Di sebuah kamar hotel sepasang anak manusia sibuk bergumul di bawah selimut. Suara desahan memenuhi setiap sudut ruangan. Mereka berdua benar-benar larut dalam percintaan panas hingga pagi menjelang.
Rey mengerjap perlahan saat sinar matahari pagi masuk melalui celah tirai jendela. Menatap wanita yang tertidur pulas di sampingnya sebelum bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Keluar dengan wajah yang lebih segar pria itu memakai kembali pakaian yang semalam dia biarkan berserakan begitu saja di lantai kemudian mengambil ponsel untuk mengirim sejumlah uang ke rekening wanita yang masih terlihat lelap.
Rey melangkah keluar hotel begitu saja meninggalkan wanita yang semalam memenuhi hasratnya yang menggebu lantaran gagal menemukan Rendi. Ya, kemarin pria itu sempat mendatangi rumah Rendi namun si empunya rumah tidak di tempat sehingga untuk melampiaskan kekesalannya dia pergi ke klab sebelum akhirnya bertemu dengan wanita penghibur dan berakhir di kamar hotel.
Rey mulai memacu pelan mobilnya mencari kafe untuk sarapan. Kebetulan ini hari sabtu jadi dia free. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di kafe langganannya. Keluar dari mobil setelah memarkirnya di halaman kafe, Rey masuk dan mencari tempat kosong di samping jendela, tempat favoritnya. Melambaikan tangan memanggil teman sekaligus pemilik kafe yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
“Hai, tumben pagi-pagi udah ke sini, seperti biasa?” tanya si empunya kafe.
“Yah,” balas Rey dengan senyum sangat manis yang menular pada lawan bicaranya sebelum berlalu untuk membuatkan pesanan pria itu.
Setelah menunggu beberapa saat Mira datang dengan baki berisi kopi dan cake. “Bis ngamar yah?”
“Lo tau lah gimana gue, rasanya beban gue hilang kalo udah lampiasin ke jalang, hahaha .... ” balas Rey terbahak seolah yang dibicarakannya adalah sebuah lelucon. Dia menyesap kopinya perlahan tanpa menyadari perubahan raut wajah wanita di hadapan yang merasa kecewa karena sikap cuek Rey padanya.
“Tobat lah, Rey, udah tua! Nggak pengen married lo?”
“Nggak ada istilah berumah tangga dalam kamus gue, gue nggak pengen terikat apapun,” tegas Rey penuh keyakinan membuat hati si penanya merasa tercubit. Tanpa Rey tahu apa yang akan terjadi beberapa hari ke depan.
“Nggak adakah secuil pun perasaan kamu buat aku, Rey?” Tentu saja hanya bisa Mira ungkapkan dalam hati, sambil berlalu dari hadapan pria yang membuatnya sakit hati. ”Aku tinggal bentar, ya." Mira meninggalkan Rey karena ada pelanggan lain.
Selesai dengan kopi dan cake-nya Rey bergegas pulang ke apartemen.
“Gue balik, Mir,” pamitnya sambil meletakkan lembaran uang berwarna merah di atas meja dan dibalas dengan lambaian tangan gadis itu. Rey berjalan keluar kafe dan kembali menjalankan mobil.
Jalanan ibu kota pagi ini sedikit lengang sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen. Rey memarkir mobil kemudian menyeret langkah menuju lift, masuk dan menekan tombol di mana unitnya berada.
Ponsel berdering menampilkan nama Roy, sang anak buah yang kemarin dia tugaskan untuk mencari keberadaan Rendi.
“Halo, Roy!”
“Rendi dirawat di rumah sakit Permata Medika, Bos,” jawab Roy di seberang.
Ting
Pintu lift terbuka
“Oke, kita ....”
Bhugh!!
“Aduh! Maaf,” ungkap gadis berjilbab yang terlihat buru-buru masuk ke dalam lift. Rey menatap sekilas gadis itu sebelum kembali sibuk dengan ponsel.
“Oke, kita ke rumah sakit Permata Medika siang ini!” lanjut Rey bisa didengar gadis yang baru saja menabraknya.
Jingga mengernyit sebentar kemudian berlalu. Dia baru saja keluar dari unit Aron yang berada di lantai yang sama dengan unit Rey.
Semalam saat datang ke rumah sakit, pria itu lupa membawa pulang ponsel yang dia simpan di atas nakas kamar rawat Rendi.
Aron menemaninya sampai larut sehingga pagi-pagi sekali Jingga pergi ke apartemen pria itu untuk mengantarkan ponsel alih-alih meminta Aron mengambil sendiri ponselnya.
Seorang pengendara motor matic dengan seragam khas warna hitam hijau sudah menunggu di depan gedung. Menyerahkan helm pada Jingga setelah memastikan bahwa gadis itu adalah penumpangnya.
Jingga memerima helm yang disodorkan bang ojol kemudian mulai naik di jok belakang. Memutuskan pulang ke rumah terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan mengambil baju ganti sebelum kembali ke rumah sakit.
**
“Apa kabar, Pak tua?” Rey menyapa seseorang yang terbaring di brankar.
Rendi membuka mata terkejut mendapati orang yang dihindarinya berdiri di hadapan. “P- Pak Rey?” gagap Rendi.
“Bagaimana istirahatmu, Pak tua, nyaman?” Seringai iblis tergambar di wajah datar Rey.
Rendi terdiam beberapa saat menatap wajah bengis itu. “Sa- saya ....”
Sayangnya Rey tidak suka berbelit-belit. Dia mengeluarkan pistol dari saku jas kemudian menodongkan ke kepala Rendi.
“Bayar hutangmu atau kau mati!”
“Jangan, Pak.” Sontak Rendi menggeleng. “Bukankah anda sudah setuju dengan perjanjian kita?”
“Aku tidak tertarik dengan penawaranmu, aku tidak tertarik untuk menikahi putrimu. Bayar hutangmu atau kau kuhabisi!”
“Saya sudah tidak punya apa-apa, kalaupun menghabisi saya anda tidak akan mendapatkan apapun. Bukankah lebih menguntungkan jika anda menikahi putri saya?” Pria paruh baya itu masih mencoba bernegosiasi.
Tanpa keduanya sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan percakapan mereka. Luruh seketika air mata Jingga. Tak menyangka sang ayah yang dia tahu sangat menyayanginya tega menjual dirinya. Ya, Jingga ada di balik pintu, waspada kalau-kalau pria asing dalam kamar rawat sang ayah menarik pelatuk pistolnya.
Sebelum ke kamar rawat Rendi, gadis itu melihat beberapa orang yang kemarin dia pergoki sedang memukuli ayahnya. Jingga sempat khawatir. Setelah orang-orang tersebut berlalu atas perintah Rey, segera dilangkahkan kakinya menuju kamar rawat sang ayah. Tanpa disangka sesuatu yang menyakitkan dia dengar.
“Ini semua nggak benar kan, Yah?” Jingga bertanya dengan linangan air mata. Tak percaya dengan percakapan yang baru saja didengar. Gadis itu masih terpaku di belakang pintu.
“Nak ....” Rendi yang tidak menyangka Jingga berdiri di sana tidak bisa berkata-kata, terlalu terkejut dengan kedatangan putrinya.
“Kenapa, Yah? Kenapa Ayah tega lakuin ini? Aku pikir selama ini Ayah menyayangiku, tapi ini ...?” Gadis itu tak kuasa melanjutkan ucapannya saat tetes demi tetes air mata jatuh semakin deras.
Bagaimana mungkin seorang ayah tega menjadikan putrinya jaminan untuk membayar hutang? Sungguh di luar logika Jingga.
Deg!
Jantung Rey berpacu lebih cepat saat berbalik menghadap pintu dan menemukan kedua netranya bersitatap dengan netra Jingga. Rupanya gadis itu.
“Bukankah ini cewek yang tadi pagi nabrak aku depan lift?” tanya batin Rey. Begitupun Jingga yang masih mengingat-ingat kapan bertemu pria ini.
“Ayah ingin kamu bahagia, Nak.” Mata Rendi berkaca-kaca menjawab pertanyaan sang putri. Rendi tentu punya alasan melakukan hal itu hanya saja belum bisa memberitahu putrinya untuk saat ini.
“Dengan cara seperti ini? Bagaimana mungkin aku akan bahagia hidup dengan orang yang bahkan tidak aku kenal?” Jingga tidak habis pikir dengan tindakan ayahnya.
“Pckk, drama! Sepertinya akan menarik kalo aku terima tawaran pak tua ini.” Kembali batin Rey bersuara.
Nyatanya pria kejam itu tidak bisa menolak pesona Jingga yang memang cantik. Wajahnya terlihat natural tanpa polesan make up, kulit seputih kapas, hidung mancung dan manik cokelat sewarna madu, jangan lupakan rambut hitam lurus yang tertutup jilbab dan belum Rey lihat tentunya.
Tapi egonya tersentil menerima penolakan gadis itu. Reynand yang selama ini menjadi idola para wanita bahkan dengan suka rela menyerahkan tubuh mereka, kini ditolak seorang gadis yang akan dijadikannya b***k.
“Oke, aku terima tawaranmu, Pak tua,” seru Rey membuat Rendi terkejut sekaligus bahagia karena berpikir Jingga jatuh ke tangan yang tepat. Tanpa pria paruh baya itu tahu bahwa neraka dunia yang diciptakan Rey untuk putrinya akan segera dimulai.
“Maaf, tapi aku bukan barang yang bisa kalian pakai sebagai alat pelunas hutang,” sanggah Jingga dihadiahi tatapan tajam Rey. Tapi gadis itu tidak peduli.
“Apa kamu punya pilihan, Nona? Di sini aku yang berkuasa. Ayahmu akan mati jika kamu tidak mau menyerahkan diri padaku,” ucap Rey datar.
“Jingga, menikahlah dengan pak Rey. Walau Ayah lakukan ini dengan cara yang salah tapi Ayah yakin kamu akan bahagia bersamanya,” mohon Rendi pada putrinya.
“Aku nggak mau, Ayah!”
“Aku nggak terima penolakan!!” Rey menoleh ke arah Rendi sebelum melanjutkan.”Lusa sore aku akan menikahi putrimu sebagai pe-ne-bus- hu-tang.” Rey menekan dua kalimat terakhir kemudian mendekat ke arah Jingga “Persiapkan dirimu untuk menerima siksa dunia dariku,” bisiknya tepat di samping telinga gadis itu.
Rey kembali mengalihkan tatapannya pada Rendi. “Kami akan menikah di sini, di ruang rawat ini, karena aku tidak akan sudi memperkenalkan seorang istri pada siapa pun, kau tidak punya pilihan, Pak tua,” ucapnya tanpa meminta persetujuan kemudian berlalu begitu saja.
Jingga hanya bisa pasrah. Apa yang bisa dilakukannya saat ini? Menolak pun percuma karena pria yang baru saja berlalu itu luar biasa keras kepala. Entah apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka nanti.
Dulu gadis itu memimpikan pernikahan indah dengan pria yang dia cintai dan tentu mencintainya. Tapi rupanya itu benar-benar hanya mimpi dan takkan jadi kenyataan.
Rendi menghela nafas berat, merasa bersalah dengan keputusannya. Melihat sang putri terlihat putus asa membuat hatinya merasakan sakit. Tapi dia punya keyakinan bahwa ini yang terbaik untuk sang putri. Semoga saja yang diyakininya benar.