3. Di antar

1135 Kata
POV Hilga malam ini aku sedang menanti kedatangan pacarku Daffa, hampir setiap malam aku dan daffa bertemu untuk sekedar mengobrol ataupun berkeliling naik motor mengelilingi kota. Sudah satu jam aku menunggu namun daffa taka kunjung datang, padahal kita janjian jam 8. Aku kesal dan terus memperhatikan jam di ponselku. sekarang sudah jam 9 hampir jam 10. Saat sedang melihat jam diponsel ada bunyi notifikasi permintaan mengikuti dari seseorang yang tak asing, Wisnutama88 requested to follow you saat aku akan menekan confirm tiba tiba aku mendengar suara motor berhenti tepat didepan pintu kostku. Tidak salah lagi itu pasti daffa, batinku Akupun menyimpan kembali ponselku kedalam tas dan keluar untuk mengecek. benar saja itu adalah daffa. "kok lama sih?" tanyaku "maaf yank tadi nyari kunci gak ketemu ketemu, jangan marah ya" jawabnya "yaudah yuk langsung aja, udah malem nih" balasku daffa pun mengangguk, aku segera menutup pintu kamar kostku dan menguncinya. setelah itu aku naik kemotor daffa. Kami berboncengan keluar dari gerbang kost. "kita langsung makan aja yuk, udah laper" ucapku "hayuk" jawab daffa setuju kami berkeliling mencari tempat makan yang aku lagi pengen makan, akhirnya pilihanku jatuh kepada angkringan pecel lele. kami turun dari motor dan langsung memesan makanan. Aku dan daffa mengobrol sembari menunggu makanan yang kami pesan siap. tiba tiba terdengar suara seorang laki laki memanggilku. "hilga?" panggilnya akupun menoleh dan terkejut, ternyata yang memanggilku barusan adalah pak wisnu, dosen pembimbingku. "pak wisnu?" ucapku pak wisnu menggeser tempat duduknya mendekatiku, ia melihat aku sedang bersama daffa. Aku tak enak pacaran di depan dosen rasanya tidak sopan jika aku tetap berdekatan dengan daffa, akhirnya aku menyuruh daffa untuk menggeser tempat duduknya menjauhiku. untungnya daffa menurut. tiba tiba pak wisnu bertanya "pacarmu?" aku bingung mau jawab apa, tak enak jika berterus terang mengenalkan pacar didepan dosen. "Ini temanku pak" jawabku supaya tidak terjadi masalah "oh" jawabnya singkat entah perasaanku saja atau bukan, sejak melihat daffa sikap pak wisnu jadi aneh. ada gelagat tak suka melihat kami, padahal waktu pertama menyapaku wajahnya tersenyum ramah. "siapa sih?" tanya daffa berbisik "dosenku pembimbingku" jawabku berbisik juga "kayaknya dia ga suka sama aku" ucapnya "nggak tau, mungkin dia gak suka mahasiswanya pacaran" jawabku menerka nerka "emangnya dia jomblo" tanya daffa "kalo aku denger sih katanya dia udah punya istri, tapi aku denger dia dulunya gak pernah pacaran. mungkin iya dia gak suka lihat orang pacaran" jawabku dengan suara sangat pelan takut pak wisnu dengar "ooh, dosenmu aneh" ucap daffa "hussstt" ucapku mengakhiri obrolan Aku memang sudah tahu pak wisnu punya istri, teman sekelasku yang menceritakan nya, pak wisnu cukup populer sehingga berita apapun mengenai pak wisnu cepat menyebar, termasuk fakta bahwa pak wisnu tidak pernah pacaran dan menikah karena perjodohan. saat itu pak wisnu pernah bilang padaku bahwa ia belum punya istri, aku berfikir positif saja mungkin pak wisnu tidak ingin menceritakan rumah tangganya. ada terbesit pikiran bahwa pak wisnu mungkin menyukaiku namun tidak mungkin, aku tahu pak wisnu lelaki baik Tak lama pesanan kami datang, aku dan daffa segera memakan makanan kami masing masing, tak lupa aku menawari pak wisnu walau hanya sekedar berbasa basi. saat kami sedang makan terdengar suara petir yang kencang. "jeddeerr!" dan hujan lebatpun turun. Aku melirik kearah jalan dan melihat pesanan pak wisnu sudah ada didepannya namun tak kunjung dimakan. "pak, kok belum dimakan?" tanyaku sambil tersenyum "iya" jawabnya kemudian pak wisnu mulai memasukan makanannya kedalam mulut, sangat terlihat ia sedang tak berselera, mungkin sedang banyak pikiran, pikirku. Kami sudah selesai makan tapi hujan belum juga reda, bahkan semakin deras. kulirik pak wisnu lagi, makanan nya masih banyak, belum setengahnya ia makan. "gimana? mau kita terjang aja hujannya" tanya daffa "gak ah, kita tunggu aja yaa, baju aku tipis aku malu kalo sampe nanti kelihatan lekuk tubuhku" jawabku "yaudah" ucap daffa pasrah namun terlihat kesal karena memang sudah lama kami menunggu hujan reda namun malah semakin deras. "Hilga, mau saya antar?" Aku kaget mendengar ucapan dosenku yang mungkin hanya sekedar basa basi "ngga usah pak, saya tunggu hujan reda aja" jawabku sambil tersenyum supaya terlihat tetap sopan walaupun menolak "ini sudah jam 11 lebih kalau sampai tengah malam belum reda gimana? lebih baik saya antar, besok kan ada kuliah pagi" ucapnya mengingatkanku aku berpikir sejenak "temanmu boleh ikut kalau mau" lanjutnya lagi sambil melihat kearah daffa. daffa yang semula sedang memainkan ponselnya kini menoleh "ngga pak, saya ga ikut, nanti kalau ikut motor saya siapa yang bawa hehe" ucapnya "yasudah. hilga, bagaimana?" tanya pak wisnu "yaudah pak saya ikut, bapak habiskan saja dulu makannya, saya tunggu" ucapku pak wisnu langsung melanjutkan makannya dengan lahap padahal tadi tidak berselera, mungkin tak enak jika aku menunggu terlalu lama. Daffa berbisik kepadaku "yank, aku duluan yaa, takut tambah deras, terus ini udah malem banget takut ada begal juga" ucapnya Aku mengangguk "kamu hati hati yaa" ucapku Daffa segera berlari dan meniki motornya sedangkan aku masih menunggu pak wisnu menghabiskan makanannya. tidak membutuhkan waktu lama makanannya habis, pak wisnu segera membayar dan mengajakku menuju mobilnya. ia membukakan pintu untukku dan segera berlari dan masuk di kursi kemudi. "Maaf ya nunggu saya makan lama" ucapnya "iya pak gapapa" jawabku "kok pak?" ucapnya Aku berpikir cukup lama, akhirnya aku mengerti "oh iya mas" ucapku sambil tertawa "nah gitu dong, saya jadi merasa tua kalo dipanggil pak, terus kita kemana ini?" tanyanya "oh iya, belok kanan" ucapku sambil tetawa karena lupa pak wisnu kan tidak tau dimana kostan ku Di sepanjang jalan kami mengobrol sambil aku menunjukan jalan kearah kostku. ternyata pak wisnu cukup humoris, aku selalu tertawa dibuatnya. "oh iya hilga, tadi saya follow kamu, udah diterima belum? " tanyanya "iya mas, tadi mau confirm keburu daffa dateng terus kita cari makan, yaudah aku confirm sekarang ya" ucapku sambil mengambil ponsel dan membuka aplikasi ungu "kamu deket banget ya sama temanmu daffa? sampai makan malam aja musti bareng?" tanyanya "iya mas kami cukup dekat, soalnya aku gak bisa makan sendiri, jadi kalau makan harus ada yang temani kalau makan sendiri aneh nasinya jadi ngga habis" jawabku "kamu bisa ajak saya kalau mau makan, saya juga bosan makan sendiri terus" ucapku "loh memangnya istri mas wisnu kemana? tanyaku penasaran pak wisnu terlihat gugup, "kamu tahu dari mana saya sudah punya istri?" tanya pak wisnu "dari teman sekelas mas" ucapku jujur pak wisnu menghela nafas " istri saya jarang banget masak, dia lebih sering kumpul sama temannya, bahkan sering gak pulang." jawab pak wisnu "kamu jangan seperti saya yah, menikah karena perjodohan terpaksa menerima untuk menyenangkan orang tua, pada setahun pernikahan akhirnya orang tua meninggal dan saya harus tetap menjalani pernikahan ini, belum mengenal, belum tahu sifatnya, bahkan tanpa dasar cinta" Jujur aku kaget mendengar penuturan pak wisnu ada rasa kasihan terhadap pak wisnu. "jujur saya belum pernah jatuh cinta, kecuali kali ini, diusia saya yang sudah 35 tahun" ucapnya lagi Aku kaget, baru kali ini Pak wisnu jatuh cinta, sama siapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN