Setelah lama berpikir, Alika tak kunjung mendapat jawaban hingga akhirnya menyerah. Alika memejamkan mata hingga tertidur dengan lelap.
Hari yang dinantikan Alika akhirnya datang, pagi-pagi sekali Alika sudah bangun berdandan rapi serta memakai baju cantik. Kali ini, Alika tidak memakai warna kesukaannya melainkan memakai baju berwarna biru muda pembelian kakaknya.
Alika tampil begitu cantik, ia turun ke lantai bawah dengan wajah manis seperti biasa. Di lantai bawah telah menunggu kedua orangtuanya dengan pakaian yang sama rapi.
Senyum mereka terlihat begitu tulus di mata Alika membuat hati Alika tiba-tiba merasa sedih. Alika memeluk kedua orangtuanya sebelum makan bersama di meja makan seperti layaknya hari-hari biasa.
"Anak Ayah begitu cantik, tidak rela rasanya ia tumbuh begitu cepat hingga suatu hari nanti harus menikah dengan seorang pria." Renald memuji Alika tulus namun kesedihan di dalam matanya tidak bisa disembunyikan secara baik.
"Turunan siapa dong? Ayah tampan, Ibu cantik tentu saja anaknya harus cantik." Alika tertawa lebar sembari memeluk piring makan agar bisa makan.
"Heh Renald, tampaknya kepercayaan dirimu yang begitu tinggi menurun pada putri kita. Aku iri denganmu, banyak hal yang kau turunkan sedangkan aku hanya menurunkan beberapa hal padanya." Ibu Alika mengeluh dengan cara yang begitu menyedihkan.
Renald tertawa, ia mengambil hidangan di piring menyerahkan beberapa ke milik Alika. "Kau lihat Nak! Ibumu yang sudah Ayah layani dengan baik sekarang cemburu padamu. Rere, berhentilah cemburu, cintaku hanya untukmu tapi sayangku sudah terbagi untuk anak-anak kita." Renald membujuk Rere dengan cara yang begitu manis.
Alika cemberut masam saat melihat kemesraan yang dipancarkan oleh Renald dan Rere di depannya. Alika merasa hari ini kebersamaan mereka terlihat aneh tidak seperti biasanya.
Setelah makan, ke-tiganya menaiki satu mobil secara bersamaan, Renald di kursi pengemudi, Rere di sebelah dan Alika duduk di belakang. Anehnya sejak tadi Alika tidak menemukan keberadaan Angelika.
Setelah menyuruh mengerjai Anita dan kawan-kawan, Angelika memang jarang berada di rumah. Sangat sulit untuk Alika merasakan hawa milik Angelika sekarang, seolah menjauh atau mencoba menjaga jarak dari Alika tanpa sebab yang jelas.
Sepanjang perjalanan menuju villa keluarga tempat rekreasi mereka ada tawa di dalam mobil, kehangatan yang terpancar menyebabkan Alika melupakan perasaan serta bisikan buruk yang selalu datang beberapa hari ini. Alika menikmati perjalanan ini dengan kekonyolan, kelucuan dan tingkah manis pasangan tua di depannya.
Saat mereka hampir mencapai tempat villa mereka di mana melewati jalanan yang diliputi jurang sekeliling, tiba-tiba saja dari arah depan ada truk yang tidak terkendali.
Truk itu berusaha menginjak rem tapi ternyata remnya bolong dan dia berusaha menyuruh mobil di sekitarnya minggir agar tidak terjadi kecelakaan parah yang menyebabkan banyak korban. Kecelakaan tidak bisa dihindari sebanyak apapun manusia mencoba jika takdir sudah menentukan.
Mobil yang ditumpangi Alika, menabrak dua mobil di depan truk yang lebih dulu tertabrak. Bagian depan mobil ringsek parah, ayah dan ibu Alika terjepit badan mobil sedangkan Alika berusaha menggapai ayah dan ibunya di depan dengan tubuh mengalami beberapa luka.
Pengemudi lain yang berada di sana berusaha menolong, ada beberapa yang memanggil ambulance, ada juga yang menghubungi polisi agar TKP dan penyelamatan bisa berjalan lancar. Alika menangis, dia kembali merasakan kehadiran Angelika di sekitarnya seolah mencoba menguatkan Alika.
