4. kecelakaan

800 Kata
POV Wisnu Saat dipecel lele aku sangat kesal melihat hilga yang berdekatan dengan teman laki lakinya, mengobrolpun berbisik bisik. tapi aku senang karena aku akan mengantar hilga pulang, aku bersyukur malam ini instingku membawa mobil memang tepat. aku segera menghabiskan makanan dengan lahap, saat melihat daffa pergi hatiku semakin senang. Aku mulai mengemudi dan terus bertanya arah jalan agar setidaknya menambah perbincangan kami. padahal aku sudah tau Hilga kost dikomplek Taman Kusuma namun tepatnya dimana aku mana aku memang belum tahu. Aku terkejut saat hilga bertanya tentang istriku, padahal aku mengaku belum menikah padanya, kuharap dia tidak berpikiran aku adalah p****************g. Aku menjelaskan semuanya secara jujur agar tidak ada kesalahpahaman. termasuk kalau aku belum pernah jatuh cinta sampai usiaku saat ini 35 tahun dan aku baru mencintai seorang wanita. "jujur saya belum pernah jatuh cinta, kecuali kali ini, diusia saya yang sudah 35 tahun" ucapku "Dan parahnya dia mahasiswaku sendiri" lanjutku Hilga tercengang kaget tapi hanya diam, ia mungkin penasaran tapi tak berani bertanya. "dan wanita itu adalah.... ini belok kemana?" ucapku menggantungkan perkataanku "kiri mas" jawabnya Aku membelokkan mobilku ke kiri dan tidak meneruskan ucapanku, aku tau hilga penasaran terlihat dari raut wajahnya, ia sangat lucu. ia terus melirikku mungkin menantikan lanjutan dari perkataanku. "mas, tadi mau ngomong apa?" tanyanya "yang mana?" tanyaku pura pura tak mengerti "yang tadi itu loh, wanitanya adalah.. . itu siapa mas?" tanyanya lagi, sangat terlihat kalau hilga sangat penasaran "mas itu di depan berhenti di gerbang yang cat ungu" lanjutnya aku pun menghentikan mobilku tepat didepan gerbang yang menutup, mungkin karena sudah malam. aku hendak melanjutkan ucapanku tadi, aku takut hilga tidak bisa tidur karena penasaran. "makasih ya mas udah mau anterin, maaf saya ngerepotin" ucapnya sambil membuka pintu. aku memberinya payung agar tidak basah. hilga keluar dari mobil dan menutup kembali pintunya, "hati hati yaa" ucapnya aku membuka kaca mobil dan memanggilnya "hilga" ucapku memanggilnya "iya mas" jawabnya sambil mendekat ke kaca yang terbuka "itu nama wanitanya" ucapku Hilga bengong, ia diam saja sambil menatapku. "yaudah saya pulang yaa" ucapku, ia hanya mengangguk Aku melajukan mobilku, kulihat dari kaca spion hilga masih bengong ditempat. hingga aku memutuskan untuk berhenti dan menelponnya. "halo" terdengar suara hilga menyapaku sambil menengok kearah mobilku "cepat masuk, dingin, nanti basah loh kalau lama lama disitu" ucapku "iya mas, saya masuk" jawabnya sembari melangkah masuk membuka gerbang yang tak di kunci kusimpan kembali ponselku dan melajukan mobilku pulang. sesampainya dirumah masih sepi, tidak ada siapa siapa. Dini belum pulang, atau memang tidak pulang. Aku memutuskan untuk berbaring di ranjangku dan melihat aplikasi ungu. aku melihat postingan foto di akun Hilga. Semua fotonya cantik cantik, tidak ada yang jelek. ada satu foto bersama daffa mereka terlihat sangat dekat, benar saja mereka pacaran, batinku. Aku semakin merasa kecil. jikapun hilga tak punya pacar dan aku tak punya istri kemungkinan besar ia tidak mau denganku karena umur kami terpaut jauh. aku umur 35tahun dia umur 18tahun beda 17tahun hampir 2 kali lipat umurnya. Kenapa banyak sekali rintangannya, batinku menggerutu. POV Hilga Saat aku sedang menutup pintu gerbang, tetangga kostku memanggilku. "Hilll" teriaknya Aku menoleh dan berjalan kearah kamarnya ternyata ia minta di instalkan Aplikasi dan minta di daftarkan juga, maklum temanku ini agak gaptek. "dari mana hil, aku dari tadi nungguin" tanyanya "iya habis makan, tapi hujan jadi nunggu reda, ini aja belum reda, untung ada yang mau nganterin" ucapku "ooh ini mau minta di instalin aplikasi, sama di daftarin, kamu udah ngantuk belum?" tanyanya "belum kok, sini aku bantu"jawabku setelah beberapa menit akhirnya selesai. aku pamit masuk dan ia berterimakasih Saat ini aku sedang berusaha membuka pintu kamar kostku, tapi kuncinya tak kutemukan didalam tasku. Aku memutuskan untuk menelpon pak wisnu mungkin saja kunciku jatuh didalam mobilnya. tut.. tut.. tak lama aku mendengar suara pak wisnu "Hallo Hilga, ada apa?" tanyanya "Hallo pak, eh mas.. maaf ganggu, kunciku hilang, gak bisamasuk boleh tolong cek dimobil mas ngga?" tanyaku "ooh iya saya cari dulu yaa. tunggu sebentar" jawabnya sepertinya pak wisnu sedang melangkah menuju mobilnya, lima menit aku menunggu telepon masih tersambung. "Hilga, kuncinya ketemu" ucap pak wisnu "beneran mas? Alhamdulillah" ucapku senang "iya, saya antar ke kostan kamu ya" ucapnya POV Wisnu Akupun langsung menuju kamar mengambil dompetku dan ganti baju agar terlihat rapih dan segera menuju garasi lagi. Aku segera melajukan mobilku dengan kecepatan yang cukup tinggi, aku takut hilga menunggu lama aku tak tega kepadanya, diluar dingin aku takut khawatir hilga kedinginan. ditengah perjalanan tiba tiba ada motor menyalip dari arah kanan mengagetkanku, aku membanting stir dan menabrak pohon. untungnya aku tidak pingsan, hanya ada rasa nyeri di bahu dan kepalaku. aku melanjutkan perjalanan dengan tubuh gemetar, kostan hilga kurang lebih 2km lagi. sepuluh menit kemudian aku sampai dan segera keluar dari mobil. Hilga mendekatiku ia terlihat kaget sembari berlari panik kearahku dan berteriak "mas wisnu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN