Mika memindai penampilannya dari atas sampai bawah, lalu menatap jalan setapak yang tanahnya basah dan berlumpur akibat diguyur hujan deras, hingga terdapat genangan air disepanjang jalan. Jalan itu dikelilingi tebing tinggi dengan pepohonan yang rimbun dan jurang yang curam tapi menyajikan persawahan yang membentang luas di bawahnya. Benar-benar menakutkan sekaligus menakjubkan disaat bersamaan.
Tidak sia-sia perjuangan Nesya dalam membujuk Papi hingga mereka diijinkan pergi kondangan sekaligus liburan. Rasanya Mika benar-benar dimanjakan akan kekayaan alam yang masih alami dan juga udaranya yang masih asri, hitung-hitung membersihkan paru-paru Mika yang sepertinya dipenuhi oleh asap kendaraan dan polusi. Kakak ipar Mika itu memang bisa diandalkan jika dalam hal begini dan untungnya merupakan sahabatnya sendiri, jadi bisa Mika perintah sesuka hati. Pokoknya setelah pulang dari sini, Mika harus berterima kasih. Jika perlu, Mika akan membujuk Abangnya itu untuk memberikan uang belanja tambahan pada Nesya.
Tidak tahu saja Mika, bahwa di tempat lain Nesya sedang mengumpatinya dan Dira yang enak bisa pergi liburan. Sedangkan dirinya harus terkurung di dalam kamar dan tidak bisa berjalan selama dua hari karena harus melayani suaminya sebagai imbalan atas izin yang Papi berikan.
“Punya temen nggak ada akhlak semua! Mereka yang enak gue yang susah,” gerutu Nesya.
Adam yang melihat istrinya menggerutu itu langsung terkekeh dan memeluk istrinya dengan sayang, “Nggak boleh menggerutu. Pahala lo, nyenengin suami.”
Mau tak mau Nesya mengeratkan pelukan pada suaminya dengan merajuk. Dalam hati Nesya tetap mendo’akan keselamatan kedua sahabatnya yang kini pasti sudah sampai di kampung halaman Dira.
Andira meringis dalam hati ketika melihat penampilan Mika yang sangat tidak cocok untuk bepergian ke sebuah kampung di pelosok. Gadis cantik itu memakai dress selutut tanpa lengan dan sepatu hak setinggi 10 cm. Ia lupa memberitahukan Mika bagaimana keadaan kampung halamannya, sangat pelosok. Dari jalan raya beraspal, lalu jalan yang masih bisa ditempuh memakai mobil walaupun jalan itu penuh dengan bebatuan, setelahnya mereka turun di perempatan jalan dan menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Mika mendelik, "Lo kok nggak bilang kalau jalannya berlumpur?"
"Gue kagak tau kalau lagi musim hujan, lupa nanya juga sama nyokap gue," ringis Andira.
“Yah, tetep aja. Jadinya gue salah kostum.”
Dalam hati ia merapal do’a agar Mika tidak meminta pulang ke Kota, walaupun ia juga sebenarnya ingin kembali ke Kota. Lama diperantauan membuat Dira melupakan suasana di perkampungan yang begitu asri, tenang, jauh dari hiruk pikuk metropolitan. Yang Dira ingat hanyalah betapa susahnya hidup di Kampung, terutama Kampung Dira yang pelosok dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.
"Woy! Dira!" Dira tersentak dari lamunannya saat mendengar teriakan Mika.
Dira terperangah dengan mata terbelalak saat melihat Mika yang sudah berjalan jauh di depannya. Bukan itu yang membuat Dira syok, melainkan sosok Mika yang berjalan dikubangan lumpur dengan bertelanjang kaki. Hell! Ini Mika loh, si anak konglomerat yang kemana-mana diantar supir karena bapaknya yang super possesif. Jangan lupakan juga penampilan Mika yang selalu memakai barang branded.
"Buruan Dira!" tukas Mika kesal.
Wanita berparas cantik itu bersungut-sungut saat melihat Dira yang masih terbengong macam sapi ompong. Tak tahukah Dira bahwa koper yang saat ini berada di gendongannya itu sangat berat, sedangkan Dira enak hanya membawa ransel. Selain itu, Mika juga sudah merasakan gatal-gatal pada kakinya. Ia hanya merapal dalam hati, semoga saja tidak menemukan binatang-bintang yang menggelikan seperti cacing atau lintah. Jika semacam buaya, sepertinya Mika tidak takut. Karena ia sudah biasa hidup dikelilingi buaya darat.
Mika lalu mengalihkan pandangannya ke arah bawah, lebih tepatnya kaki putih mulusnya yang sudah kotor berbalut lumpur. Mika lantas tertawa saat pikiran masa kecilnya melintas. Oh, jadi gini rasanya bermain lumpur! Batinnya berseru senang saat cita-cita masa kecilnya akhirnya terwujud. Entah bagaimana definisi masa kecil bahagia, yang jelas masa kecil Mika tidak seperti kebanyakan anak. Ingat! Mika itu anak konglomerat yang masa kecilnya seperti terkurung dalam sangkar emas.
"Iyah sabar napa sih!" seru Dira kesal seraya melangkahkan kakinya mencari bagian jalan yang sedikit lebih baik meskipun berakhir sia-sia.
"Sial! Sepatu kesayangan gue!" geram Dira.
“Hahaha.”
Mika langsung tertawa kencang saat melihat kaki Dira yang masuk ke dalam kubangan air yang dalamnya mencapai tumit, hingga kaki sahabatnya itu langsung terendam beserta dengan sepatu kesayangannya.
TIN
TIN
Suara klakson motor terdengar memekik dari arah belakang tubuh Mika. Belum sempat Mika menghindar, motor itu sudah terlebih dahulu menyenggolnya—
Brugh
Byurr
Dan dengan naasnya Mika terhempas ke dalam kubangan lumpur, beserta bonus cipratan air kecoklatan yang menghiasi seluruh tubuhnya. Definisi mandi lumpur yang menjadi kenyataan.
"Papi!"
"Hahah ... rasain!" Kali ini Dira yang tertawa hingga terbahak-bahak. Memang dasar teman durhaka! Bahagia di atas penderitaan sahabatnya.
Mika langsung mengalihkan pandangannya ke arah pelaku utama yang membuat ia bermandikan lumpur, terlihat seorang pria yang Mika perkirakan usianya sama dengan Abangnya. Pria berparas lumayan tampan yang dengan angkuhnya masih duduk di atas motor, hanya menatapnya datar tanpa minat dan tidak ada niat menolongnya sama sekali.
Oke, garis bawahi! Seorang Mika yang daftar antrian prianya selalu panjang dengan jajaran pria-pria tampan dan juga kaya, kini hanya dilirik tanpa minat oleh pria yang tampannya masih di bawah standar jajaran para mantannya. Meskipun begitu, pria angkuh, songong, sengak dihadapannya ini termasuk pria yang good looking. Terlihat dari rahang tegas, mata sehitam malamnya yang tajam namun terhalang kaca mata berframe hitam, jangan lupakan juga tubuhnya yang tegap dibalik pakaian dinas yang dipakainya. Selain itu, pria ini memiliki aura yang kharismatik dan berwibawa, yang sulit untuk ditolak kaum Hawa.
"Mas, kalau bawa motor pake mata dong! Liat saya jadi kotor gini," omel Mika.
Pria itu mendengus malas, namun tak urung ia pun turun dari motornya dan menghampiri Mika. Menatap Mika dengan sorot mata jijik, tanpa berniat membantu wanita itu berdiri. Ia tidak merasa bersalah sama sekali sudah membuat wanita itu terjatuh ke dalam kubangan lumpur, karena salah wanita itu sendiri yang berdiri di tengah jalan yang otomatis menghalangi laju kendaraannya.
"Mbak, tadi saya sudah membunyikan klakson motor. Mungkin Mbak yang tidak mendengar," ujar pria itu dengan suara berat, sedikit serak tapi dengan intonasi datar.
Mika mulai geram, "Heh! Mas mau bilang kalau saya ini b***k?"
"Syukur kalau Mbak sadar," tukasnya seraya menggedikkan bahu acuh.
Mika benar-benar kesal dibuatnya, bisa-bisanya ia disalahkan. Harusnya pria di depannya ini meminta maaf, namun justru pria ini tidak memiliki rasa bersalah sama sekali. Pria itu benar-benar menyebalkan!
"Mas, harusnya anda minta maaf sama saya! Heran kenapa pria seperti—“
"Maaf." Singkat jelas padat namun nyelekit. Itulah yang keluar dari mulut pria dihadapan Mika yang dengan tidak sopannya memotong perkataannya.
Pria itu lantas berbalik melangkahkan kakinya kembali ke arah motornya, meninggalkan Mika yang wajahnya sudah kesal setengah mati dengan tubuh yang masih berada di kubangan lumpur.
