai mengetik di pencarian kontak, aku mengetik istri tapi tidak ada kontak yang bernama istri, kuketik lagi sayang, tapi tidak ada juga, wife juga tidak ada. akhirnya aku mencari di riwayat panggilan, terakhir pak wisnu terhubung dengan kontak bernama Dini. firasatku ini adalah istrinya. Akhirnya aku menelpon kontak yang bernama Dini itu. tuut.. tuuut.. ternyata langsung diangkat "apa sih mas? aku gak pulang, aku nginep di rumah wiwin" ucap seseorang di panggilan telpon ini, belum sempat aku bicara, kontak yang bernama dini itu mematikan sambungan teleponnya. Kini aku paham kenapa pak wisnu belum bisa mencintai istrinya, dari penilaianku di telepon tadi istrinya memang sangat angkuh. Aku menelpon kembali kontak yang bernama dini itu, namun nomornya malah tidak aktif. Disaat yang bersamaan pak wisnu pun siuman. "Hilga" ucapnya lirih "mas wisnu, udah sadar, Alhamdulillah" ucapku Aku mengambil Air putih untuk pak wisnu. "ini mas, diminum dulu" ucapku pak wisnu pun duduk dan meneguk air yang ku pegang "kita kedokter yuk mas, saya anter, tapi saya ga bisa nyetir" ucapku "Ga usah Hilga, kalau kamu ga bisa nyetir, telpon dokter saja biar dokternya nanti kemari" ucap pak wisnu pak wisnu menelpon dokter pribadinya dan mengirimkan lokasinya saat ini menggunakan aplikasi hijau. "mas kenapa bisa sampe kaya gini" tanyaku memulai obrolan "Tadi pas saya lagi nyetir ada yang nyalip dari kiri, akhirnya saya banting stir ke kanan dan nabrak pohon, memang salah saya juga tadi saya ngebut" ucapnya menjelaskan "kenapa ngebut sih mas, tadi kan pas ngantrin saya mas wisnu nyetirnya pelan" tanyaku "iya, saya khawatir kamu nungguin, ini kan udah malam, saya takut kamu kedinginan, terus jalanannya juga sepi jadi enak kalau ngebut" ucapnya "mas, aku gak kedinginan kan nunggunya di dalem, di kamar sebelah" ucapku "ciaa, sekarang manggilnya aku kamu niih" ucapnya sambil tersenyum menggodaku "emang tadi bilang aku?" tanyaku tersipu "iya, tadi kamu bilang aku gak kedinginan, gitu, haha" ucapnya sambil tertawa dan terus menggodaku Aku hanya menunduk malu Tiba tiba pak wisnu memelukku, Aku hanya diam tak menampis tak juga membalas. "makasih yah hilga, kamu udah nolong saya" ucapnya tulus "jangan bilang makasih mas, justru mas ngalamin ini gara gara aku" ucapku "bukan salah kamu hilga" ucapnya sambil mengelus dan menepuk punggungku "maaf ya mas gara gara aku mas jadi kecelakaan, mungkin kalau kunciku gak jatuh mas udah lagi tidur di kasur yang empuk, aku jadi ngerasa bersalah" ucapku lirih dan akhirnya membalas pelukannya "bukan salah kamu Hilga, saya kan udah bilang bukan salah kamu, saya yang salah bawa mobil ngebut ngebut" ucapnya ketika kami masih dalam posisi berpelukan ponsel mas wisnu berdering Triiing.. Triiing.. Triing.. Aku dan mas wisnu sama sama kaget dan melepaskan pelukan masing masing, ternyata yang menelpon adalah dokter pribadi mas wisnu. "Hallo dok" ucap mas wisnu "Halo pak wisnu, ini kayaknya saya udah nyampe, yang gerbang ungu bukan ya?" tanya pak dokter memastikan "betul pak yang ungu, masuk aja pak, kosannya pintu ke 3 dari arah kanan" ucap mas wisnu Aku pun berdiri dan menyambut dokter pribadi mas wisnu "Selamat malam" ucap pak dokter "malam dok, silahkan masuk" ucapku mempersilahkan dokter itu untuk masuk "Malam pak wisnu" sapa dokter kepada mas wisnu "iya dok malam" ucap mas wisnu "Saya periksa dulu ya pak keadaannya" Setelah diperiksa ternyata kepala mas wisnu ada yang sobek untungnya sobekannya kecil, dokter segera menjahit kepala mas wisnu 2 jahitan dan memberikannya infus agar tidak lemas, kemudian memberikan 5 macam obat dan menjelaskannya padaku kapan obatnya diminum kemudian dokter berdiri untuk berpamitan "Saya sarankan besok pak wisnu pergi ke rumah sakit untuk dicek secara menyeluruh barangkali ada luka yang lain agar bisa segera ditangani" ucap pak dokter memberi saran "baik dok, saya besok akan kerumah sakit" ucap mas wisnu Dokterpun pergi dan kini hanya tinggal kami berdua di kamar ini. Sebenarnya aku sangat canggung ada pria di dalam kamarku, tapi masa mau ku usir, selain dia adalah dosenku, dia begini juga karena mengantarkan kunciku yang ketinggalan. "Biar mas tidur dilantai" ucapnya tiba tiba seperti bisa membaca pikiranku "jangan mas, udah tidur di kasur aja, saya nginep di kamar sebelah kok nanti" ucapku kemudian aku membantunya meminum obat, setelah meminum obat mas wisnu tertidur. Aku segera keluar dan mengetuk kamar leni tok tok tok tok "Len" Ucapku sedikit keras memanggil leni "leni" ucapku lagi Sudah berulang kali mengetuknya dan memanggilnya namun pintu tak kunjung dibuka, sepertinya leni sudah tidur mengingat ini sudah jam 2 malam. Kuputuskan untuk membangunkannya lewat HP, ku telpon Leni berulang kali namun dia tak bangun juga. "Dasar kebluk" umpatku Aku kembali ke dalam kamarku, mengunci pintu, mengambil bantal di kasur dan tidur dilantai. Aku tahu mas wisnu pria baik, tapi aku baru saja mendapat pernyataan bahwa dia menyukaiku, bisa saja dia khilaf dan berbuat yang tidak tidak. Kutampik semua pikiranku dan akhirnya aku tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN