Aris langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Arya, rasa takut akan kemungkinan buruk memenuhi relung hatinya. Aris menjadi gugup, ia ikut berdiri di sebelah Arya dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.
Aris takut kejadian yang menimpa Alika serta kematian orangtua mereka mengganggu mental Alika. Alaska membuka pintu perlahan, melihat kedua saudaranya beri di samping ranjang Alika rasa takut menyerang hari Alaska. Alaska buru-buru masuk menjatuhkan buah segar yang dibawanya.
"Ada apa? Apa yang terjadi pada Alika?" tanya Alaska khawatir, Alaska meletakkan buah yang dipegangnya secara sembarangan menutup pintu cepat agar tidak ada yang mengetahui kejadian di dalam ruangan.
"Kak! Ayah dan Ibu ingin berbicara dengan kalian." Meski matanya ditutup telinga Alika masih dapat mendengar perkataan orangtuanya yang telah meninggal dunia.
Arya bingung, dia melihat pada kedua saudaranya yang lain.
"Apa yang ingin dibicarakan Ibu pada kita, Alika?" tanya Alaska.
Meski takut Alaska tahu kalau Alika tidak pernah berbohong, mereka sejak kecil dididik untuk berbicara jujur meski kejujuran membutuhkan biaya mahal.
"Ibu bilang kalian jangan bekerja terlalu larut malam, Ibu juga mengatakan agar kakak semua menjaga pola makan serta istirahat. Jangan lupa olahraga meski dalam sesibuk apapun, Ibu mengatakan kalau dia mencintai kakak semua." Alika mengatakan apa yang dibisikkan Rere ke telinganya.
"Ayah juga mengatakan untuk menjalankan perusahaan dengan baik, pandai-pandai dalam memilih pasangan. Jangan asal memilih! Ayah juga mengatakan jangan menyakiti perempuan sebab kalian ...." Alika terdiam, dia dengan paksa melepas tangan Arya yang menutupi matanya melihat ke belakang Arya di mana pasangan Renald dan Rere sedang berdiri menatap sedih pada mereka.
"Bu ... Yah!" panggil Alika lembut diiringi air mata kesedihan. "Kakak akan menjaga diriku dengan baik, Kakak pasti akan mempertimbangkan diriku sebagai adik mereka. Aku janji! Jika mereka berbuat nakal maka aku akan menarik telinga mereka dan tidak akan berbicara dengan mereka sepatah katapun."
Alika mengangkat tangannya tinggi dengan tiga jari terlipat, ini adalah kebiasaan Alika jika berjanji. Sesulit apapun keadaannya Alika akan menepati janjinya, Alika meneteskan air mata.
Saat melihat cahaya putih membawa orangtuanya pergi disitu Alika sadar kalau dia saat ini tidak hanya bisa merasakan keberadaan makhluk halus saja, tapi dia juga bisa melihat serta mendengar apa yang dikatakan makhluk tidak kasat mata di sekitarnya. Setelah cahaya putih itu menghilang, Alika menemukan keberadaan seorang gadis cantik dengan wajah pucat serta rambut ekor kuda persis sama seperti Angelika yang ia temukan di dalam mimpi tadi.
"Aku sudah mencegahmu pergi karena hal tadi serta untuk penglihatan yang kau dapatkan. Takdir memang tidak bisa dihindari tampaknya, sebagai penjaga aku hanya bisa berdiri di samping dirimu mulai saat ini." Angelika berbicara dengan ekspresi datar miliknya.
"Kehidupan yang kau jalani tidak akan setenang sebelumnya. Kau harus bersiap mulai sekarang, tidak semua hantu itu baik. Ah, percuma aku menjelaskan ini padamu sekarang, lebih baik waktu saja yang memberimu jawaban." Angelika melambaikan tangan lalu menghilang dari sana.
Ke-tiga kakak Alika memilih diam, mereka tidak tahu harus berkata apa untuk membujuk Alika. Alika di sisi lain masih mencoba mencerna arti dari ucapan Angelika, pusing akan semua itu Alika memilih berbaring melupakan sejenak masalah yang menimpa dirinya.
Esok siangnya Alika diperbolehkan pulang oleh dokter, tujuan Alika hari ini adalah ke makam orangtua mereka. Alika diantar ketiga kakaknya ke sana dengan satu mobil.
Alika di belakang bersama Aris, Arya dan Alaska di depan dengan Arya yang mengemudi mobil. Sepanjang jalan menuju ke makam tidak ada suara yang terdengar, Alika dengan pandangan ke jalan di mana dirinya melihat berbagai macam makhluk halus bergentayangan dengan rupa aneh.
Ada yang tidak berkepala, ada yang sedang mencari sesuatu seperti dia buta. Alika awalnya takut melihat semua itu namun kemudian dia mulai terbiasa, Alika tidak lagi mempedulikan makhluk itu.
Mereka sampai di makam pukul empat sore, keadaan makam tampak sepi karena tidak ada lagi pengunjung yang datang. Alika dituntun oleh Aris menuju makam orangtuanya yang berada di tengah-tengah. Untuk sampai ke sana mereka melewati jalan setapak yang ada di makam itu dan harus berhati-hati agar tidak menginjak makam lain.
Sesampai di makam orangtuanya Alika langsung terduduk lesu, air mata yang sejak tadi coba ia tahan akhirnya jatuh tanpa henti. Alika merasa dunianya hancur, inikah alasan orangtuanya begitu mesra sejak sore kemarin? Lama Alika menangis untuk menenangkan hati, hingga dia menjadi tenang.
"Ayah! Ibu! Kalian yang tenang ya di sana, Alika janji bakal baik-baik aja di sini, Alika sangat menyayangi kalian berdua, Alika janji kalau Alika akan menjadi anak yang patuh." Alika menyentuh batu nisan ke-dua orangtuanya.
Aris, Arya, dan Alaska tidak tahu harus mengatakan apa untuk membujuk Alika. Mereka tahu kalau Alika sangat dekat dengan kedua orangtuanya, mereka juga tahu apapun yang Alika inginkan selalu dipenuhi oleh mereka.
"Cengeng," bisik lembut penuh dengan nada ejekan itu melewati Alika begitu saja.
Di belakangnya, Alika melihat hantu anak kecil sedang memeluk sebuah boneka berdarah berdiri dengan bibir mengulum ejekan. Anak itu tampak baru berumur sembilan tahun, ada luka besar di keningnya, bajunya sobek-sobek, serta tangannya yang memegang boneka tampak koyak karena ada beberapa daging yang terburai.
Alika tidak memedulikan gadis kecil itu, Alika membersihkan rumput yang baru tumbuh di sekitar makam, setelah tampak bersih dan tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Alika menabur bunga yang ia bawa, Aris memegang bahu Alika ketika Alika akan berdiri.
"Kita pulang yuk, Dek! Kamu baru ke luar dari rumah sakit loh, kamu butuh istirahat, jangan keluyuran kayak gini, enggak baik buat kesehatan kamu." Aris memegang tangan Alika erat.
Alika mengangguk, dia membiarkan Aris dan Alaska menuntun dirinya ke mobil. Mereka duduk masih seperti tadi, Alika sekali lagi melihat pada jalan yang masih menampilkan makhluk halus yang sedang mencari-cari sesuatu. Makhluk halus itu tampak tidak rela meninggalkan dunia ini dengan cara yang salah, Alika memperhatikan rupa yang hancur itu.
'Apakah wajah ayah dan ibu seperti mereka? Aku tidak sempat melihat ayah dan ibu, bagaimana keadaan mereka ketika meninggal kemarin? Apakah mereka masih saling memeluk seperti biasa? Apakah menjelang kematiannya ayah berusaha menenangkan ibu agar tidak ketakutan?' Pertanyaan demi pertanyaan melintas di benak Alika.
Di pemakaman, gadis kecil itu ingin mengikuti Alika, gadis itu merasa Alika dapat melihat serta mendengar apa yang ia bicarakan. Saat gadis kecil itu akan terbang, Angelika menarik tangan anak i yang terluka itu hingga putus menjadi dua, boneka yang dipegang anak itu jatuh bersama sisa tangannya yang bergerak-gerak di tanah.
"Siapa kau? Kenapa kau menghalangiku mengejar gadis itu? Kalau kau mau kau bisa mengejarnya juga meminta bantuan mengungkapkan siapa pembunuhmu," teriak anak itu marah sembari memungut tangannya yang putus.
Tangan itu kembali disambungkan hingga menjadi utuh lagi, anak itu menatap Angelika dengan penuh kebencian. Saat ini dia tidak seperti anak kecil lagi tapi lebih menyerupai hantu pendendam yang telah mati selama puluhan bahkan ribuan tahun.
"Jangan mengganggunya kalau kau tidak ingin menghilang begitu saja! Aku akan menghalangi dirimu untuk mendekatinya, kalau kau tidak percaya kau bisa mencobanya." Angelika dengan manis duduk di atas pohon Kamboja tinggi yang ada di makam.
Kakinya berayun-ayun dengan lincah seolah sedang mengejek gadis kecil yang marah itu.
"Kau!" tunjuk hantu kecil itu dengan kebencian yang semakin meningkat, hantu lain yang entah muncul darimana tidak ada yang berani mendekat.
Bau kemenyan serta bunga tujuh rupa semakin menyengat di pemakaman itu saat beberapa hantu mulai ikut bermunculan di sekitar sana. Angelika menatap hantu kecil yang sedang menghentakkan kaki itu, lambaian tangannya yang ringan dan santai seolah tidak mengeluarkan energi itu menerbangkan hantu kecil yang meresahkan orang-orang yang datang ke makam.
"Berani sekali kau!" teriak hantu kecil yang langsung berubah bentuk.
Kali ini bukan lagi rupa anak kecil yang manis melainkan dia berubah menjadi wanita berumur empat puluh enam tahun dengan kuku hitam memanjang, giginya tampak tajam seperti penyihir hitam yang suka mencuri anak kecil untuk dijadikan tumbal.
Angelika terbang turun dari pohon bunga kamboja besar itu, dia dengan santai mengayunkan tangan terus membuat hantu wanita itu terbang menjauh dari makam orangtua Alika. "Kenapa? Hantu tua seperti dirimu sangat suka menyerupai anak kecil, lihat bibirmu yang monyong itu! Lihat kukumu yang tidak pernah dipotong dan dicuci itu! Betapa joroknya dirimu," hina Angelika dengan senyum dingin.
Hantu-hantu di sekitar mundur menjauh, mereka tidak berani mendekat sebab hantu tua itu memiliki kekuatan yang kuat hingga mampu menaklukkan mereka.
"Apa kau bilang? Aku hantu, kenapa aku harus melakukan perawatan, toh tidak ada ajang kecantikan di dunia makhluk halus ini, yang ada hanya siapa yang paling lama hidup dan paling ditakuti saja." Wanita itu seperti tidak peduli dengan kata-kata yang Angelika lemparkan padanya.
Angelika tersenyum, sekali lagi dia melambaikan tangan namun kali ini kekuatan yang dikeluarkan Angelika tampak berbeda. Seolah ada ruang yang terbuka di belakangnya, hantu wanita itu tersedot ke dalam ruang hampa itu hingga hanya menyisakan kesunyian di pemakaman itu.
"Untuk kalian yang lain, jangan pernah berharap dapat mengganggu gadis tadi, jika kalian mengganggunya maka jiwa kalian yang akan menjadi taruhannya. Kalian akan mengalami nasib seperti hantu wanita tadi, aku tidak akan main-main dengan apa yang aku ucapkan." Angelika berbalik, dia menatap hantu-hantu yang ada di sekitar makam.
Setelah memberikan peringatan, Angelika menghilang di udara tipis, dia muncul di atas mobil yang Alika tumpangi menuju pulang ke rumahnya. Alika yang merasakan kehadiran Angelika di sekitarnya merasa sedikit tenang.
"Kau kembali! Aku sangat ketakutan melihat wajah-wajah hancur yang ada di sepanjang jalan," bisik Alika lembut namun Alika tahu kalau Angelika mampu mendengar suaranya.
Angelika yang duduk santai di atas mobil mengerutkan kening mendengar perkataan Alika, dia melihat ke arah jalanan di mana para hantu sedang melakukan kegiatan biasa mereka. Ada yang ingin menarik pengendara agar jatuh, ada yang mengganggu pejalan kaki dan ada juga yang sekedar berbaur dengan hilir mudik keramaian seolah mereka masih hidup.
"Biarkan saja! Selama mereka tidak mengganggu, itu bukan masalah besar, bukankah aku sudah melarangmu untuk pergi? Tapi kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan, jalan yang kau lalui dengan ayahmu memiliki misteri tersendiri." Angelika enggan untuk menjelaskan lebih lanjut tentang tempat itu.
Alika semakin mengerutkan kening, dia tahu kalau Alika telah menghalanginya untuk pergi berulang kali tapi dia tetap tidak mau mendengarkan penuturan Angelika. "Apakah mereka suka mengganggu manusia?" Alika menangkap satu pertanyaan lagi dari jawaban yang dilayangkan Angelika.
"Hem, mereka yang meninggal di jalanan kerap mencari teman. Mereka tidak rela mengalami kematian yang mendadak seperti itu mungkin, itu sebabnya mereka kadang mencari korban lain agar memiliki nasib yang sama dengan mereka." Angelika tidak tahu harus mengatakan apa.
Dia menatap hantu-hantu yang bergentayangan di jalan, saat ada hantu yang ingin mendekati mobil Alika maka dia akan menggerakkan tangan mengusir hantu itu menjauh.
"Kau butuh waktu untuk terbiasa menghadapi ini semua, terkadang hantu-hantu ini tidak jahat, mereka hanya ingin meminta tolong akan sesuatu padamu. Jangan takut! Mereka tidak akan bisa menyentuh dirimu selagi aku masih ada di sekitarmu," janji Angelika dengan penuh keyakinan.