"Woy, Mas! Lo punya sopan santun nggak sih?"
Pria itu langsung menatap Mika dengan tajam, tapi jangan panggil Mika jika tidak membalas tatapan pria itu dengan tak kalah tajam. Tidak ada dalam kamusnya seorang Mikaela Ratu Anjani kalah dalam perdebatan kecuali berdebat dengan Papinya.
"Mau anda apa? Saya kan sudah minta maaf!"
"Heh! Minta maaf aja nggak cukup, harusnya lo bantu gue dulu! Jangan asal pergi gitu aja." Pria itu lantas menghampiri Mika dengan geram.
Mika menyeringai setelah pria itu berdiri dihadapannya dengan mengulurkan tangan ke arahnya. Dari dekat, Mika dapat melihat name tag yang menempel pada pakaian dinas pria itu—Mahendra Prabu Angga—begitulah yang tertulis di sana. See! Namanya saja penuh dengan kekuasan, pantas saja pria itu sangat angkuh. Tak bisa dipungkiri Mika juga heran sekaligus takjub menemukan orang yang memiliki nama Prabu di zaman yang sudah modern ini.
Jemari Mika langsung mengambil uluran tangan pria di hadapannya dengan kuat. Lalu—
Brugh
Byurr
Seringai kemenangan tercetak dari bibir ranum Mika, sesaat setelah membanting tubuh pria itu yang langsung jatuh ke dalam kubangan lumpur dan bernasib sama dengannya. Akhirnya ia bisa mempraktekkan pelajaran karate yang Andira ajarkan sekaligus memberikan pelajaran pada si Prabu itu.
Mika menatap pria itu dengan pongah, "Gimana rasanya jatuh ke lumpur? Enak?" ujarnya yang langsung mendapatkan tatapan tajam pria itu.
Mika dilawan! Tentu saja tidak akan ia biarkan lawan itu menang, jika perlu akan ia buat kalah dengan telak.
"Ayo, Ra," ucap Mika pada Andira yang sedari tadi terperangah dan tidak sanggup berkata-kata.
"Awas saja! Urusan kita belum selesai!"
Mika menghentikan langkahnya dan menengok ke arah pria angkuh yang nampak mengenaskan itu. Sayang sekali, wajah tampannya itu harus tertutup lumpur. Wanita itu mengangkat jari tengahnya, lalu mengibaskan rambutnya centil.
"Mik ...," panggil Dira pelan.
"Hm?" Mika mengernyit saat melihat Andira yang sedari tadi terdiam kini bersuara dengan lirih.
"Mika, laki-laki tadi itu Kades."
Oh—Mika hanya ber-oh ria dalam hati, sebelum menyadari sesuatu.
Hah! Apa?!
Mika langsung menatap Andira dengan horor, sedangkan yang ditatap hanya meringis.
"Laki-laki itu Kepala Desa di sini."
"Kepala Desa?!"
Mati!
Sepertinya Mika akan langsung ditendang keluar dan tidak dibiarkan masuk kampung Dira karena sudah menganiaya Kepala Desanya. Apakah hal tersebut termasuk penganiayaan? Apakah ia akan dilaporkan polisi dan masuk penjara? Oh no! Membayangkannya saja membuat Mika bergidik ngeri. Sangat disayangkan jika wajah cantiknya itu wara-wiri di acara gosip atau berita kriminal.
“Ra, hukuman apa yang akan dikasih buat orang yang udah aniaya Kades?”Mika harap-harap cemas menatap Dira yang tengah berpikir.
“Hukum gantung,” singkat Dira.
Mika langsung membelalakkan matanya dan menatap Dira dengan horror. Wanita itu langsung memegang lehernya ketika membayangkan hukuman gantung. Oke, jika disuruh memilih Mika pasti lebih memilih dipenjara meskipun nanti setelah keluar akan menyandang mantan NAPI daripada hukum gantung dan menyandang gelar Almarhumah.
“Astaga! Dira gue beneran bakal mati?”
Dira menganggukkan kepalanya dan membuat tubuh Mika rasanya semakin lemas memikirkan kematiannya yang sebentar lagi. sepertinya Mika harus mempersiapkan surat wasiat kepada jodohnya di masa depan agar tidak menangisi kematiannya dan pernikahan mereka yang tidak akan pernah terlaksana.
“Lo bakal mati. Kalau malaikat maut udah cabut nyawa lo,” ucap Dira diakhiri dengan tawa.
“Sial! Dira lo ngerjain gue?!”
“Hahaha.”
“Dasar temen laknat!”