Chapter 4. Mati Jilid II

2119 Kata
Mahendra Prabu Angga, atau yang kerap disapa Mahen. Pria 34 tahun yang menjabat sebagai Kepala Desa menggantikan sang ayah. Ayah Mahen merupakan mantan Kepala Desa yang sudah bertahun-tahun menjabat dan berhenti saat sudah pensiun, lalu meninggal sekitar satu tahun yang lalu. Karena semua masyarakat desa sudah begitu mempercayakan jabatan tersebut yang selama ini diemban Ayah Mahen, akhirnya mereka memilih Mahen untuk melanjutkan kursi kepemimpinan alih-alih melakukan pemilihan kepala desa. Mahen, pria yang sudah berumur matang dengan pekerjaan yang sudah mapan jika dibandingkan pria lain di kampung itu. Pria berkaca mata dengan paras tampan, berwibawa, tegas juga pemimpin yang baik merupakan paket lengkap yang menjadikan Mahen incaran ibu-ibu kampung untuk dijadikan calon menantu, juga para gadis Desa yang menginginkan ia sebagai calon pasangan hidup. Di usianya yang sudah seharusnya membangun rumah tangga Mahen justru masih asik melajang. Pria itu tampak tidak memiliki kedekatan apalagi menjalin hubungan dengan seorang wanita. Kisah cintanya sangat tertutup, entah ia termasuk orang yang pilih-pilih atau sebenarnya Mahen belok alias tidak suka wanita. Bukankah hanya ada dua kemungkinan ketika seorang pria tampan dan mapan, namun masih sendiri. Pertama, pria itu player. Kedua, pria itu belok alias gay. Tenang. Itu kalimat terakhir hanya persepsi Mika setelah mendengar siapa sosok Mahen sebenarnya terlepas dari ia seorang Kades. Ternyata Mahen ini adalah salah satu sepupu Andira dari pihak ibunya, yang seketika membuat Mika bergumam dalam hati. Pantas saja Mahen itu angkuh, cuek bebek, datar, wong masih satu keluarga dengan Andira yang mana sahabat Mika ini juga karakternya begitu. Mereka berdua itu sebelas dua belas, sama-sama menyebalkan. Mika menatap rumah di hadapannya dengan berbinar. Rumah itu sederhana bercat putih, hanya berlantai satu dan tidak begitu besar. Akan tetapi, halaman depan rumah tergolong halaman yang paling luas dibandingkan rumah-rumah yang lain. Di sana terdapat beberapa pohon mangga yang kebetulan sedang berbuah, rumput yang dipangkas rapi--yang Mika tidak tahu namanya--menyerupai pagar, dan yang paling Mika suka adalah banyaknya tanaman bunga yang berwarna-warni cantik seperti bunga matahari, bunga mawar, anggrek, lily, daisy serta bunga yang tidak ia ketahui namanya. Oh iyah! semakin Mika menginjakkan kakinya di halaman rumah, ia juga melihat banyak tanaman cabai dan kawan-kawannya. Secara keseluruhan Mika menyukai rumah itu yang dari luar terlihat sejuk, namun semakin ke dalam terasa hangat akan kekeluargaan. Mika merasa seperti berada di rumahnya dulu, saat sang Mami masih ada. "Mika, buruan! Ngapain lo bengong?" Mika mencebikkan bibirnya, "Iyah, dasar bawel!" Seraya mengangkat kopernya, Mika menghampiri Andira yang berdiri di depan pintu bahkan sudah mengetuknya. "Astagfirullah! Neng, kamu teh kenapa kotor begini? Apalagi temen kamu, badannya lumpur semua." Mika hanya meringis pelan saat wanita paruh baya berhijab navy keluar dari pintu, lalu berseru dengan wajah terkejut melihat tubuhnya bermandikan lumpur. Bahkan sepanjang perjalanan pun ia harus menahan malu saat berpapasan dengan warga kampung. Bukan itu saja, Mika hanya takut dikira orang gila nyasar. Meskipun Mika yakin bahwa tidak ada orang gila yang secantik dirinya. Lantas Mika mencium tangan wanita itu setelah didahului oleh Dira seraya memperkenalkan diri. "Jatuh, Ateu." Wanita yang dipanggil Dira dengan Ateu itu, menatap Mika dengan prihatin dan mengajaknya masuk untuk membersihkan diri. Oh iyah. Panggilan Ateu diberikan kepada adik perempuan dari orang tua, sedangkan untuk adik laki-laki dari orang tua dipanggil Mamang. Dan wanita yang dipanggil Ateu oleh Dira ini adalah adik dari ibunya Dira. Sebenarnya Mika dibuat pusing oleh silsilah keluarga Dira terlebih lagi banyaknya perbedaan panggilan. Namun, wanita tersebut mempermudah Mika agar memanggilnya dengan sebutan Bunda. "Ayo masuk, Mika. Nanti Bunda siapin handuk sama airnya dulu yah." "Ya ampun Bunda ngerepotin, Mika jadi nggak enak." Dira mendengus mendengar ucapan Mika, biasanya juga suka membuat repot. "Bunda nggak repot sama sekali. Jadi, nggak usah sungkan, anggap saja rumah Bunda ini rumah Mika juga." "Makasih, Bunda." Lantas wanita paruh baya itu melenggang pergi. "Wkwk ... Teh Dira kenapa main lumpur? Udah kayak kucing kejebur comberan." Kali ini seorang gadis SMA datang menghampiri mereka dengan terkikik pelan. "Sembarangan! Yang kayak kucing got itu Mika, bukan Teteh," ujar Dira yang mendapat pelototan dari Mika. *Teteh = panggilan untuk kakak perempuan. "Oalah ini teh, beneran Teh Mika yang sering Teteh ceritain?" tanyanya dengan wajah berbinar. Mika langsung menatap Dira tajam, "Lo ceritain apa tentang gue?" bisik Mika. Tentu saja Mika khawatir jika Dira menceritakan aib atau kebobrokannya itu pada saudaranya yang masih remaja. Bisa berabe jika saudara Dira yang otaknya masih polos dan putih itu ternoda oleh otak mereka yang sudah hitam sehitam arang. "Tenang, gue cerita yang baik-baik. Nggak ceritain aib lo kok," balas Dira dengan berbisik. "Awas aja lo!" Dira hanya memutar bola mata. Gadis di depan mereka terlihat bingung, "Teteh lagi pada ngomongin apa? Kenapa bisik-bisik?" Mika dan Dira menatap gadis itu seraya tersenyum lebar. "Teh Mika hayu bersih-bersihnya di kamar aku aja." Gadis itu lantas menarik lengan Mika beserta kopernya, meninggalkan Dira yang mendengus kesal. "Uti, lo emang adek durhaka! Teteh lu malah di tinggal," ujar Dira sarkas, namun mengikuti kedua perempuan itu. "Kalau Teteh, Uti udah bosen," Ejek gadis itu yang membuat Dira mencebikkan bibir, namun Mika terkekeh. "Loh, Neng. Teteh-tetehnya mau kamu bawa kemana?" tanya Bunda saat berpapasan dengan gadis itu yang langkahnya diikuti Mika juga Dira, lebih tepatnya menyeret Mika. Bunda terlihat membawa dua buah handuk dan peralatan mandi. "Teh Mika sama Teh Dira bersih-bersihnya di kamar Uti aja, Bunda." Bunda lantas mengangguk dan memberikan handuk beserta peralatan mandi. Kanaya Putri Mawriska, yang biasa disapa Uti. Gadis cantik berlesung pipit, anak Bunda yang paling bungsu. Mika tidak mengetahui berapa banyak anak yang Bunda miliki, karena sedari tadi ia hanya melihat Uti. Mika sudah menduga, Dira membawanya ke rumah Bunda bukan rumahnya pasti alasannya karena di rumah Dira pasti sedang ramai mempersiapkan pernikahan, sedangkan ia dan Dira seperti anak-anak yang habis bermain lumpur. Jadilah Dira berinisiatif mengajak Mika ke rumah Bunda. Ngomong-ngomong tentang Uti, Mika sudah sangat akrab dengannya walaupun baru beberapa jam bertemu. Ternyata Uti memiliki hobi mendesain baju, lalu Dira mengenalkan hasil rancangan Mika pada gadis itu, hingga gadis itu sangat mengidolakan sosok Mika. Selain itu, mereka sama-sama hobi nonton drama Korea. Bukankah itu hal yang menyenangkan? Karena ia bisa berbagi cerita tentang betapa tampan dan mempesonanya Lee Min Ho ketika menjadi seorang raja atau menggemaskannya Hyun Bin dengan lesung pipitnya yang membuat ia gagal move on saat menjadi Kapten Ri. Tentu saja hal-hal seperti itu tidak bisa ia ceritakan bersama Dira yang anti-Drakor atau Nesya yang sudah pensiun dalam pendrakoran. "Aku kemarin ngulang nonton drakor Moon Lovers, Teh. Padahal banyak drakor baru, tapi aku selalu pengen nonton itu terus," ucap Uti dengan menggebu-gebu. "Teteh juga sama. Tapi tetap aja Teteh nangis, apalagi di bagian yang Wang So salah paham dan Hae Soo nikahnya sama Wang Jung. Greget banget sumpah!" Kali ini Mika yang bersuara dengan semangat. "Iyah bener banget, Teh. Tapi aku sebel sama endingnya. Sad banget, bikin nyesek sampe sekarang, padahal udah hampir mau 5 tahun. Sampe sekarang masih ngarep season duanya." "Tapi itu nggak mungkin terjadi. Pemainnya aja udah jadi aktor dan aktris top, bisa-bisa produsernya bangkrut." "Berisik kalian berdua!" tukas Dira kesal saat suara Mika dan Uti mengganggu kegiatannya menonton acara di televisi. "Nggak asik!" seru Mika dan Uti kompak seraya mencebikkan bibirnya kesal menatap Dira. "Coba aja Teh Mika jadi teteh aku beneran, pasti asik banget," ujar Uti seraya bergelayut manja kepada Mika yang dibalas usapan sayang di kepalanya. Maklum, sebagai anak bungsu Mika sangat dimanja tapi juga kesepian saat Abang atau Papinya yang tidak bisa ia ajak bercerita seputar wanita. Ingin memiliki adik, namun minta kepada siapa? Maminya saja sudah tidak ada, dan Papinya yang tidak ia izinkan untuk menikah lagi. Mika hanya tidak ingin jika kehidupannya menjadi seperti sinetron atau Cinderella yang disiksa ibu tirinya. Bukannya Mika takut, hanya saja Mika tidak ingin jika ia yang nantinya menyiksa ibu tirinya. "Adek durhaka!" dengus Dira. Padahal baru beberapa jam, tapi Mika dan Uti sudah sangat lengket. Benar-benar hal yang menyebalkan menurut Dira, karena Mika dan Uti itu satu tipe, sama-sama berisik dan lebay. Hal yang masih mengherankan bagi Dira adalah ketika Mika yang katanya sibuk, tapi masih sempat nonton drama dari negeri ginseng itu. Tak heran jika hidup Mika penuh dengan drama. "Loh ini kenapa ribut-ribut?" tanya Bunda yang baru saja datang dari dapur dengan membawa cemilan dan es buah segar. "Mereka berisik, Ateu!" Bunda terkikik, sudah hafal bagaimana tabiat Andira yang mirip sekali dengan anak pertamanya. "Ihh, Teteh dulu!" "Uti dulu Teh! Teteh yang tua harusnya ngalah" "Heh! Mana ada mengalah dalam makanan." Mika dan Bunda sama-sama menggelengkan kepalanya melihat Andira dan Uti yang berebut mengambil es buah dan juga cemilan. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah. "Mika nggak mau ambil es buahnya?" tanya Bunda mendekati Mika dan duduk di sampingnya. Mika nampak sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk karena tidak ada hairdryer di rumah Bunda. Lantas Mika menggeleng, "Nggak, Bun. Tar Mika rebutan sama dua bocah." “Bunda juga heran, mereka berdua itu sama makanan pasti rebutan kayak anak kecil.” Bunda mengambil alih, handuk di tangan Mika dan mengeringkan rambut wanita cantik itu dengan telaten dan penuh perhatian. Seketika Mika menjadi mellow. Selama ini Mika hanya dimanja dan diperhatikan oleh Papi, tak pernah sekalipun ia merasakan perhatian dan kasih sayang seorang Ibu. Karena Mami Mika sudah meninggal saat umur Mika masih dua tahun, di ingatannya perhatian dan kasih sayang Mami terasa begitu samar bahkan Mika menganggap itu seolah mimpi. Itu sebabnya, Mika selalu merasa kesepian dan sedih jika berada di mansion papinya. "Bunda terima kasih," ujar Mika serak seraya memeluk Bunda yang nampak terkejut. "Loh, Mika kenapa?" "Mika cuma berharap supaya bisa punya Mami kayak Bunda." Bunda hanya terdiam lalu mengelus kepala Mika dengan sayang. Bunda tak bertanya lebih lanjut karena ia yakin ada saatnya Mika akan bercerita. Entah mengapa meskipun baru beberapa jam mengenal Mika, bunda sudah menyayangi Mika dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri. "Bun, tau nggak? Mika kesel banget tadi." Kali ini Mika menceritakan kejadian yang beberapa saat lalu telah ia alami. Kejadian yang membuat badannya penuh lumpur dan ia harus mencuci rambutnya sebanyak 3 kali, belum lagi menggosok tubuhnya yang gatal-gatal. Tidak lucu jika baru beberapa jam saja di kampung halaman Dira ia sudah berubah menjadi buruk rupa. "Jangan-jangan yang bikin Teteh mandi lumpur yah?" tanya Uti yang dibalas dengan anggukan kepala penuh semangat oleh Mika. "Iyah, Uti. Teteh tadi kecebur lumpur gara-gara cowok songong yang senggol Teteh pake motor." "Loh, terus dia tolongin Mika apa nggak?" Kali ini Bunda yang bertanya. Mika mendengus dan lantas menatap Dira yang sedari tadi menyimak tanpa membuka suara, justru sahabatnya itu asik memakan cemilan dan meminum es buah. Mika benar-benar curiga ketika Dira yang biasa membelanya dan membalas orang yang menyakitinya denga lebih kejam, kini malah cuek bebek. Bisa saja karena pria itu seorang Kades, jadi Dira takut atau karena pria itu salah satu sepupu Dira. Kalau sudah begini, ia tidak bisa mengharapkan Dira untuk membantu membalas Kades songong itu. "Boro-boro nolongin, Bun. Dia cuma liatin Mika dari atas motornya. Songong, nyebelin pokoknya!" "Ganteng nggak Teh cowoknya?" celetuk Uti. Mika langsung membayangkan pria berkaca mata itu. Jujur ia memang tampan, tapi tingkat keangkuhan nya membuat nilainya minus dimata Mika. Bukan hanya tampan, ia memiliki kharisma juga wibawa yang sangat kuat dan sulit untuk ditolak. "Ganteng sih, tapi songong nyebelin! Kata Dira, dia itu Kepala Desa di sini," ucap Mika dengan menggebu-gebu. Uti dan Bunda saling menatap dengan penuh arti, lalu menatap Mika dengan pandangan tertarik. Entah, yang jelas Mika merasa ada sesuatu di antara mereka. "Beneran Pak Kades, Teh?" "Iyah, Uti. Yang jelas Teteh udah bales tingkah songongnya." "Beneran Teteh bales?" tanya Uti tidak percaya. Ini Pak Kades loh, orang nomor satu di Desa mereka. Mika benar-benar harus diacungi jempol. "Iyah, aku dorong juga tuh Kades ke lumpur. Jadi impas deh, sama-sama mandi lumpur." "Hahah... Teteh hebat." Uti tertawa seraya mengangkat kedua jempolnya. "Mika nggak takut sama pak Kades?" Kali ini Bunda kembali bersuara. "Nggak lah, Bun. Buat apa takut, meskipun raut mukanya galak tapi dia sama-sama manusia. Yang membedakan aku makan nasi sedangkan dia makan batu, soalnya angkuh dan songong." "Kamu ini ada-ada aja," kekeh Bunda. "Assalamu 'alaikum, Bunda." Sebuah suara lelaki terdengar dari arah depan. Lantas Bunda beranjak menuju ke arah pintu. Mika menatap Uti dengan bertanya, "Siapa?" "Aa aku Teh." *Aa/Akang/kang = Panggilan untuk kakak laki-laki atau umumnya dipakai untuk panggilan pada pria. Mika mengangguk paham, ternyata anak Bunda yang pertama adalah seorang laki-laki dan sepertinya baru pulang. Tak lama, Bunda pun kembali dengan sosok laki-laki di belakangnya yang nampak familiar di kepala Mika. Mika membelalakan matanya saat sosok pria berkaca mata dengan tubuh yang dipenuhi lumpur menatapnya dengan tajam. "LO!" Mati! Benar-benar mati jilid II Mika hanya berharap, semoga ia tidak langsung ditendang keluar dari desa ini karena sudah menganiaya seorang Kepala Desa. Yeah, meskipun Mika yakin bahwa itu tidak terkategori sebagai penganiayaan tapi pembalasan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN