Di dalam kamar apartemen seorang pria menggeliat bangun dari tidurnya saat hari mulai pagi. Semalam menemani Jingga membuatnya lumayan mengantuk hingga terlambat bangun padahal hari ini ada kuliah.
Mengucek mata yang terasa berat dibuka dia mengedarkan pandangan hingga tatapannya berhenti di atas nakas. Ponselnya tergeletak di sana. Aron mengernyit, dia ingat semalam lupa membawa pulang ponselnya, kenapa sekarang sudah ada di atas nakas?
“Jingga ke sini,” gumamnya.
Pagi tadi Jingga hanya menyimpan ponsel Aron di atas nakas tanpa membangunkan pria itu. Jingga bisa masuk apartemen karena Aron memberikan akses untuk gadis itu.
Aron beranjak dari tempat tidur, masuk kamar mandi kemudian keluar kembali setelah merasa segar selesai membersihkan diri. Mengambil kaos berwarna hitam dan kemeja biru tua dipadukan dengan celana jeans hitam kemudian memakainya. Menatap sebentar ke arah cermin memastikan tampilannya sempurna seperti biasa.
Meraih ponsel di atas nakas pria itu mencari kontak seseorang untuk melakukan panggilan. Dering ketiga baru ada jawaban dari seberang.
“Assalamualaikum, Ar.”
“Waalaikumussalam. Tadi anterin ponsel aku?”
“Iya, maaf ya nggak bangunin karena aku liat kamu nyenyak banget tidurnya, aku nggak tega,” jawab Jingga panjang kali lebar membuat Aron terkekeh.
“Tapi sekarang aku telat, Nona.” Tidak bermaksud menyalahkan hanya berniat menggoda gadis itu.
“Yaah .... ”
“Canda, masuk siang kali,” potong Aron cepat. “Nih udah mau jalan, pulang kuliah aku mampir. Duluan ya, bye, Ga,” lanjutnya sambil menyampirkan tas ke pundak.
“Bye, ati-ati, ya.” Aron menjawab dengan anggukan, tanpa sadar Jingga ada di ujung telepon.
Perhatian kecil seperti ini yang kerap kali membuat pria itu merasa bahagia. Membuatnya tersenyum sendiri. “Pingin banget aku ngomong sama kamu kalo aku sayang, aku cinta sama kamu, Ga. Tapi aku nggak punya keberanian untuk itu,” monolognya kemudian bangkit dan keluar apartemen.
**
Rey menatap padat jalanan ibu kota melalui kaca jendela ruang kerja. Mengingat kembali pertemuannya dengan Jingga di rumah sakit. Hatinya terasa mendidih mengingat penolakan gadis itu.
“Siapa kamu berani menolakku? Aku pastikan kamu akan terima akibatnya.” Geram, Rey membanting gelas dalam genggamannya.
Prankk!
Pintu terbuka kasar menampilkan sang sekretaris masuk dengan wajah khawatir.
“Apa yang terjadi, Pak?”
“Siapa yang suruh kamu masuk?” tanya Rey tajam saat melihat Seira masuk tanpa mengetuk pintu karena mendengar suara benda dibanting.
“Maaf, Pak, saya pikir Bapak kenapa-napa karena tadi ada suara ....”
“Keluar dari sini!!” bentak Rey kejam.
“Baik, Pak. Saya permisi.” Menghela nafas panjang Seira menutup pintu ruangan sang bos.
Sementara di dalam ruangan, sang bos sedang berpikir bagaimana cara memberitahu orang tuanya tentang pernikahan yang akan dilakukannya. Pasalnya selama ini pria itu enggan berumah tangga. Kedua orang tuanya juga sudah bosan menyuruhnya untuk menikah. Di usia Rey yang sudah menginjak tiga puluh satu tahun seharusnya pria itu sudah memiliki satu atau dua orang anak. Bahkan adik perempuan Rey sudah berencana untuk menikah.
Reynand Wiratmaja adalah putra kedua pasangan Nunik Banowati dan Daniel Wiratmaja. Kakaknya Lilian Wiratmaja tinggal bersama sang suami yang mengurus perusahaan di Singapura. Sementara adik bungsunya Clarissa Wiratmaja masih melanjutkan study di London bersama sang kekasih.
“Buat apa kasih tau mereka, toh cuma nikah siri, heheh ....” kekehnya dengan ucapan sendiri. “s**t! Kenapa jadi mikirin dia sih!” Pria itu melangkah menuju pintu, memilih keluar kantor untuk menyegarkan pikiran.
“Jadwal hari ini apa?” Rey bertanya pada Seira setelah keluar dari ruangan.
“Hari ini kosong, Pak,” jawab sang sekretaris.
Tanpa menjawab Rey berlalu, memasuki lift yang akan membawanya ke bawah menuju tempat parkir. Pria itu masuk mobil kemudian mendial nomor salah satu teman yang mengatur pertemuannya dengan wanita penghibur. Perlahan melajukan mobil menuju hotel tempatnya berjanjian.
**
“Gimana keadaan, Om?” Aron menepati janjinya pada Jingga untuk ke rumah sakit selesai kuliah.
“Om sudah baikan, kamu apa kabar, Aron?” Tadi malam saat Aron datang Rendi sudah tidur.
“Alhamdulillah Aron baik, Om.” Pria itu menimbang antara bertanya atau tidak perihal pengeroyokan yang dialami Rendi. Tentu dirinya ingin tahu, dia juga tidak bisa membiarkan begitu saja pelakunya berkeliaran di luar. Aron ingin melaporkan kasus ini pada pihak berwajib.
“Sebenarnya apa yang terjadi, Om? Kenapa Om bisa dikeroyok?” Aron memilih bertanya berharap Rendi bersedia menjawab jujur. Kalau masalahnya karena hutang mungkin pria itu bisa membantu.
“Ini semua kesalahan Om, karena tidak bisa membayar hutang.” Cukup terkejut karena Rendi berkata jujur tapi tentu saja tanpa membahas penumbalan sang putri.
“Mungkin Aron bisa bantu melunasi hutang Om, supaya orang-orang itu tidak mengganggu Om lagi?”
“Terima kasih tapi tidak usah, Nak, semua sudah selesai kok.” Rendi tersenyum pada pria muda di depannya.
“Eh, Ar, udah nyampe aja?” sapa Jingga dari arah pintu.
Tanpa ada yang tahu Jingga mendengar obrolan dua pria beda generasi itu. Dia baru saja selesai makan siang di kantin rumah sakit. Gadis itu terharu pada sikap Aron yang terlalu baik padanya. Kalau saja tidak ada hal yang membuatnya harus menikah mungkin Jingga bersedia menunggu Aron mengungkapkan perasaannya. Dia hanya pura-pura tidak tahu perasaan pria itu. Dan Jingga sendiri juga menyimpan perasaan yang sama tapi sama-sama tidak berani mengungkapkan.
Kini harapan Jingga benar-benar pupus. Dia harus menata hati untuk menghadapi kemungkinan terburuk pernikahannya dengan Rey. Mengubur dalam-dalam rasa untuk Aron yang entah sejak kapan mulai tumbuh dan baru disadarinya setelah semua terlambat.
“Iya, baru aja, dari mana?”
“Abis makan, laper,” balasnya seolah tak mendengar apapun walau dadanya terasa sesak.
Jingga tidak tahu harus bercerita atau tidak masalahnya pada Aron yang pasti akan membuat pria itu kecewa. Namun tidak bercerita juga bukan pilihan yang tepat dan akan membuatnya merasa bersalah karena mereka bersahabat sejak lama. Segala keluh kesah mereka bagi bersama.
Menghela nafas berat, Jingga menatap sahabat prianya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Ke taman depan bentar, yuk.” Aron meraih pergelangan tangan Jingga mengajaknya beranjak. Dia sangat peka pada perasaan gadis itu. Nyatanya bersahabat hampir empat tahun begitu membuatnya mengenal Jingga luar dalam hingga apapun yang dirasakan gadis itu selalu bisa dia tebak. Mereka bersahabat sejak pertama kali masuk kuliah.
“Aku ajak Jingga keluar bentar ya, Om?” ijinnya pada Rendi.
“Iya,” balas Rendi dengan senyum tersungging.
“Ada masalah apa?” tanya Aron menatap intens gadis di sampingnya. Mereka sudah sampai di taman rumah sakit dan duduk bersebelahan di kursi taman.
“Ng- nggak ada apa-apa kok.” Jingga gugup, belum pernah sekali pun dia menyembunyikan sesuatu dari Aron. Sekarang harus dia jawab apa? Tidak mungkin Jingga menyakiti hati pria itu dengan mengatakan hal sejujurnya.
“Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" tanyanya penasaran.
Jingga menggeleng.
"Aku terlalu kenal kamu, Ga. Bukan sehari dua hari kita bareng.”
“Nggak ada, Ar, aku cuma khawatir aja sama keadaan ayah,” kilahnya tanpa menatap ke arah pria itu. Tidak sepenuhnya bohong karena gadis itu memang mengkhawatirkan keadaan Rendi.
“Aku tunggu sampai kamu siap cerita.” Mengerti kegundahan hati Jingga, Aron memilih tidak memaksa membuat si gadis tersenyum, namun bukan senyum tulus seperti biasa. Terdapat kesedihan dalam sorot mata Jingga. Aron mengerti itu.
“Gimana hari ini di kampus?” tanya Jingga mengalihkan pembicaraan.
“Kamu ditanyain sama Pak Hanif, katanya suruh siapin bab selanjutnya.” Pak Hanif adalah dosen pembimbing skripsi Jingga.
Kembali gadis itu tersenyum, kali ini lebih tulus karena bahagia bab sebelumnya sudah acc. Tapi kemudian senyum itu lenyap saat mengingat pria yang kemarin memaksanya menikah. Bahkan skripsi belum selesai, apakah kuliahnya juga akan putus? Mengingat itu membuat Jingga lagi-lagi menghela nafas berat dan itu tak luput dari perhatian Aron.
Tapi pria itu memilih diam, dia akan menunggu sampai Jingga benar-benar siap cerita tanpa tahu bahwa gadis yang dia harapkan akan pergi dari hidupnya.