"Ayah ... Ibu ... bangun! Alika takut," bisik Alika dengan suara keras yang bisa ia buat.
Akan tetapi suara Alika malah terdengar lembut nyaris hilang dibawa angin. Alika melepas sabuk pengaman di tubuhnya berusaha untuk menolong Renald dan Rere yang tidak lagi bergerak.
"Ayah ... Ibu ... ayo ke luar! Kita harus segera ke rumah sakit," ajak Alika dengan air mata yang jatuh tanpa terkendali.
Alika berhasil melepas sabuk pengaman, ia bergerak maju mencoba melepas sabuk pengaman di tubuh Renald tapi usaha yang dilakukan Alika sia-sia karena tubuhnya tidak bisa bergerak mengikuti keinginannya. Alika menangis histeris mengundang orang-orang datang, orang-orang itu mencoba mengeluarkan Alika dari dalam mobil.
Alika mencoba melawan, "tolong bantu orangtuaku terlebih dahulu! Mereka lebih membutuhkan," rintih Alika dengan tangisan pilu menyayat hati.
Saat Alika berjuang lepas, tubuhnya melemah. Alika jatuh pingsan memudahkan orang-orang itu mengeluarkannya dari dalam mobil.
"Bagaimana cara kita menolong mereka, tubuh mereka terjepit kepala mereka berdarah terlihat jelas kalau cedera yang mereka alami sangat berat. Kecil kemungkinan mereka selamat, mereka tidak bergerak sama sekali untuk menunjukkan tanda-tanda bertahan hidup." Orang-orang di sana berbisik satu sama lain sembari mencoba membantu sebisa mungkin.
Ambulance dan polisi datang secara bergantian, satu-persatu korban di evakuasi ke dalam ambulance untuk dibawa ke rumah sakit demi mendapatkan pertolongan pertama. Alika yang paling dahulu diselamatkan sebab ia sudah berada di luar dan masih memperlihatkan tanda-tanda kehidupan.
Renald dan Rere dikeluarkan setelah percobaan penyelamatan yang begitu alot. Tubuh Renald dan Rere terjepit badan mobil dengan pendarahan hebat di kepala serta bagian bawah tubuh.
Tangan mereka saling berpegangan erat, seolah mereka sudah tahu kalau nasib akan memisahkan mereka. Mereka dinyatakan meninggal dunia di tempat sama seperti pengemudi mobil lainnya. Hanya saja mereka cukup beruntung sebab anak mereka masih selamat meski mengalami luka-luka.
Pengemudi di mobil lain semuanya meninggal di tempat, kernet truk juga meninggal di tempat sedangkan sopir truk dinyatakan selamat meski kakinya mengalami luka parah dan harus diamputasi. Semua korban dibawa ke rumah sakit terdekat, mobil yang mengalami kecelakaan juga di evakuasi agar tidak mempengaruhi jalan.
Yang tersisa di lokasi kejadian hanyalah pecahan kaca serta bekas bodi mobil yang berserakan di sana sini. Alika di rumah sakit masih belum sadarkan diri, matanya terpejam damai dengan luka yang telah diobati oleh dokter yang bertugas di lokasi.
Jarum infus menancap di pembuluh darah tangan kanan Alika, sesekali ada rintihan kecil yang terdengar menandakan kalau Alika tidak baik-baik saja saat ini. Alika sesekali akan memanggil ayah dan ibunya seolah tidak rela sesuatu yang buruk terjadi pada mereka berdua.
"Kasihan sekali ya, kedua orangtuanya gadis itu meninggal di tempat. Semua keluarga korban yang terlibat kecelakaan di dua mobil di sana juga meninggal di tempat hanya dia dan sopir truk yang selamat. Aku dengar keadaan di sana sangat mengerikan sekali," bisik pengunjung lain di sana.
Mereka menatap sedih pada pintu rawat inap tempat Alika dirawat, apalagi yang bisa mereka lakukan selain berbicara. Ketika dua mobil di depan kendaraan orangtua mereka ditarik, ada daging di mobil depan yang berhamburan tercecer ke jalanan.
Petugas bahkan tidak berani bertindak sembarangan takut tubuh korban yang hancur hilang berserakan. Bau amis di lokasi juga menyebabkan banyak pengendara lain yang lewat memilih berbalik arah karena tidak tahan.
Suara hentakan kaki yang berlarian terdengar kencang di koridor rumah sakit, dua pria muda terengah-engah mencari sebuah ruangan dengan rambut acak-acakan tidak berbentuk. Si lelaki yang di depan bahkan nyaris terjatuh beberapa kali akibat tidak berhati-hati.
"Permisi, korban kecelakaan di arah villa Bukit Permai dirawat di mana ya, Sus?" tanya lelaki kedua.
Ia berusaha mengatur nafas, memperbaiki rambut dan pakaian yang dikenakannya agar terlihat layak.
"Ruangan 203, Tuan! Jangan menganggu istirahat pasien, berusahalah menunggu pasien tenang sebelum menanyakan hal yang diinginkan." Suster yang bertugas di koridor itu menjawab dengan ramah sembari mengingatkan.
Lelaki itu mengangguk, ia berjalan memeriksa nomor yang tertera di depan ruangan satu-persatu. Kaki keduanya berhenti setelah sampai di kamar 203 tempat Alika dirawat.
"Kau duluan yang masuk! Sebagai adik kau harus mengikuti keinginan Kakakmu." Pria yang bertanya mendorong pria paling depan untuk masuk ke dalam ruangan terlebih dahulu.
"Kau harusnya yang masuk lebih dulu, sebagai kakak tertua adalah tugasmu memastikan kalau adik-adikmu baik-baik saja." Keduanya saling dorong mendorong untuk masuk lebih dulu.
Suster yang menunjukkan arah tadi menggelengkan kepala, ia mendekati keduanya dengan tangan berada di kantong baju. "Jika ingin masuk maka masuk saja, dia tidak mengalami luka parah. Hanya luka ringan saja, dia tidak sadarkan diri karena mengalami syok."
Setelah mendengar penuturan suster, keduanya menghembuskan napas lega. Serentak, mereka memilih membuka pintu yang juga menyebabkan pertengkaran.
"Aku duluan yang masuk!" Si tua mendengus marah.
Bibirnya cemberut sama seperti si adik yang tampak tidak senang. Si tua bergerak mendorong si adik menyebabkan si adik terjungkal ke belakang.
"Kuharap kalian berdua tidak menggangu pasien di dalam maupun pasien lain. Jika kalian menyebabkan keributan maka aku akan memastikan kalian diusir oleh petugas keamanan." Suster itu meninggalkan keduanya.
Gelengan kepala si suster menyebabkan si adik bertambah kesal dengan tingkah kakak tertuanya itu. Si adik masuk kemudian sebelum wajahnya bertabrakan dengan punggung si tua.
"Kenapa kau berhenti sembarangan? Kau bisa berdiri di tempat lain selain di sini, jika aku berdiri di sini maka orang lain akan menabrakmu." Si adik mendorong si tua kasar ke depan.
"Alika," bisik si tua lemah.
Ia melangkah pelan ke depan secara acak, kakinya bergerak tidak beraturan menyebabkan ia kadang tersandung kaki sendiri. Alika di sisi lain terbaring dengan nyaman di tempat tidur, bahkan ia tidak bergerak ketika mendengar suara rintihan pilu kakaknya.
"Apa yang harus aku katakan padamu saat kau bangun? Apa aku harus jujur atau malah berbohong tentang orangtua kita?" tanyanya pilu dengan air mata jatuh berderai.
Si adik yang melihat kesedihan sang kakak ikut menangis, ia melangkah pelan mengikuti langkah kaki sang kakak yang kacau. Ke-duanya sampai di samping ranjang tempat Alika berbaring, memeriksa keadaan Alika sesuai dengan apa yang dikatakan si suster tadi.
"Kau kenapa meninggalkan Alaska di kamar mayat? Sana pergi ke sana! Aku bisa menjaga Alika di sini sendiri," usir si tua pada si adik.
"Kak, sebagai anak tertua harusnya kau yang mengurus orangtua kita. Kau jangan lari dari tanggung jawab seperti ini dong, Kak!" jawabnya dengan malas.
Akan tetapi air mata si tua yang jatuh tidak bisa membohongi kesedihan yang coba ia tutupi.