Klik. Pintu kamar terbuka.
Andrew sudah memakai pakaiannya lagi. Dia melihat ke arah pintu. Nampak mamanya sedang berjalan masuk ke kamar.
“Andrew ... gimana sama Lea? Enak?” tanya Lies yang membuat Andrew sangat geli.
“Apanya, Ma?!”
“Itu ... semalam sama Lea gimana?”
“Itu Lea semalam tidur di kamar mandi. Aku menguncinya disana.”
“Hih kamu! Masa Lea kamu kunci di kamar mandi, sih!?” dengus Lies.
Andrew dengan cueknya berjalan keluar dari kamar ini. Dia berlagak tidak ada apa-apa. Berusaha menyembunyikan dari mamanya.
“Udah aku buka kuncinya kok, Ma,” jawabnya dingin hingga membuat gemas mamanya.
“Anak ini memang ya!” teriak Lies yang kesal dengan jawaban anaknya sendiri.
Lies mengetuk pintu kamar mandi.
“Lea? Lea ini Tante Lies. Tante buka pintunya ya.”
Sebelum Lies membuka pintu, kepala Lea sudah nongol. “Eh, kenapa, Tante?”
“Kamu semalam tidur di kamar mandi? Andrew benar-benar!”
Lea tersenyum sinis. “Kayaknya momen pas nih untuk memojokkan Andrew,” batin Lea.
Lea tiba-tiba membuat raut wajah memelas. “Iya, Tante ... Aku cuma dikasih selimut aja disini. Aku tidur di bathtub.”
“Kamu tidur di bathtub semalaman?!” tanya Lies kaget. Matanya memerah.
Lea tambah memelas wajahnya, “Iya, Tante ....”
“Haduh anak itu tidak tahu cara memperlakukan wanita. Kamu gak apa-apa kan, Lea? Aduh, maafkan anak Tante ya. Tante jadi gak enak.”
Lea sedikit meringis. “Eh, Tante gak perlu minta maaf kok. Lea gak kenapa-napa.”
“Nanti Tante minta dia yang minta maaf sama kamu, ya. Kamu mau beres-beres, ya setelah ini?”
“Iya, Tante,” jawab Lea, mengangguk lembut. Masih dengan paras memelasnya.
Lies menunduk seolah ada sesuatu yang melintas di otaknya.
“Mmm, ya sudah kamu santai saja. Tante keluar dulu.”
Lea hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
Lies berjalan keluar kamar. Dia hendak mencari Andrew.
Brak!
Lies membuka pintu kamar Andrew yang ternyata tidak terkunci itu.
“Ma! Ketuk dulu Maaa, aku tuh baru pakai celana,” omel Andrew ketika Lies membuka pintu kamar.
Andrew segera mengangkat celana jinsnya itu dan menutup ritsleting-nya.
Lies memukul halus pundak anaknya itu. Dia kesal tetapi ini hanya candaan antara ibu dan anak. “Anak nakal! Anak nakal!”
“Ma, Maaa.” Andrew berusaha menepis tangan mamanya itu. Ada sedikit ringisan yang tergores di bibir Andrew.
“Mama itu membesarkan kamu bukan untuk menyuruh seorang wanita tidur di bathtub. Hih!”
Sekarang, jemari Lies berpindah ke telinga Andrew. Menjewernya.
“Aduh duh, Maaa. Kenapa, sih?!”
“Minta maaf sana sama Lea.”
Lies melihat kunci mobil berada di rak sebelah ranjang. Dia menyamber kunci itu dan menggenggamnya erat.
“Kalau kamu tidak minta maaf, kamu pulang jalan kaki. Huh!”
Lies melangkahkan kakinya keluar dari kamar Andrew dengan kesal. Dia bermaksud meninggalkan Andrew di hotel dan tidak pulang bersama mereka.
“Maaa!” panggil Andrew saat mamanya keluar dari kamar.
Lies berjalan ke kamar mamanya Lea.
“Mbak Leoni?” panggil Lies sambil mengetuk pintu.
Pintu terbuka. “Kenapa, Mbak?”
“Sepertinya rencana semalam tidak berhasil, Mbak. Gimana ya?”
Mata Leoni menyipit di celah pintu kamar yang terbuka. “Besok kita cari ide lain lagi, Mbak. Ini si Ellen sedang rewel minta pulang.”
“Iya e, Mbak. Masa semalam Lea disuruh tidur di dalam kamar mandi. Cuma dibawain selimut. Maafin anak saya ya, Mbak.”
“Dah, Mbak gak apa-apa. Lea nya juga nyebelin kok.”
“Bener lho ini, saya minta maaf. Ya udah Mbak kita pamit pulang duluan ya?”
“Iya Mbak tidak apa-apa. Ini saya juga mau pulang. Lea bawa mobil sendiri kemarin,” ujar Leoni, kepalanya berada di celah pintu itu.
“Sampai ketemu lagi, Mbak Leoni.”
Leoni melambaikan tangannya di dekat wajah. Mereka kemudian berpisah disitu.
Lea. Lea sedang membereskan bajunya setelah mandi kilat. Dia ingin segera pulang mengecek pouch pesanan klien. Tokonya kehabisan stok pouch polkadot tersebut.
Lea menggerutu, “apaan, sih? Pasti dia sengaja meninggalkan kuitansi ini disini deh. Biar aku terhantui.”
Dia memasukkan kuitansi itu ke dalam tas jinjingnya berisi pakaian. Kemudian, dia menutup ritsleting itu.
“Masih jam sebelas kan. Check out bisa jam 12. Aku mau tiduran bentar dulu. Badanku sakit semua rasanya. Sial emang,” gerutunya dalam hati.
Dia membaringkan badannya di ranjang. Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar dan langsung membukanya.
Klik.
“Oh! Mama,” pekik Lea, mengangkat kepalanya dari bantal.
“Ellen rewel banget ini minta pulang. Udah ditunggu di mobil. Mama dan yang lain pulang duluan ya, Lea?”
“Iya, Ma gak apa-apa. Nanti aku bisa pakai gps kok. Daaa! Hati-hati ya, Ma.”
Lea melambaikan tangan ke mamanya.
“Ya, Nduk*. Daaa Lea!”
Kemudian, Leoni menutup pintu itu pelan. Lea menaruh kepalanya lagi di bantal.
Lea menyentuh layar ponselnya yang menyala. Dia membuka i********:. Satu foto yang membuat hatinya seketika hancur berantakan. Foto selfie Rey dan Sara sedang berlibur di pantai.
Lea menghela napas, “Mereka lagi. Mungkin mereka honeymoon. Toxic emang kalau aku masih punya akun mereka.”
Dia memilih untuk menutup aplikasi itu dan memutar musik.
“You’re the only touch yeah they get me melting. He’s my favorite flavor always gonna pick him .... Ice cream chillin chillin ice cream chillin!”
Kepala Lea mengangguk-angguk menikmati musik terbaru dari Blackpink itu.
*Nduk adalah sebutan sayang untuk anak perempuan di Jawa.
Satu jam berlalu...
Lea bangkit dari tempat tidur. Dia masih menyanyi, “Ice cream ....”
Sebelum benar-benar pergi, Lea memoles lipstik glossy berwarna merah muda. Dia berkali-kali mengatupkan bibirnya di depan cermin.
“Dah!” tuturnya sembari memasukkan lipstik itu ke dalam tas jinjingnya, bukan yang berisi pakaian.
Kini Lea sudah berada di meja resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar.
“Makasih ya, Mbak,” ucap Lea memberikan sedikit senyuman pada petugas resepsionis itu.
Saat membalikkan badan, Lea mendengar adanya suara gemuruh. Tanda bila hujan akan segera tiba.
Lea menghela napas. “Haaah, udah mau hujan aja. Padahal masih jam segini.”
Dia melangkah menuju ke parkiran mobil. Kali ini Lea harus menahan lapar. Tadi pagi hanya ada sarapan roti tawar saja yang disediakan hotel. Dia berencana ingin makan di salah satu warung ayam geprek di Jogja. Ayam geprek kuah tongseng.
Pip pip.
Alarm mobil Lea langsung berbunyi ketika dia memencet tombol remote yang dia bawa. Hendak membuka pintu mobil, dia melihat Andrew duduk di bawah pohon beringin kecil. Pohon itu dikelilingi oleh tempat duduk yang terbuat dari semen.
“Eh?” lirih Lea, “ngapain kamu disitu?”
Wajah Andrew terlihat sangat kesal. Tangannya menggenggam ponsel.
Andrew menoleh kaget. “Bukan urusan kamu.”
“Mm oke. Bye.”
Lea melihat sekeliling. Mobil mewah Andrew tidak ada di parkiran ini lagi.
Lea pun tertawa bahagia. “Kamu ditinggal? Haha.”
“Apaan, sih?!”
“Kenapa gak pakai taksi online, kan bisa?”
“Mamaku mengambil sejumlah uang dari dompetku. Kartu-kartuku juga.”
Dengan jawaban Andrew seperti itu, Lea semakin terkekeh. “Kasian amat.”
***
Para pembaca tersayangku, bantu tap love juga ya untuk cerita ICE CREAM WITH BENEFITS!
Ceritanya nggak kalah seru kok sama Lea dan Andrew ini. Kuy!
Blurb:
Dengan pikiran yang buyar akibat alkohol, Gisel menarik pergelangan tangan si pria bule itu. “Tidurlah denganku?!”
Berani-beraninya dia mengajak pria asing tidur dengan dia? Bagaimana kelanjutan kisahnya?