7

1551 Kata
Kehilangan seseorang yang kita cintai selamanya lebih menyakitkan daripada ditinggalkan untuk pergi bersama orang lain. Jika dia pergi bersama orang lain masih ada kesempatan bagi kita untuk bertemu. Namun, jika ia pergi selamanya maka kita hanya bisa melihat nisan bertuliskan namanya. Si tua mengalihkan pandangan, sungguh dia tidak kuat menerima berita buruk ini. Rasanya seperti ada palu besar yang memukul hati menyebabkan remuk tanpa ada obat yang dapat ditemukan. "Kak Arya! Kalau kau sedih, tidak kuat menghadapi semua ini bicaralah! Jangan memendamnya sendirian, Alika butuh kita untuk menguatkan dirinya, jika kau rapuh bagaimana dengan Alika yang lebih dekat dengan orangtua kita." Si adik menepuk bahu Arya, ia berbalik hendak meninggalkan Arya agar bisa menemani Alika. "Aku banyak dosa pada mereka, Aris! Aku selalu sibuk dengan pekerjaanku hingga melupakan jalan pulang." Arya akhirnya meluapkan kesedihan yang semenjak tadi ia tahan. Sudah berapa lama ia tidak pulang ke rumah menyibukkan diri dengan pekerjaan, ia selalu susah dihubungi terlalu menenggelamkan diri pada pekerjaan yang ia geluti. Aris tidak berbalik, ia terus berjalan ke luar membiarkan Arya menenangkan diri sekaligus menjaga Alika yang masih belum sadarkan diri. Setidaknya harus ada satu orang yang menemani Alika ketika ia bangun nanti, Aris menuju ke ruang jenazah dengan langkah gontai. Semakin dekat jarak yang ditempuh Aris semakin berat beban di hatinya. Aris membuka pintu kamar jenazah pelan, tenaganya seperti terkuras habis tidak bersisa untuk mendorong pintu hingga terbuka saja rasanya membutuhkan semua kekuatan yang ia miliki. Di dalam kamar jenazah ada anggota keluarga lain, Alaska tengah berdiri di antara dua jenazah yang berada di ujung sebelah kanan saat ini. Aris menghampiri Alaska, menyentuh bahu kakaknya itu sebagai tanda menunjukkan kehadirannya di dalam ruangan. "Kak, Alika masih belum bangun. Dia tidak mengalami luka serius hanya luka ringan dan syok saja." Aris menjelaskan keadaan Alika tanpa diminta oleh Alaska karena Aris tahu Alaska juga mencemaskan Alika. "Syukurlah! Setidaknya Ayah dan Ibu masih memiliki sedikit hati nurani untuk kita, mereka masih membiarkan kita untuk merawat Alika." Alaska menjawab ucapan Aris. Meski terdengar santai tapi Aris tahu ada beban berat di dalam hati Alaska, mereka bertiga memang jarang pulang tapi Alaska sering berbagi kabar dengan orangtua mereka. Alaska menyempatkan diri untuk menghubungi ayah dan ibunya di sela kesibukan kerjanya, terkadang ia akan mengatur waktu untuk pulang ke rumah meski sehari. "Ya, mereka meninggalkan kita satu-satunya orang yang bisa mengingatkan kita apa yang disebut rumah. Tapi beban menjaga adik perempuan sangat berat, kita tidak bisa membiarkan dia di rumah sendirian. Kita akan tinggal bersamanya mulai sekarang," tekad Alaska terlihat bulat, tangannya terkepal. Alaskan meninggalka ruang jenazah membiarkan Aris mengurus semua yang dibutuhkan untuk keperluan administrasi serta pemakaman yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Alika tampak tenang, keadaan Alika cukup aneh dan diselimuti misteri. Di saat kecelakaan tragis itu terjadi, di mana memakan korban dan hanya ke-duanya yang selamat ada cerita misteri yang disebutkan penduduk sekitar. Di sana memang sering terjadi kecelakaan, setiap kecelakaan selalu ada korban meninggal dunia dan jarang menyisakan korban selamat. Kecelakaan hari ini adalah sesuatu yang termasuk luar biasa sebab polisi mengumumkan dua orang selamat di antara 17 korban yang terlibat kecelakaan. Biasanya hanya satu yang selamat dan itu pun mengalami keadaan yang jauh dari kata layak untuk hidup. Alika sedang berada di suatu tempat, di sekelilingnya ada kabut putih hingga dia tidak bisa melihat jauh ke depan. Alika mencoba berjalan ke depan namun kadang seperti ada sesuatu yang menghalangi kakinya melangkah, Alika ingin menyerah, tapi ada sesuatu di depan yang terasa memanggil dirinya. "Kenapa kau duduk di sana Alika? Ayo, kemari! Apa kau tidak ingin melihat duniamu yang indah lagi?" tanya suara itu dengan suara keras memekakkan telinga. Alika mencoba mencari asal suara, perasaannya mengatakan kalau suara itu berasal dari belakang dirinya. "Angelika! Apa itu kau? Apa kau di sana? Bantu aku, Lika! Aku takut di sini sendirian," bisik Alika lemah, ia memeluk dirinya sendiri. Alika mencoba untuk maju lagi, kali ini dengan tekad lebih bulat dan lebih berani hingga kakinya yang serasa terikat langsung bisa diangkat. "Aku tidak bisa membantu dirimu di sana, kalau kau ingin bebas maka gunakan kemampuanmu sendiri. Jangan bergantung pada orang lain karena tidak selamanya mereka mau membantu." Angelika membalas. Kali ini suaranya lebih terdengar jelas di telinga Alika membuat Alika semakin bersemangat untuk maju ke depan melewati kabut. Alika merasa dirinya begitu ringan, kabut putih perlahan menghilang berganti dengan pemandangan kecelakaan yang ia lalui tadi siang. Di sisinya, berdiri Angelika dengan gaun biru laut lembut serta rambut diikat kuncir kuda. Tidak ada yang bisa membedakan dia masih hidup atau meninggal dunia selain dari warna kulitnya yang pucat. "Ini alasanku menghalangimu pergi! Tiga ketukan yang aku lakukan adalah pengingat kematian yang akan terjadi, satu untuk sakit, dua untuk musibah." Angelika menjelaskan tiga ketukan yang ia lakukan di kamar Alika malam itu. Angelika menatap tempat kejadian di mana ada beberapa arwah dalam bentuk mengenaskan terbang ke sana ke mari. Ada yang kepalanya terbelah dua, ada yang memegang kepalanya dan ada yang memilih beberapa bagian tubuh yang berserakan di jalan. Alika menunjuk para arwah itu dengan tangan kanan, "mereka korban kecelakaan di sini? Pasti ada penyebab semua kecelakaan itu terjadi." Alika berjalan menuju lokasi kecelakaan di mana para korban yang tampak menakutkan menatapnya dengan mata merah penuh permusuhan. "Kenapa? Kenapa kalian menyebabkan kecelakaan ini terjadi? Kenapa kalian terus mencari korban baru?" tanya Alika tidak terima. Tetapi para arwah ternyata tidak melihat Alika melainkan mereka menengok dengan tatapan kejam pada apa yang berada di belakang mereka. Alika yang melihat semua itu langsung membalik tubuhnya namun dia tidak melihat apapun selain bayangan hitam yang kabur. Alika ingin mengejar bayangan hitam itu namun sesuatu yang lebih kuat menarik tubuhnya membuat ia menghilang dari tempat kejadian meninggalkan Angelika yang terus menatap kerumunan arwah korban kecelakaan. Tidak lama setelah ditinggalkan Angelika baru menghilang menyisakan kabut putih terang menyilaukan mata. Alika tersadar di ranjang rumah sakit, matanya membuka dan menutup beberapa kali menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam matanya. Kecelakaan pagi tadi kembali masuk ke dalam ingatan Alika, tubuhnya bergetar tanpa sadar dengan tangan mengepal kuat. Alika duduk dari tidurnya dengan terburu-buru membuat rasa pusing menyerang kepalanya, tubuh Alika miring ke samping namun dia mencoba bertahan dengan menopang tubuhnya sendiri. Alika melihat luka yang dialaminya, ia tahu dengan jelas pada saat kecelakaan terjadi Angelika yang telah mencoba menyelamatkan dirinya. Entah bagaimana cara Angelika berkerja namun hal itu cukup efektif terbukti dari luka yang dialaminya. Mendengar pergerakan Alika, Arya yang berada di kamar mandi langsung membuka pintu dengan terburu-buru. Ia menemukan Alika sedang kesusahan menopang tubuhnya. "Kau mau ke mana?" tanya Arya keras membuat Alika mendongak. Air mata Alika langsung berlinang ketika melihat kehadiran kakak tertuanya itu. Alika melonggarkan pegangannya membiarkan Arya mengambil alih tubuhnya yang masih terasa lelah. "Aku selamat, Kak! Aku beruntung," bisik Alika lemah di telinga Arya. Ke-dua tangannya memeluk Arya erat enggan untuk melepaskan Arya meski sekejap. Air mata Alika luruh, isakkan Alika terdengar memenuhi ruangan. Bahkan Aris yang berada di luar ruangan terkejut, Aris masuk dengan kantong makanan di tangannya terlihat jelas kalau dia belum makan apapun sejak tadi pagi setelah mendengar kabar kecelakaan. "Antar aku ke lokasi kecelakaan itu, Kak? Aku ingin tahu kenapa kecelakaan itu bisa terjadi." Alika terisak-isak, air mata yang ia keluarkan membasahi baju putih Arya. Tidak seperti biasa, Arya yang begitu mencintai kebersihan membiarkan adiknya, Alika membasahi baju putihnya yang biasanya tidak ternoda. Arya mengusap rambut Alika tanpa bersuara membiarkan Alika melepas beban di hatinya. Air mata Alika yang jatuh terasa hangat di tubuh Arya, tidak ada candaan ketika mereka bertemu seperti dulu. Aris meletakkan makanan yang dibelinya di atas meja, pakaian hitam yang ia pakai jelas menunjukkan kalau ia baru saja menyelesaikan pemakaman orangtua mereka. "Kak, bagaimana ayah dan ibu? Apa mereka selamat?" tanya Alika dengan kepala menengadah karena postur tubuh Arya yang tinggi bak atlit. Tubuh Arya menegang ketika mendengar pertanyaan Alika, Arya bingung harus mengatakan apa karena takut itu akan melukai hati Alika. Arya melirik Aris yang duduk tidak jauh dari mereka seolah meminta bantuan namun Aris mengangkat bahu lalu melihat ke arah lain sambil membuka giwang bajunya bagian atas. "Ayah dan ibu tidak selamat, Alika! Mereka meninggal di tempat karena mengalami pendarahan hebat. Hanya kau dan sopir truk yang selamat." Arya dengan enggan menjawab. Arya takut Alika akan menjadi syok lagi, ia bersiap mendengar teriakan atau tangisan kesedihan Alika tapi yang ia dapatkan adalah ketenangan Alika, mata Alika melihat ke depan seolah melihat sesuatu yang membuatnya terkejut. "Ayah ... Ibu ...," panggil Alika lemah, sontak panggilan Alika yang tidak menemukan arah itu membuat bulu kuduk Arya beserta Aris berdiri. "Ka, ayah dan ibu sudah meninggal. Kakak sendiri yang mengubur mereka tadi bersama Kak Alaska, kalau kau tidak percaya kau bisa menanyakan itu pada Kak Alaska sendiri." Aris langsung berdiri, dia takut Alika mengalami depresi akibat kecelakaan yang telah dialaminya. Alika mengangkat tangan kanannya, menunjuk pada pintu kamarnya yang terbuka, Aris memang lupa menutup pintu karena ia merasa bahagia saat melihat Alika sadar. Arya melirik ke kaca jendela di mana cahaya jingga mulau terlihat meredup, kegelapan mulai datang menghampiri. Wajar saja jika Alika dapat melihat sosok yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Arya menutup mata Alika dengan tangannya, "Ris tolong tutup jendela sekalian tutup pintu masuk yang terbuka. Maklum saja, Alika baru bangun jadi wajar jika dia mengalami halusinasi." Arya mencoba bersikap positif, dia membantu Alika berbaring menutup tubuh Alika dengan selimut masih dengan tangan memegang mata Alika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN